
"Sekalipun aku cinta mati sama kamu, aku nggak akan mau pacaran lagi." Kata Dara tegas kemudian meninggalkan Reyhan yang terdiam.
Dara kembali ke konter dengan perasaan yang entah. Risa langsung berdiri dan memberondong Dara dengan banyak pertanyaan.
"Ra, nggak papa kan? Reyhan nggak macam macam kan? Mukanya nggak ngeselin kan? Dia nggak bikin kamu nangis kan? Dia ngomong apa? Sini, kalo berani macam macam aku tendang sampe pingsan!" Kata Risa cepat. Ilham terperangah.
"Istri idaman," ucap Ilham lirih nyaris tak terdengar.
Dara hanya menggeleng pelan seraya tersenyum.
"Buset! Makin dingin aja kamu. Ini pasti gara gara Reyhan. Awas aja, ku potong potong terus ku goreng jadi perkedel." Kata Risa emosi.
Ilham tak dapat menahan tawanya. Ia tertawa membuat Risa menatapnya datar.
"Niat hati pengen buat Dara ketawa, malah Ilham yang ketawa." Batin Risa.
Tak lama kemudian, Reyhan kembali dengan wajah yang datar. Ilham menghentikan tawanya.
"Pulang yuk." Ajak Reyhan datar.
Risa langsung emosi.
"Heh! Awas aja kalo gue lihat sahabat gue nangis gara gara lo!" Bentak Risa.
"Sabar, Ris. Jangan marah marah." Kata Ilham mencoba menenangkan Risa. Ilham mulai serius kala melihat Risa yang sepertinya benar benar emosi dan Dara yang sedari tadi diam.
"Kalo kamu diem kayak gini sampe nolak aku, berarti kamu belum maafin aku, Ra." Kata Reyhan membuat semuanya terkejut tak terkecuali Dara.
Namun Dara langsung menetralisir keterkejutannya. Ia hanya menatap Reyhan datar.
"Masalah aku udah maafin kamu atau enggak, itu urusan aku, hati aku. Aku udah bilang udah maafin kamu, tapi kamu sendiri yang berprasangka kayak gitu. Kamu nggak tau apa apa, Rey." Kata Dara menekankan kalimat terakhirnya.
Ketiga orang itu semakin terkejut. Reyhan menatap Dara datar. Ya, benar, keduanya saling menatap dengan datar.
_____________
"Jadi tadi Reyhan minta maaf?" Tanya Risa ketika mereka sudah pulang.
Dara mengangguk.
"Terus kok sikap Reyhan pas mau pulang tadi dingin gitu?"
"Aku nggak tau, mungkin karena aku ... nolak dia," jawab Dara lirih.
"What! Reyhan nembak kamu?!" Pekik Dara terkejut membuat Dara ikut terkejut.
"Astaghfirullah ... tenang, Ris, tenang," ucap Dara.
"Sorry, aku kaget tadi, jadi, ya ... reflek teriak." Kata Risa.
"Ra, tapi dulu hal yang kamu impikan adalah ketika Reyhan nembak kamu bener bener, ini dia udah nembak kamu, kok ditolak?"
Dara menatap malas Risa.
"Iya, iya. Aku ngerti kok, kamu pernah bilang nggak mau pacaran lagi. Tapi, maksud aku, emang kamu udah nggak ada perasaan lagi buat Reyhan?" Tanya Risa.
Dara menghela nafas.
"Kalau ditanya ada apa enggak. Aku juga kurang paham. Waktu aku liat Reyhan lagi, aku ada perasaan senang, tapi lebih dominan perasaan kecewa, sih." Kata Dara pelan.
"Tapi, meskipun aku memang masih ada perasaan, aku nggak mau lagi pacaran."
Risa manggut manggut.
"Jadi kamu pengen langsung nikah gitu sama Reyhan?" Tanya Risa.
"Nggak gitu maksudku. Ya, laki laki yang serius kan langsung datang ke rumah dan bicara langsung sama orangtuaku. Lagian kalo aku pacaran otomatis itu kek harapan doang. Nggak ada kepastian. Dan emang orangtuanya masih mau nerima aku setelah denger kata kata Reyhan dulu?" Kata Dara.
"Reyhan nggak bilang ke orangtua kalian kalo dulu dia cuma bohong?" Tanya Risa.
Dara mengedikkan bahunya. "Aku nggak tau," jawab Dara.
"Oke, Ra. Dulu kamu pernah bilang sama aku. Kamu nggak mau pacaran lagi karena emang pacaran itu nggak boleh kan? Mendekati zina. Tapi, gimana coba kalo kamu suka sama orang dan orang itu suka sama kamu?"
Dara berpikir sejenak. "Yaaa nggak gimana gimana," jawab Dara. Risa memutar bola matanya.
"Atau gini, deh. Misal, nih, ada orang yang ngaku suka ke kamu, terus nembak kamu kek Reyhan. Kamu tolak. Tapi sebenernya kamu juga suka gitu, tapi dia nggak tau kalo kamu suka. Karena udah kamu tolak, dia ngerasa kecewa dan perlahan menjauh gitu dari kamu. Gimana perasaanmu?"
"Ris, kamu bahas gitu kek kita masih SMA aja." Kata Dara.
"Jawab aja napa, siiii."
"Perasaanku yaaa sedih," jawab Dara seadanya.
"Kalau dia ternyata udah ketemu yang baru, dengan kata lain dia udah berpaling hati. Apa kamu nggak nangis guling guling?" Kata Risa membuat Dara tertawa.
