Don't Hope

Don't Hope
#11



Dara mulai mengemasi barang-barangnya yang akan ia bawa pulang. Besok terakhir masuk kampus sebelum liburan.


Setelah pulang dari kampus, Dara dan juga Risa berencana untuk langsung berangkat. Mereka sudah izin pada pemilik konter untuk cuti selama liburan.


Ketika liburan, biasanya Dara dan Risa bisa datang ke Malang untuk bekerja.


"Bakal lama nggak ketemu Ilham." Gumam Risa lirih yang masih didengar Dara.


Dara yang sedang melipat pakaian tersenyum tipis. "Bagus, dong," ucap Dara.


Risa melotot. "Kok bagus, sih?!"


"Kita pulang biar kamu juga bisa jaga pandangan, supaya nggak ngeliat Ilham terus," jawab Dara cuek.


Risa tak menanggapi, ia kembali sibuk mengemasi barangnya.


Merasa ada yang aneh, Dara menatap Risa.


"Ris, kamu kenapa? Apa kata-kataku ada yang salah?" Tanya Dara cemas.


Risa mendongak kemudian menggeleng. "Kamu nggak salah, Ra. Huft ... aku emang udah keterlaluan, aku sering mandang Ilham, padahal harusnya aku nundukin pandangan." Kata Risa.


"Dulu ... kita memutuskan berangkat ke Malang untuk kuliah. Berusaha buat tetep teguh pendirian, berusaha terus memperbaiki diri meski disini sangat jauh beda dengan tempat kita. Tapi semenjak ketemu Ilham, jujur aku emang suka sama dia, dan itu yang buat aku susah buat ngejaga pandangan dan hati aku," lanjut Risa. Ia menundukkan kepalanya, menyembunyikan mata yang sudah berkaca-kaca.


Dara memegang bahu Risa. "Ris, kamu jangan putus asa, ya. Ayo, kita terus berusaha, sungguh-sungguh. Bukan cuma kamu, aku juga masih harus berusaha melawan hawa nafsu. Pokoknya kita harus tetep semangat, terus belajar, kita juga perbaiki niat kita. Niat hanya karena Allah." Kata Dara seraya menatap Risa dan tersenyum tulus.


Risa tersenyum kemudian memeluk Dara erat.


"Makasih, Ra. Kamu udah mau jadi sahabat aku," ucap Risa, ia menitikkan air mata begitu juga Dara yang matanya sudah berkaca-kaca.


"Aku bersyukur. Alhamdulillah, Allah mempertemukan kita. Bismillah ... kita sama-sama berjuang, ya. Aku juga makasih karena kamu mau jadi sahabat aku." Kata Dara. Risa menangis haru.


***


Reyhan bersiap untuk pulang menemui orang tuanya. Ia menarik nafas kemudian menghembuskannya perlahan.


"Aku harus berani, apapun yang terjadi, itu konsekuensi yang harus aku terima."


Reyhan sudah selesai mengemasi barang-barangnya. Selama kuliah disini, Reyhan tinggal disebuah apartemen yang cukup elit.


Reyhan merupakan anak dari seorang CEO perusahaan atau Chief Executive Officer. Sebagai pewaris tunggal, Reyhan selalu dituntut orangtuanya untuk terus belajar. Sejak kecil ia merasa hidupnya terlalu dikekang oleh orangtuanya.


Orangtuanya terlalu sibuk sehingga tak memperhatikan Reyhan. Tapi Reyhan harus patuh pada setiap perintah mereka. Itulah mengapa Reyhan merasa orangtuanya tak adil terhadap dirinya.


Reyhan menghela nafas, ia sebenarnya tak ingin pulang. Tetapi, demi menyelesaikan masalah yang ia buat bertahun-tahun yang lalu, mau tak mau Reyhan harus pulang.


***


"Ra, ke kantin dulu, kan?" Tanya Risa.


"Iya," jawab Dara sembari melepas helmnya.


Dara dan Risa tidak sarapan di kost, mereka juga tidak membawa bekal. Sengaja, karena pagi ini mereka tidak memasak karena bahan-bahan sudah habis.


Keduanya berjalan beriringan menuju kantin. Raut wajah Risa berubah kala melihat Ilham dan kedua temannya sudah stand by di kantin.


Sedangkan Dara tetap pada ekspresi andalannya. Datar. Karena ia sudah terbiasa sering bertemu mereka.


Dara menggandeng tangan Risa kemudian berjalan tanpa ekspresi. Risa menunduk.


"Hai, Ris!" Sapa Ilham ramah seperti biasa.


Risa tersenyum tipis kemudian menunduk lagi. Dara hanya diam karena merasa namanya tidak disebut.


Ilham merasa aneh dengan sikap Risa yang tidak seperti biasanya. Jika Ilham sapa, biasanya Risa akan membalas dengan wajah yang ceria dan bicara. Tapi ini?


"Wah, bener-bener, ya, Dara. Selain berusaha menjauhkan Risa dari gue, keknya dia mulai menghasut Risa buat menjauh dari gue." Kata Ilham kesal.


"Jangan su'udzon," ucap Alif tanpa menatap Ilham, ia sibuk pada makanan dihadapannya.


"Ya gimana gue nggak berpikiran kek gitu? Yang sering ma Risa cuma dia doang. Trus Dara tu kek nggak suka gitu sama gue. Heran, punya dendam apa, sih Dara ma gua? Trus gue ada salah apa?" Omel Ilham tanpa sadar nada suaranya meninggi. Membuat Dara dan Risa yang tak jauh dari mereka mendengar perkataan Ilham.


Dara menarik salah satu sudut bibirnya. Tersenyum sinis. "Mirip emak-emak." Gumam Dara lirih, lirih sekali sampai Risa tidak mendengar.


Sedangkan Risa meringis. Bisa-bisanya Ilham bicara keras seperti itu.


"Ham, kedengeran orangnya," ucap Alif memperingati.


Ilham berbalik, kemudian spontan menepuk mulutnya. Tidak masalah jika yang mendengar hanya Dara, tapi Risa juga mendengar. Bagaimana dangan image-nya?


"Nggak bilang dari tadi!" Kesal Ilham menatap Alif.


Alif mengernyit. Kenapa dirinya yang disalahkan?


Sedangkan Reyhan hanya diam menyimak. Saat ini dirinya sedang diliputi perasaan gelisah, ia menatap Dara yang sedari tadi hanya menunjukkan ekspresi datar. Setelah mendengar perkataannya kemarin, apa Dara biasa saja atau bagaimana?


Reyhan juga sedang memikirkan bagaimana cara ia menjelaskan semuanya pada orangtuanya dan orangtua Dara.


Puk!


Ilham menepuk bahu Reyhan. Ia menatap Reyhan serius. "Santai," ucap Ilham serius. Reyhan menghembuskan nafasnya pelan.


Bersambung ...