Don't Hope

Don't Hope
#7



"Jika dirimu mu pun tak yakin, maka pergilah."


Dara.


___________________________________


"Bunda, Daranya jangan ditampar, bun." Kata Reyhan langsung menghampiri Dara.


Dara yang kebingungan hanya bisa terdiam seraya meneteskan air mata.


"A-ada apa?" Tanya Dara pelan.


Bunda Dara yang bernama Aminah menangis.


Ayah Dara yang bernama Syarif menatap Dara tajam. Sedangkan kedua orangtua Reyhan menatap Dara penuh kecewa.


"Nak Rey, boleh ayah pinjam HP-nya?" Tanya Syarif.


Reyhan mengangguk dan menyerahkan ponselnya yang masih menyala menampilkan sebuah foto.


Syarif bangkit dari duduknya dan menghampiri Dara.


"Ini apa?" Tanya Syarif datar sambil menunjukkan foto itu didepan Dara.


Dara membulatkan matanya. Sontak Dara menggeleng. Sekarang ia paham yang sebenarnya terjadi.


"Ini nggak seperti yang ayah pikirkan, Dara nggak seperti itu, yah." Kata Dara cepat.


"Nggak seperti apa? Foto ini dengan jelas kamu pelukan sama laki laki dibelakang sekolah? Kamu perempuan sendiri Dara!" Kata Syarif berusaha untuk tidak menbentak putrinya.


"Tapi itu nggak sengaja ayah, Dara difitnah."


"Dara, aku nggak nyangka kamu kayak gitu, kamu tau aku udah percaya kamu itu nggak bakalan deket sama laki laki, tapi ini-" Kata Reyhan dengan nada sedih.


"Hiks ... hiks ... Rey, hiks ... tadi kamu yang nyuruh aku buat ke belakang sekolah karena Risa nyariin, kamu bohong!" Bentak Dara.


Reyhan membulatkan matanya. "Aku nggak pernah nyuruh kamu ke belakang." Kata Reyhan dengan raut wajah tak tau.


"Cukup Dara!" Bentak ayah Reyhan yang bernama Angga.


"Setelah ketahuan, kamu berani menuduh anak saya?" Kata Angga.


Dara menggeleng, air mata mengalir deras di pipinya.


"Jangan melibatkan orang lain untuk kesalahan yang kamu lakukan. Ternyata saya salah telah menjodohkan kalian. Maaf Syarif, saya memutuskan, perjodohan ini batal!" Kata Angga penuh penekanan.


Syarif menunduk. "Maafkan kelakuan putri saya Angga, saya telah gagal mendidiknya," ucap Syarif.


"Ayah ...," ucap Dara lirih.


"Kami permisi," ucap Angga, kemudian meninggalkan kediaman Syarif.


Reyhan berhenti saat berada disamping Dara.


"Udah kubilang bakal membatalkan perjodohan ini gimanapun caranya," bisik Reyhan. Dara menatap Reyhan dengan mata yang penuh air mata.


Reyhan, Reyhan. Tega bener lu jadi laki.


Flashback Off


Mata Reyhan mengembun. Ia tak menyangka perbuatannya itu mengakibatkan sikap orang itu berubah.


Reyhan sadar kesalahannya sangat fatal, ia menuduh seorang gadis yang tidak bersalah sama sekali.


Setelah kejadian itu, Reyhan bahagia. Namun, keesokan harinya. Ia melihat Dara yang terus murung bahkan tak keluar kelas.


Seharusnya Reyhan senang karena tak ada yang mengejar, menganggu, dan mengikutinya setiap saat. Tetapi, entah kenapa hati kecilnya berkata lain.


Hatinya turut sedih melihat gadis itu tak seperti biasanya. Bahkan saat Reyhan masuk ke kelasnya, Dara hanya menatapnya sekilas kemudian mengalihkan pandangannya. Biasanya mata Dara akan berbinar dan langsung menghampiri dirinya.


Setiap ia berpapasan dengan Dara, Dara hanya diam, raut wajahnya datar. Hanya Risa yang menunjukkan muka sinis jika sedang bersama Dara atau berpapasan dengannya.


Reyhan berusaha menepis perasaan itu berkali kali namun tak bisa, dirinya terus dihantui rasa bersalah. Hingga saat hari kelulusan, ia tak melihat Dara. Reyhan berniat bertanya pada Risa, tapi Risa juga tidak ada.


Reyhan bertanya pada teman Dara yang lain, tapi jawaban mereka tidak tau.


Hingga Reyhan nekat datang ke rumah Dara dan menanyakan keberadaan Dara pada Aminah.


"Dara sudah berangkat ke Malang sama Risa, Rey," jawab Aminah.


Reyhan bingung, ia ingin menyusul. Tapi orang tuanya menyuruh Reyhan untuk pergi ke kota lain untuk kuliah. Reyhan tak bisa membantah ataupun menolak. Terpaksa ia menuruti kemauan orangtuanya.