"Ekspresi mu ... kata katamu berlebihan banget," ujara Dara sambil menahan tawa.
Eh, Risa ikut ketawa.
"Aku nanya serius kamu malah ketawa."
"Kalau orang yang aku suka ternyata udah berpaling hati gitu, sedih, sih, sedih. Tapi mau gimana? Itu konsekuensi yang harus aku terima.
Apa aku harus ngelarang? Ya enggak, aku siapanya? Itu haknya. Dia ngerasa aku nggak suka apalagi ditolak gitu, dan pilihan dia buat move on, ya udah.
Walau sakit, sih. Tapi nggak sesakit kalau aku beneran pacaran. Pacaran itu nggak baik, Ris.
Dan untuk menangkis kegalauan itu, don't hope. Jangan berharap apalagi sampai berlebihan. Sakit, sakit kalau berharap sama manusia.
Aku mikirnya gini. Rezeki, jodoh, maut, takdir, sudah ada Allah yang mengatur. Kita serahkan semuanya kepada Allah. Kita hanya perlu berdo'a, ikhtiar, dan tawakal." Kata Dara. rusa mendengarkannya dengan serius.
"Hmmm, sahabat gue emang udah berubah, sih. Perasaan dulu kamu ngotot banget terus caper juga biar Reyhan balas perasaanmu." Kata Risa membuat Dara melotot.
"Jangan dibahas lah. Itukan masalalu. Masalalu ngapain diungkit ungkit lagi. Kita harus fokus ke masa depan." Kata Dara sok bijak.
"Oke oke. Sorry."
"Aku pikir kehadiran Reyhan lagi bakalan bikin kamu sedih kayak dulu. Tapi kayaknya kamu udah belajar dan kamu nggak mau kelihatan terpuruk. Kamu tetep maksain buat ketawa didepan aku. Jangan khawatir, Ra. Kalau Reyhan macam macam, aku hajar dia sampe masuk rumah sakit." Batin Risa seraya menatap Dara yang masih tertawa.
Reyhan menatap cangkir berisi kopi hitam dengan tatapan kosong. Ilham dan Alif hanya saling pandang, bingung dengan sikap Reyhan.
"Rey, ini udah malem, lo nggak pulang?" Tanya Ilham.
"Kalau kalian mau pulang, pulang aja," jawab Reyhan datar.
Ilham menghela nafas. Kebiasaan, selalu seperti ini. Jika ada masalah, Reyhan harus dipaksa atau ditanya dulu baru akan bercerita.
"Rey, sebenarnya lo ngomong apa sama Dara? Terus Dara jawab apa? Kok sikap lo kek gini?" Tanya Ilham serius. Reyhan beralih menatap Ilham.
Reyhan memijat pangkal hidungnya.
"Lo kek orang frustasi tau nggak."
"Gue emang frustasi," ujar Reyhan.
"Lo cerita, atau kami pulang dan nggak mau nemuin lo lagi!" Ancam Ilham.
Reyhan terkekeh. "Ancaman lo gitu banget, mirip cewek," ujar Reyhan.
"Nggak usah banyak cincong, cepet!"
"Iya iya, gue cerita. Tadi gue minta maaf ke Dara." Kata Reyhan.
Ilham diam, menunggu Reyhan melanjutkan ceritanya. Alif juga hanya diam sedari tadi. Ia seolah olah sibuk menikmati kopinya, padahal juga diam diam menyimak pembicaraan kedua manusia itu.
"Dara bilang udah maafin gue. Tapi gue nggak yakin, sikapnya datar banget. Terus pas dia mau balik ke konter, gue spontan ngajak dia pacaran." Jelas Reyhan, Alif hampir tersedak. Sedangan Ilham ternganga.
"Lo stres apa depresi, sih? Habis minta maaf, lo dengan seenak jidat ngajak Dara pacaran?" Kata Ilham kesal dan agak keras membuat mereka menjadi pusat perhatian.
Ilham meringis kemudian meminta maaf atas kehebohan yang ia lakukan.
"Gue belum selesai," ucap Reyhan.
Reyhan menatap Alif.
"Oh iya, ada Alif disini, baru nyadar gue," ucap Reyhan diakhiri kekehan kecil.
"Udah terlanjur, ya udah gapapa. Tapi, jangan ngomong ke siapa siapa." Kata Reyhan. Alif tersenyum tipis kemudian mengangguk.
"Gue ditolak. Dara bilang dia udah nggak mau pacaran," ujar Reyhan lesu.
"Emang lo cinta sama Dara?"
Reyhan mengangguk pelan.
"Masa, sih? Lo cinta apa cuma ngerasa bersalah doang?" Tanya Ilham.
Reyhan diam.
"Maaf menyela," ucap Alif yang sedari tadi diam menyimak. Sontak Ilham dan Reyhan menatap Alif.
"Kalau kamu beneran cinta sama Dara, sebaiknya jangan ngajak dia pacaran. Pacaran itu hampir sama dengan memberi harapan, menggantung harapan.
Kalau memang kamu serius, mending langsung diseriusin. Kamu temui orangtuanya, bicara baik baik." Kata Alif.
"Tapi gue belum siap nikah, gue belum pengen nikah," ujar Reyhan.
"Halalkan atau tinggalkan."
Bersambung ...
Assalamu'alaikum ...
Haiii gaiss .... Baru nongol authornyaa.
Thank you udah baca tapi tetap. Utamakan baca Al-Qur'an ygy...
Byeee