Don't Hope

Don't Hope
#3



#3


Dara meneguk hampir setengah botol. Pagi pagi perasaannya sudah tak karuan. Berani beraninya Reyhan memegang tangannya.


Tak lama kemudian Risa datang dan langsung menghampiri Dara.


"Ra, kamu nggak papa kan?" Tanya Risa cemas.


Dara menarik napas lalu menghembuskannya perlahan, ia tersenyum tipis, kemudian menggeleng.


Tunggu!


"Kamu lihat kejadian di tangga kampus tadi?" Tanya Dara.


Risa tersenyum tak enak. Kemudian mengangguk pelan. "Iya," jawab Risa.


Dara hanya mengangguk pelan, tak ingin bertanya lagi.


"Oh iya, Ra. Ini aku beliin kebab." Kata Risa sembari mengeluarkan kebab dari plastik.


Saat mereka sampai kampus, Risa bilang ingin pergi membeli kebab yang berada didepan kampus. Sebenarnya itu hanya alasannya saja, karena selain membeli kebab, Risa juga menemui Ilham dan Reyhan.


"Ini traktir kan?" Tanya Dara dengan nada bercanda.


"Iya, gantian, kemarin kamu udah traktir aku nasi goreng." Kata Risa.


"Makasih."


"Iyaaa."


Sepulang dari kampus, kedua sahabat itu menuju masjid untuk menunaikan sholat Dhuhur. Selesai sholat mereka akan langsung pergi ke konter, namun, sebelum ke konter, Dara mengajak Risa untuk mampir ke toko buku.


"Udah tiga kali ini, tiap habis gajian kamu beli buku. Buat apa, sih?" Tanya Risa seraya melihat lihat buku buku yang tersusun rapi di rak.


Dara melirik Risa malas. "Pake nanya. Buku kan buat di baca, Ris." Kata Dara.


"Iya, tapi kok kamu tiba tiba aja gitu kek gini?"


"Aku kan suka baca," jawab Dara.


"Hm, ya udah, terserah kamu."


Saat akan membayar buku, Dara terkejut melihat kasirnya.


"Loh?" Ucap Dara spontan.


Kasir itu hanya tersenyum.


Ternyata kasir itu adalah laki laki yang kemarin bekerja di warung nasi goreng Ilham.


"Lho, mas kerja disini juga." Bukan Dara yang bertanya melainkan Risa.


"Saya memang kerja disini, kak," jawab lelaki itu seraya menghitung harga buku.


"Bukannya kerja sama Ilham, ya? Malam tadi, atau masnya kerja dua duanya?" Pertanyaan yang sedikit aneh, ya.


"Ooohh, saya nggak kerja tempat Ilham, kak. Kemarin saya kesana dan ternyata karyawan Ilham lagi sakit, saya gantiin aja," jawabnya.


"Berarti temannya Ilham, ya?"


Lelaki itu mengangguk seraya menyerahkan buku yang di beli Dara.


"Terimakasih," ucap Dara.


"Terimakasih kembali," ucap lelaki itu.


"Ayo, Ris." Ajak Dara.


"Bentar."


"Mas, kalo boleh tau nama mas siapa?" Tanya Risa membuat Dara meringis pelan. Malu maluin banget, sih, Risa.


"Alif."


"Saya Risa, mas, dan ini sahabat saya, Dara," ucap Risa cepat.


Alif mengangguk seraya tersenyum.


"Mas dari kapan temenan sama Ilham, mas sahabatnya Ilham, sebenernya Ilham punya crush nggak?" Pertanyaan beruntun dari Risa tak membuat Alif kesal. Sebaliknya, Dara sudah kesal dan pusing melihat kelakuan Risa.


"Jangan panggil saya mas, kak. Saya seumuran sama Ilham. Panggil Alif aja." Kata Alif.


"Kalo gitu jangan panggil kita kak, panggil nama aja."


Alif mengangguk sopan.


