
Seperti biasa, warung Ilham tampak ramai apalagi malam hari. Ilham yang sibuk menggoreng nasi dengan lihai diatas kompor, sementara Alif bolak balik mengantarkan pesanan.
Awalnya, Ilham pernah bercerita pada Alif kalau karyawannya sedang sakit. Karyawan Ilham hanya satu. Ilham mengeluh kelelahan jika harus mengerjakan semua sendiri.
Akhirnya Alif memutuskan untuk membantu Ilham selama karyawan Ilham belum kembali. Ilham senang, ia berjanji akan memberi Alif gaji setiap hari.
Alif menolak, namun Ilham memaksa dengan berbagai alasan, dari pekerjaannya cukup melelahkan, lumayan lama, dan lainnya. Jadi Alif hanya memgangguk menanggapinya.
Pukul 23.30 Ilham dan Alif menutup warungnya.
"Ham, besok teman kamu udah datang, kan?" Tanya Alif.
Ilham mengangguk. "Iya. Alhamdulillah tadi sore dia nelpon aku, katanya udah sembuh dan bisa balik kerja disini lagi," jawab Ilham.
"Hmm kalau begitu, besok aku nggak kesini lagi."
"Kalau mau kesini lagi juga nggak papa, Lif," ujar Ilham diakhiri kekehan kecil.
"In Syaa Allah aku kesini lagi." Kata Alif.
Mereka masih sibuk membereskan warung.
"Oh iya, Lif. Mengenai pembahasan tadi pagi dikantin. Gimana perasaan lo kalo Reyhan beneran ngelamar Dara?" Tanya Ilham hati-hati.
Alif terdiam.
"Lif?"
"Nggak papa," jawab Alif membuat Ilham menatap Alif serius.
"Lo nggak mau berusaha gitu? Lo nggak mau berjuang?" Mendengar pertanyaan Ilham, Alif pun menatap Ilham.
"Sebenarnya kamu mau Reyhan apa aku yang ngelamar Dara?" Canda Alif, ia tertawa kecil.
Ilham berdecak. "Ya, gue sebagai seorang cowok gitu, kan. Jadi gue, ya paham, cuma gue pengen tau aja perasaan lo."
"Aku mau berjuang. Tapi, Reyhan udah terang-terangan pengen ngelamar Dara. Aku perhatiin juga, Dara kayaknya masih ada perasaan ke Reyhan."
"Dan kalau diamati, Reyhan sama Dara itu udah kenal dari dulu, Reyhan juga sekarang mencoba untuk memperbaiki. Kalau aku tiba-tiba ngelamar Dara, gimana?" lanjut Alif. Ilham mendengarkan dengan seksama.
"Aku sama Dara baru kenal beberapa hari. Itupun belum kenal-kenal banget. Jadi, yaaa ... biar aja Reyhan berjuang," lanjut Alif.
"Lo ... sejak kapan mulai cinta sama Dara?" Tanya Alif.
Alif berpikir sejenak. "Dari kapan, ya? Dari ... sebelum Dara kenal aku," jawab Alif.
Ilham memukul meja. "Itu lo yang kelamaan, Lif. Lo nunggu apa ngelamar si datar itu? Nunggu ada yang ngelamar dia gitu?" Kata Ilham kesal.
"Nggak usah ketawa, jawab gue, lo nunggu apa?"
Alif menghentikan tawanya. "Aku mau kerja dulu, kuliah dulu, ngumpulin uang. Mau kukasih makan apa anak orang?"
Raut wajah Ilham berubah.
"Aku juga mau belajar jadi laki-laki yang bisa bertanggung jawab, dewasa, dan ketika berumah tangga, bukan hanya cinta dan materi, aku juga ingin bisa mendidik istri," lanjut Alif.
Ilham tertegun.
"Awesome! Pemikiran yang bagus, brother!" seru Ilham seraya menepuk bahu Alif.
Begitu ...
***
Dara menyandarkan punggungnya didinding kamar kost. Hari ini Dara masuk kelas siang. Jadi pagi ini ia memutuskan untuk menyelesaikan tugas-tugas kuliah.
Sedangkan Risa pergi ke taman kota untuk membeli jajanan. Padahal Risa sudah memaksa Dara untuk ikut, tapi Dara bersikeras menolak. Jadi, Risa pasrah dan pergi sendiri.
Dara menghela napas, perkataan Reyhan kemarin membuatnya sulit tidur. Meskipun sikapnya terlihat biasa saja, tetapi dalam hatinya ia merasa cemas.
Melamar? Semudah itu Reyhan mengatakannya?
Jujur? Apakah benar Reyhan seberani itu?
Dara tidak dendam, ia juga sudah memaafkan. Tapi, mengingat itu membuatnya kecewa lagi.
Dara sudah menceritakan semuanya pada Risa. Karena, Risa itu terus mendesak Dara untuk bercerita.
Liburan ini, Dara memang sudah niat untuk pulang ke Kediri.
"Astaghfirullah," ucap Dara. Ia mengusap wajahnya kasar kemudian kembali menegakkan punggungnya dan berusaha fokus pada tugas-tugas didepannya.
Berusaha untuk mengalihkan pikirannya tentang Reyhan.
Bersambung ...
**Assalamu'alaikum gaisss
Bagaimana kabarnya? masih sepi aja ni.😥
Utamakan baca Al-Qur'an ygy**