Dan kini Reyhan berhasil pindah ke Malang dengan beberapa alasan yang pada akhirnya orangtua Reyhan setuju jika Reyhan pindah.


Reyhan menatap Ilham. "Oke gue akan jujur," ucap Reyhan mantap.


Ilham tersenyum seraya merangkul pundak Reyhan. "Gituuu dong. Itu baru namanya cowok sejati!" Seru Ilham senang.


_____


Dara membantu Risa untuk meminum obatnya.


"Aku bisa sendiri, Ra. Kamu kerja aja, deh." Kata Risa.


Dara menatap Risa tajam. "Ngusir?"


Dara mencebik.


"Nggak usah banyak alasan. Aku tau, kamu kalo nggak ada yang nemenin, tu obat pasti nggak bakal diminum. Dibuang malah." Omel Dara seraya merapikan piring.


"Aku jadi nggak enak, nih," ujar Risa lirih.


"Apa? Masakanku nggak enak?" Tanya Dara pura pura kesal.


Plak!


Risa menepuk keningnya. "Aku jadi nggak enak! Bukan masakanmu yang nggak enak." Kata Risa mulai bersemangat.


Dara tersenyum. "Gitu dong, udah ceria." Kata Dara kemudian beranjak untuk menaruh piring di belakang.


Setelah Dara kembali. Risa menatap Dara lekat.


"Makasih, Ra," ucap Risa.


"Sans aja kali."


Dara menyandarkan badannya di dinding kamar. Ia meluangkan waktu untuk beristirahat karena tidak bekerja.


Jadi kek sok sibuk, ya? Tapi kadang mereka kalau bekerja sampai malam. Jaga konter.


Pukul delapan malam, Alif sedang berada di warung nasi goreng Ilham untuk membantu Ilham.


"Nih, ini ni baru temen gue disaat suka maupun duka. Bukan kek si Reyhan, maunya gue bantuin, gue suruh kesini jawabnya ... ogah." Kata Ilham mirip ibu ibu yang sedang mengomel.


"Astaghfirullah, nggak boleh gitu, Ham," ucap Alif.


"Abisnya gue kesel banget. Tadi siang maksa gue buat ketemu di kafe, ini gue minta buat datang kesini bilangnya sibuk. Emang bener bener, sibuk apaan coba? Kok ada orang kek begitu."


Ilham mengatakan semua itu sambil masak.


Alif menggelengkan kepalanya. "Tapi Reyhan itu tetap teman kamu, lagian kamu jangan marah marah, lagi masak lagi. Kedengeran pembeli kamu nanti, kalo mereka kabur gimana?" ujar Alif seraya mengambil piring berisi pesanan nasi goreng dan mengantarkan ke depan.


Keduanya kembali sibuk dengan tugas masing-masing, Ilham tak lagi mengomel.


Jam sudah menunjukkan pukul 23.00. Ilham menutup warungnya.


"Waduh, makasih banget, Lif. Lo sampe belum tidur jam segini gegara bantuin gue." Kata Ilham tak enak.


"Nggak papa," ucap Alif seraya tersenyum.


"Lo mau makan nasi goreng dulu? Kagak usah bayar, gue traktir, lo pasti belom makan."


Alif menggeleng. "Nggak usah, Ham. Ini udah malem, ntar dicariin umi."


"Udah gede gini, masih dicariin umi?" Tanya Ilham.


"Umi sendiri di rumah. Tadi aku izin sampe jam setengah sepuluh, ini udah lewat.


"Ehhh, sorry, ya. Duhhh nggak enak gue."


Alif menepuk pundak Ilham. "Nggak papa, ya udah aku pamit, ya."


"Ehhh tunggu!" Ilham menahan Alif.


"Sebelum lo pulang, gue mau kasitau sesuatu."


Alif diam, menunggu Ilham melanjutkan ucapannya.


"Reyhan udah mau jujur, terus dia udah mantap mau ngelamar Dara." Kata Ilham antusias.


Alif terdiam. Raut wajahnya sempat terkejut. Namun hanya sebentar, setelah itu ekspresinya kembali datar.


Alif mengalihkan pandangannya.


Reyhan menyadari ada yang tak biasa pada Alif melambaikan tangannya didepan wajah Alif.


"Lif? Lo kenapa?"


Alif tersadar. "Oh, nggak papa. Bagus kalau Reyhan mau jujur, aku ikut bahagia. Ya udah, aku pamit, Ham. Assalamu'alaikum," ucap Alif seraya tersenyum tipis.


"Wa'alaikumussalam, hati hati," ucap Ilham yang dijawab anggukan oleh Alif.


Ilham sempat bingung melihat temannya itu. Tapi sebenarnya, Ilham itu orang yang peka.


"Ada yang nggak beres lagi, nih. Pertama si Reyhan yang gak beres, sekarang Alif."


Nanti si Ilham lagi yang nggak beres.


____________


Jujur saja ku tak mampuuuuuuu ...


Hilangkan senyummuuu di haaatikuuuuuuu ..... eaaak


Jangan lupa makan ygy.


Utamakan baca Al-Qur'an