
Andara mematung didepan rumahnya. Ya, rumahnya, rumah yang sangat ia rindukan.
Pintu rumah itu terbuka. Namun, bukan itu yang menjadi pusat perhatian Dara. Melainkan sebuah mobil mewah yang terparkir didepan rumahnya.
Perlahan tapi pasti Dara melangkahkan kakinya.
"Assalamu'alaikum," ucap Dara ketika sudah berada didepan pintu. Raut wajah yang semula tersenyum seketika luntur kala melihat siapa tamunya.
Di sofa itu, Reyhan beserta keluarga, menatap Dara yang masih mematung.
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab seluruh orang yang berada diruang tamu itu.
Aminah. Bunda Dara menghampiri Dara dan langsung memeluk putrinya.
"Lama kamu nggak pulang, nak. Kenapa nggak ngabarin bunda?" Tanya Aminah, matanya berkaca-kaca. Ia rindu dengan putrinya.
"Hehe, maaf, ya, bun. Dara sengaja nggak ngasitau bunda kalo pulang hari ini. Dara pengen bikin surprise." Kata Dara seraya tersenyum.
Tiba-tiba Aminah menangis dan nemeluk Dara. "Maafin bunda, nak. Bunda nggak percaya sama kammu." Aminah menangis, ia menyesal karena dulu tak percaya pada putrinya bahkan sampai menamparnya.
Dara bingung. Apa maksud bunda? Namun, Dara mengerti, ia menatap Reyhan yang juga menatapnya dengan tatapan sedih.
"Beneran jujur ternyata." Batin Dara.
Aminah melepas pelukannya. Dara mengusap pipi Aminah.
"Bunda jangan nangis. Nggak papa kok, bun," ujar Dara.
Aminah menggandeng tangan Dara dan meminta Dara untuk duduk bersama mereka.
Dara mencium tangan ayahnya. Syarif. Ayah Dara mengusap kepala putrinya. Kemudian Dara mencium tangan ibunya dan ibu Reyhan. Namun, ia menangkupkan kedua tangannya didepan ayah Reyhan dan Reyhan. Bukan mahram.
"Maafkan kami, nak," ucap ibu Reyhan.
"Enggak, bu. Nggak papa, kok," ucap Dara seraya menggeleng pelan.
"Reyhan sudah menyesal, ia sudah mengatakan yang sebenarnya. Kami minta maaf atas kelakuan putra kami, kami telah gagal mendidiknya." Kata Angga. Ayah Reyhan.
Syarif mengehela nafas. "Jujur, saya kecewa. Saya sampai memarahi putri saya yang ternyata tidak bersalah. Reyhan, seharusnya katakan saja kalau kamu tidak ingin menerima perjodohan itu, tidak perlu kamu sampai memfitnah putri saya." Kata Syarif datar, namun terlihat jelas dari sorot matanya ia menahan marah.
Reyhan tertunduk. "Maafin, Rey, ayah. Rey benar-benar menyesal."
"Nak, kamu lihat Dara. Lihat, sejak kamu mengatakan hal itu. Sikapnya berubah, putri kami nggak se-ceria dulu, dulu Dara sering mengurung diri di kamarnya, wajahnya murung, sikapnya jadi pendiam. Ayah lihat beberapa hari ketika Dara keluar kamar matanya selalu sembab. Dara terpuruk!" Jelas Syarif, nada suaranya meninggi.
Aminah mengusap punggung suaminya. Sedangkan Dara hanya menatap lantai dengan tatapan datar.
Reyhan semakin tertunduk. "Rey minta maaf ayah," ucap Reyhan pelan, ia semakin menunduk.
"Syarif, saya minta maaf. Tapi ini semua bukan sepenuhnya kesalahan Reyhan. Sikap Dara seperti itu karena dirinya terlalu berlebihan, sikapnya berlebihan.
Hanya karena itu ia sampai terpuruk? Itu bukanlah masalah besar. Seharusnya Dara bisa mengendalikan perasaannya sendiri, tidak membiarkan dirinya terpuruk, itu terkesan Dara hanya mencari perhatian saja." Kata Angga lalu menatap Dara. Dirinya kesal karena Syarif berani menyalahkan anaknya karena perubahan sikap Dara.
Dara mengangkat kepalanya. Ia menatap Angga tidak percaya.
"Kenapa putriku yang kamu salahkan?"
"Pa, jangan begitu," ucap Reyhan lirih menyadari suasana menjadi tegang.
"Saya mencari perhatian pada siapa, om?" Tanya Dara datar.
Cukup sudah. Dara sudah muak.
Semua menatap Dara.
"Katakan, om. Saya mencari perhatian pada siapa?"
Angga menatap Dara tajam.
"Baiklah. Mungkin ... om benar, saya terlalu berlebihan. Tapi saya tidak ada sekalipun tujuan untuk mencari perhatian." Kata Dara.
Angga menatap Dara tak suka. Kemudian berdiri dan menatap Syarif.
"Kamit pamit pulang. Sekali lagi saya meminta maaf karena kelakuan putra saya," ucap Angga kemudian melenggang pergi.
"Kami pamit, ya pak Syarif, bu Aminah, Dara." Kata ibu Reyhan yang bernama Anita.
"Iya, tidak apa-apa bu, Anita," ucap Aminah. Anita tersenyum tidak enak.
"Ayo, Rey," ajak Anita.
"Bentar, ma."
Anita terdiam menunggu putranya.
"Rey minta maaf ayah, bunda dan ... Dara. Rey sangat menyesal, sangat sangat menyesal," ujar Reyhan.
Syarif hanya diam. Aminah bicara.
"Nggak papa, jangan diulangi lagi, ingat, fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan." Kata Aminah.
Reyhan mengangguk, niatnya kesini ingin meminta maaf dan ingin melamar Dara. Tapi melihat situasinya, apalagi Angga yang seperti itu membuat Reyhan mengurungkan niatnya. Reyhan menatap Dara yang memandang kedepan dengan tatapan datar. Dara memang benar-benar berubah. Dulu, gadis itu pasti akan menunjukkan ekspresi ketika ada sesuatu. Minimal tersenyum. Tapi ini? Ekspresi saja tidak ada, Reyhan sulit menebak apa yang dipikirkannya sekarang.
Reyhan dan Anita pamit pulang. Setelah mereka meninggalkan kediaman keluarga Dara. Dara menghela nafas.
Syarif menghampiri putrinya. "Nak, maafkan ayah," ucap Syarif menatap putrinya menyesal.
"Maafin bunda juga," ucap Aminah. Dara menggeleng. "Enggak, ayah sama bunda nggak salah, kok. Udah nggak usah dipikirkan lagi, ya." Kata Dara kemudian tersenyum. Ia mencoba bersikap seperti biasa, apalagi ia baru saja pulang ke rumahnya.
***
"Jadi Dara udah pulang ke kampung halamannya?" Tanya Rendra, kakak Alif.
Alif dan Rendra sedang duduk santai di taman rumah mereka.
Alif mengangguk mendengar pertanyaan abangnya. Raut wajahnya datar. Rendra memperhatikan adiknya.
"Baru kali ini abang lihat adek abang kayak gini. Lucu banget tau liat kamu salting kemarin gara-gara abang bahas mahasiswi atas nama Andara Khairunnisa, mahasiswi yang cukup unggul, berprestasi, dan baik hati." Kata Rendra mencoba menggoda adiknya.
Bersambung ...