
Andara memandang bintang di langit dari jendela kamarnya, sesekali Dara tersenyum tipis.
Raut wajah Dara kembali berubah.
"Aku mau ngelamar kamu."
Ucapan Reyhan kemarin lusa terngiang-ngiang di kepalanya. Jujur, Dara lega dan senang karena Reyhan sudah berubah. Laki-laki yang ia sukai dulu sekarang pun membalas perasaanya.
Apa Dara masih berharap? Jawabannya iya. Walau sebenarnya Dara sama sekali tidak ingin berharap.
Kekecewaan yang Dara rasakan perlahan-lahan memudar setelah melihat Reyhan bersungguh-sungguh dan berani mengatakan hal yang sebenarnya.
Reyhan sudah berubah, pikirnya.
Tapi, melihat Angga yang sepertinya tak begitu menyukainya membuat Dara agak sedih.
Dara menghela nafas. Ia ber-istighfar. Tak ingin berlarut-larut memikirkan itu dan membuat hatinya gelisah.
Tok, tok, tok
Dara menoleh kearah pintu yang diketuk.
"Dek, ini kakak!" Teriak seseorang dari luar kamar Dara.
Dara membulatkan matanya kemudian tersenyum senang. Ia melompat dari kursinya dan berlari kearah pintu dengan perasaan bahagia.
Ceklek.
"Kakak!" Seru Dara, ia langsung berhambur memeluk kakaknya.
"Heh, heh! Hati-hati ntar kakak terjungkal kebelakang gimana?" canda kakak Dara.
Dara melepas pelukannya. Ia tersenyum getir. "Maaf, kak," ucap Dara.
Kakak Dara bernama Yusuf. Yusuf mengacak-acak kepala Dara yang tertutup jilbab.
Dara memasang ekspresi datar. "Jilbab aku berantakan, kak," ujar Dara kesal. Yusuf terkekeh.
"Gimana kabar kamu, dek? Udah lama banget, ya kita nggak ketemu." Kata Yusuf.
"Alhamdulillah Dara baik-baik aja, kak. Kapan kakak pulang? Kok Dara nggak tau?" Tanya Dara.
"Baru aja. Kamarmu kayak udah kedap suara aja, masa nggak tau kalau kakaknya pulang."
Dara terkekeh pelan.
"Ayah tadi cerita, Reyhan tadi kesini? Reyhan jujur?" Tanya Yusuf, ia sebenarnya sudah tau, hanya ingin memastikan keadaan adiknya.
Raut wajah Dara berubah. Kemudian mengangguk pelan.
Menyadari perubahan itu, Yusuf cemas. "Kamu nggak papa, dek?" Tanya Yusuf.
Dara menggeleng pelan. "Nggak papa, kak."
Yusuf. Kakak Dara yang sekarang bekerja di Surabaya. Yusuf dulu kuliah di Surabaya juga karena ia ikut paman dan bibinya. Dulu orang tua Yusuf dan Dara tidak mampu membiayai kuliah Yusuf. Tapi Yusuf sangat ingin untuk bisa kuliah.
Karena tekad yang kuat. Yusuf selalu berdo'a dan berusaha. Hingga pada suatu hari, paman Yusuf datang dan berkata akan membiayai kuliah Yusuf, Yusuf senang. Namun, Yusuf bilang ingin bekerja. Paman Yusuf menawarkan pekerjaan untuk Yusuf, karena Yusuf terus memaksa pamannya untuk memberitahu pekerjaan apa yang bisa ia lakukan.
Yusuf juga dikenal sebagai anak yang selalu bekerja keras. Yusuf membujuk ayah dan ibunya untuk mengizinkannya ikut pamannya. Awalnya Syarif menolak, namun, bukan Yusuf namanya kalau tidak bisa membujuk ayahnya. Pada akhirnya Syarif mengizinkannya. Yusuf sangat disayang oleh paman dan bibinya, namun hal itu tak membuatnya merasa terlena. Yusuf tetap bekerja keras dan kuliah dengan bersungguh-sungguh.