"Mas, eh maksudnya Alif. Ilham punya crush nggak?" Risa mengulangi pertanyaannya.


Dara yang sudah tak tahan langsung memegang lengan Risa.


"Ris, udah. Kamu ganggu mas nya kerja tau nggak. Kita juga udah telat, kita harus ke konter sekarang." Kata Dara kesal.


"Oh iya, sampe lupa. Ya udah Lif, lain kali aja aku nanyanya, maaf ganggu."


"Nggak ganggu sama sekali kok." Kata Alif seraya melirik Dara sekilas.


"Oke, kami pergi dulu. Assalamu'alaikum," ucap Risa.


"Assalamu'alaikum," ucap Dara.


"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab Alif kemudian menggelengkan kepalanya pelan.


"Ris, kamu malu maluin banget, sih. Cerewet boleh, tapi jangan cerewet ke sembarang orang." Kata Dara setelah mereka sampai di parkiran.


"Emang udah kebiasaan, Ra. Tapi nggak tau ya, aku kek enak aja gitu cerita sama Alif tadi, apalagi setelah tau kalo dia temennya Ilham. Ku kira temennya Ilham cuma Reyhan doang." Kata Risa malas saat menyebut nama Reyhan.


"Ya tetep aja, kamu kan baru aja kenal."


"Iya iya, sorry."


"Lain kali jangan gitu. Ya udah, ayok ke konter, udah telat, nih." Kata Dara sembari memasang helm.


Dara dan Risa sedang sibuk bekerja.


"Ra, aku mau ke toilet dulu." Kata Risa yang dijawab deheman oleh Dara yang kini sedang fokus pada komputer didepannya.


Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam. Hari ini jadwal mereka sampai malam.


"Permisi,"


"Iya," jawab Dara seraya berdiri dan melihat ke sumber suara.


Dara kembali mematung. Senyumnya luntur kembali.


"Kenapa mereka bisa kesini?" Batin Dara.


Risa kembali dari toilet.


"Loh, Ilham, Reyhan ... Alif? Kalian ngapain kesini?" Tanya Risa heran. Gegas ia menghampiri Dara yang mematung.


Risa memegang pundak pundak Dara. "Kamu lanjutin aja kerjaanmu, biar aku aja yang urus," ujar Risa pelan.


Dara mengangguk. Namun, saat akan kembali duduk, sebuah suara menghentikannya.


"Aku mau ngomong sama Dara," ucap Reyhan. Dara menoleh.


"Ngomong ya tinggal ngomong!" Kata Risa ketus.


"Penting," ucap Reyhan datar seraya menatap Dara.


Risa menatap Dara. Dara mengangguk. Ia menghela napas.


Dara menatap Reyhan.


"Apa?" Tanya Dara dingin.


Tatapan Reyhan berubah sendu, apa karena dirinya Dara jadi seperti ini?


"Bicara di sana, ini penting." Kata Reyhan. Tanpa menunggu persetujuan Dara, Reyhan berjalan dulu.


Dara menghela napas. Kemudian berjalan mengikuti Reyhan.


Risa, Ilham, dan Alif menatap keduanya. Risa dan Ilham menatap cemas, sedangkan Alif hanya menatap mereka datar.


"Terus kalian berdua ngapain kesini juga?" Tanya Risa.


Ilham tersenyum. "Pengen ketemu kamu."


Risa hampir saja terbawa perasaan. Ia menahan senyum. "Nggak usah gombal aku nggak baper, apa maksud dan tujuan kalian kesini? Terutama kamu Alif!" Kata Risa menatap Ilham dan Alif tajam.


Alif tersenyum paksa. "Emangnya saya nggak boleh kesini, ya?" Tanya Alif tenang.


"Loh, kalian udah saling kenal?" Tanya Ilham yang tak digubris oleh Risa.


"Sangat boleh, tapi kenapa kalian bertiga. Hiiiih! Masa kalian nggak paham sama maksudku, sih! Tujuan kalian nganterin Reyhan apa gimana?" Kata Risa kesal.


