Don't Hope

Don't Hope
#12



Dara bersiap untuk pulang, Risa pergi ke toilet sebentar dan Dara mengatakan akan menunggunya di parkiran.


Dara keluar kelas, kemudian ada dosen yang memanggilnya.


"Andara," panggil dosen itu.


Dara membalikkan badannya. "Iya pak?" Tanya Dara sopan.


"Kamu kenal dengan Alif Angga Pratama?" Tanya pak dosen yang Dara tahu namanya adalah pak Rendra.


Dara terdiam sejenak kemudian menggeleng. "Tidak, pak," jawab Dara. Dara hanya memperhatikan nama belakangnya.


"Tapi kamu tau Ilham, kan? Mahasiswa jurusan ekonomi?"


Dara mengangguk sopan. "Kalau Ilham saya tau, pak. Atau maksud bapak, Alif temannya Ilham?" Kata Dara.


"Betul, temannya Ilham. Jadi, ini tadi saya lagi mencari Alif, tapi kelihatannya dia sudah pulang. Karena kamu kenal, saya boleh minta tolong berikan ini ke Alif?" Kata pak Rendra sembari menyerahkan sebuah amplop berwarna putih yang Dara tidak tahu apa isinya. Dara sempat bingung, tapi kemudian mengangguk.


"Baiklah, pak. In syaa Allah akan saya berikan ini sama Alif." Kata Dara seraya mengambil amplop tersebut.


"Serius nggak papa, kan?" Tanya Rendra karena sempat melihat raut wajah bingung Dara.


Dara tersenyum. "Tidak apa-apa, pak," jawab Dara sopan.


"Baiklah, terimakasih, ya, Andara. Kalau begitu saya permisi. Assalamu'alaikum."


Dara mengangguk sopan. "Iya, sama-sama, pak. Wa'alaikumussalam," jawab Dara.


Dara menatap amplop ditangannya. Batinnya bertanya-tanya mengapa pak Rendra memintanya memberikan ini pada Alif.


"Dor!"


"Astaghfirullah'aladzim!" ucap Dara. Ia sangat terkejut.


Sedangkan yang mengangetkannya tertawa. Dan orangnya tak lain adalah Risa.


"Risa!" Bentak Dara namun tidak terlalu keras.


"Sorry," ucap Risa disela-sela tawanya.


Dara kesal, ia langsung melangkahkan kakinya memninggalkan Risa yang masih tertawa.


"Ra! Tunggu! Ihhhh, malah ngambek!" Teriak Risa kemudian mengejar Dara.


"Maaf, ya. Aku nggak tau kamu sampe kaget, biasanya juga enggak." Kata Risa saat sudah berada disebelah Dara.


Dara menggeleng pelan. "Habis ini kita ke toko buku dulu," ujar Dara datar.


Risa terperangah. "Hah! Ngapain? Kamu mau beli buku lagi? Aduuuhhh, Ra, belum lama beli buku, udah mau beli lagi. Yang kemarin aja belum kelar bacanya." Kata Risa membuat Dara memutar bola matanya.


"Aku nggak beli buku, ikut aja dulu." Kata Dara tanpa minat menjelaskan.


"Aku nggak tau rumahnya dimana, coba ke toko buku aja." Batin Dara.


Dara melajukan motornya menuju toko buku dimana ia membeli buku.


"Ngapain, sih, Ra?" Tanya Risa masih penasaran. Pasalnya saat dijalan tadi Risa terus bertanya tapi tak ditanggapi Dara.


Dara mengeluarkan sebuah amplop dari tasnya kemudian menunjukkannya pada Risa. "Aku mau kasih ini ke Alif, kamu tunggu sini bentar, aku nggak lama." Kata Dara kemudian berjalan masuk tanpa memperdulikan Risa yang terus memanggilnya.


Dara ingin segera memberikan amplop itu agar bisa cepat berangkat menuju Kediri.


Suasana yang tenang dan hening membuat Dara nyaman. Banyak buku berjejeran membuat Dara tertarik melihatnya. Namun, Dara segera menepis pikirannya itu dan bergegas menuju meja kasir.


"Assalamu'alaikum," ucap Dara.


Alif yang sedang membaca ayat suci Al-Qur'an menghentikan bacaannya.


Ia menutup Al-Qur'an nya kemudian meletakkan di atas meja.


"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab Alif. Ia belum mengetahui siapa yang mengucapkan salam tadi.


Ketika Alif mengangkat kepalanya ia sedikit terkejut kala melihat Dara yang berada didepannya. Berjarak dua meter dihalangi meja.


Cepat ia menundukkan pandangan begitu juga Dara.


"Ada apa?" Tanya Alif.


"Maaf mengganggu, ini, aku mau kasih ini. Tadi pak Rendra nyuruh aku buat kasih ini ke kamu." Kata Dara seraya menyodorkan amplop itu.


Alif memandang amplop itu, kemudian mengambilnya hati-hati.


"Dari pak Rendra?" Tanya Alif. Dara mengangguk.


"Oke. Makasih, ya," ucap Alif.


"Sama-sama. Kalau gitu aku pamit. Assalamu'alaikum," ucap Dara.


Alif tersenyum tipis. "Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab Alif.


Alif segera mengambil ponselnya yang ia letakkan di meja.


"Kenapa, bang?" Gumam Alif sembari meletakkan ponselnya di telinganya.


"Assalamu'alaikum bang Rendra," ucap Alif saat panggilannya sudah terhubung.


"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab Rendra.


"Kenapa? Amplopnya udah dikasih?" Tanya Rendra diseberang sana sembari terkekeh.


"Ini sama sekali nggak lucu. Kenapa abang nyuruh Dara buat kasih amplop ini?"


"Sengaja. Abang pengen tau gimana Dara yang membuat adek abang salah tingkah sendiri," goda Rendra. Alif memutar bola matanya jengah.


"Baik ternyata, sopan pula," lanjut Rendra.


"Kalo gitu, gas atuh dilamar," lanjut Rendra masih menggoda Alif.


"Emang mau sama aku? Kenal juga baru aja kok."


"Loh? Gimana, sih, kamu. Temuin orang tuanya, kalo belum kenal bisa ta'aruf juga, kan?"


"Sudah ada yang mau ngelamar Dara." Kata Alif datar.


"Hah? Who!"


"Teman aku," jawab Alif datar.


"Kamu, sih, kelamaan!"


Bersambung ...


Utamakan baca Al-Qur'an yaaaaa