Ketika Dara dituduh Reyhan dulu, kakaknya tidak ada, ia sibuk kuliah dan bekerja di Surabaya. Tapi Yusuf tetap tahu kabar Dara karena ayah dan bundanya mengabarinya.
Yusuf tidak percaya jika adiknya seperti itu. Sempat ingin percaya, namun ia lebih memilih untuk bertanya langsung pada Dara.
Yusuf menghubungi Dara, Yusuf mendesak Dara untuk mengatakan yang sebenarnya. Dara pun menceritakan yang sebenarnya sambil menangis.
"Alhamdulillah, kakak aku udah jadi dosen," Kata Dara seraya menatap foto Yusuf yang sedang berada di halaman kampus, kini keduanya berada di kamar Yusuf. Dara membantu kakaknya untuk membereskan kamarnya.
Yusuf yang sedang merapikan baju tersenyum. "Alhamdulillah," ucap Yusuf.
"Oh ya, sekarang gimana kuliahmu, dek?" Tanya Yusuf.
"Alhamdulillah ... aku senang kuliah di Malang, aku ngikutin kakak, kerja," jawab Dara.
"Loh? Kamu nggak pernah cerita kalo kerja," sahut Yusuf, ekspresinya terkejut.
Dara terkekeh. "Iya, emang sengaja nggak cerita."
"Kamu kerja apa?"
"Mmm ... jagain konter sama Risa," jawab Dara.
"Tapi waktu kuliah kamu nggak ke ganggu, kan?" Tanya Yusuf lagi, kini ia sudah duduk disebelah Dara dipinggir kasur.
"Enggak, kak. Aku kerjanya abis pulang kampus, agak sorean, lah. Tapi kalau pas jadwal kampus sore aku izin. Pemilik konternya itu milik orangtua temen kampus aku, baik banget orangnya," jelas Dara santai.
"Alhamdulillah,"ucap Yusuf.
"Oh iya, dek. Kamu kenal Rendra?" Tanya Yusuf tiba-tiba.
Dara mengernyit. "Rendra ... siapa?"
"Dosen, di kampus kamu. Iya nggak, sih?"
Dara tampak berfikir, kemudian mengangguk cepat. "Hmmm, pak Rendra? Dosen yang masih muda itu?"
Yusuf menyalakan ponselnya dan menunjukkan sebuah foto dimana dirinya dan Rendra sedang berpose saling merangkul, seperti sahabat.
Dara menatap foto itu. "Nah, iya, bener. Itu pak Rendra. Kakak kenal? Kok bisa?" Tanya Dara bingung.
"Iya, Rendra dulu teman pas kakak kuliah dulu, tapi dia jadi dosen di Malang karena katanya biar dekat sama keluarganya. Rumahnya disana."
Dara manggut-manggut.
"Rendra juga punya adik, adik laki-laki. Kuliah di kampus kamu juga, kenal?"
Dara menggelang. "Aku aja nggak tau kalau pak Rendra punya adik, gimana mau kenal." Kata Dara menatap malas Yusuf.
Yusuf tertawa. "Masa nggak kenal, sih? Adiknya Rendra, Alif," ujar Yusuf. Dara terkejut, Alif?
"Nama panjang pak Rendra siapa?" Tanya Dara.
Yusuf kembali tertawa. "Orang masih muda gitu kamu panggil, pak."
Dara mendengus kesal. "Dosen, kok!"
"Namanya Rendra Alvin Mahendra. Dulu, Rendra pernah cerita kalau punya adik namanya Alif Angga Pratama. Kakak juga cerita ke dia kalo punya adik perempuan terus kuliah di Malang. Rendra bilang juga adiknya kuliah disana, makanya kakak nanya kamu," jelas Yusuf.
Dara terdiam, ia mengerti.
"Jadi, Alif itu adiknya pak Rendra." Batin Dara.
"Dek."
Dara tersentak. "I-iya?"
"Kamu kenapa?" Tanya Yusuf.
"Nggak papa, kak. Mmm, aku ke kamar dulu, ya. Udah ngantuk." Kata Dara.
Yusuf mengangguk. "Iya, makasih, ya udah bantuin kakak."
Dara mengangguk.
Bersambung ...