"Jangan marah, Ris. Cepet tua nanti." Kata Ilham seraya mengulum senyum.


"Aku nggak lagi bercanda, Ham. Kalo sampe Dara kenapa napa, kalian semua yang bersalah!" Kata Risa penuh penekanan.


"Eh, sorry, Ris. Enggak, tadi aku mau kesini emang nemenin Reyhan karena dia ngotot pengen ngomong sama Dara. Terus minta nomor Dara ke aku, tapi aku kan nggak punya, ya udah sebagai temen yang baik aku bawa kesini, sekalian mau beli kuota." Jelas Ilham.


Risa menatap dengan tatapan menyelidik.


"Terus, kamu Alif, ngapain kesini juga?"


"Wihhh, manggilnya udah nama aja, kek udah akrab." Kata Ilham dengan nada menyindir.


"Kamu diem dulu, Ham!" Peringat Risa.


Risa menatap Alif yang masih diam. "Ayo jawab, ngapain diem aja."


"Sama kayak Reyhan, nggak tau kenapa Ilham ngotot banget minta saya ikut dia," jawab Alif datar.


Ilham hanya terkekeh.


Risa menatap keduanya dengan tatapan mengintimidasi.


"Jujur gue bingung, tapi ya udah, duduk aja dulu. Nunggu si Reyhan ngomong sama Dara." Kata Risa.


Ilham dan Alif yang sudah menahan pegal dari tadi akhirnya bisa duduk dengan nyaman.


Dara dan Reyhan duduk berhadapan yang dihalangin oleh meja bundar. Dara melihat ke arah lain.


"Ra, aku ... aku minta maaf," ucap Reyhan pelan.


Dara tidak merespon, raut wajahnya datar.


"Aku tau ini udah terlambat banget, aku bingung dulu nyari kamu pas kelulusan. Waktu itu aku nyesel, aku nyari kamu ke rumah kamu, tapi kata bunda, kamu udah pergi ke Malang." Jelas Reyhan tanpa diminta.


Dara bergeming.


"Aku coba hubungin nomor kamu, tapi nomor kamu udah nggak aktif. Aku tanya ke temen temen kamu, tapi kata mereka kamu nggak ada ngasitau ke mereka." Kata Reyhan masih menjelaskan.


"Aku tau, aku udah keterlaluan. Aku nyesel banget, Ra," ujar Reyhan, matanya sudah berkaca kaca.


Dara tidak berucap sepatah katapun. Hanya matanya yang sesekali mengerjap guna menahan air mata yang memaksa hendak keluar.


"Ra, kamu jangan diem kayak gini."


Dara menarik napas perlahan dan menghembuskannya. Setelah tenang baru Dara menatap Reyhan.


"Aku harus ngomong apa?" Tanya Dara datar.


Reyhan terdiam sejenak.


"Aku minta maaf," ucap Reyhan lagi seraya menunduk.


"Aku udah maafin kamu," ujar Dara. Reyhan mendongakkan kepalanya. Matanya berbinar.


"Beneran?"


Dara mengangguk pelan. Reyhan tersenyum senang.


"Makasih," ucap Reyhan. Tangannya hendak meraih tangan Dara, namun Dara menariknya.


"Udah selesai kan? Kalo gitu aku balik kerja." Kata Dara datar kemudian berdiri. Saat hendak melangkah ...


"Kamu mau jadi pacar aku?" Tanya Reyhan yang entah dari mana keberanian untuk mengatakan kata itu muncul.


"Nggak!" jawab Dara singkat, padat, jelas, dan tegas.


Reyhan berjalan dan berdiri didepan Dara.


"Why?"


"Aku nggak mau pacaran," jawab Dara cepat.


"Bukannya dulu kamu bilang kamu cinta sama aku." Kata Reyhan. Dara menatap Reyhan tak percaya. Bagaimana mungkin dirinya dengan enteng mengatakan hal itu.


Bersambung ...