
Angga menatap tajam putranya. "Kenapa sekarang kamu bersikeras untuk ngelamar Dara?" Tanya Angga dingin.
Reyhan mengatur nafasnya. " Reyhan cinta sama Dara, pa," jawab Reyhan.
"Apa kamu nggak lihat sikapnya kemarin? Anak itu sekarang sudah menjadi sombong dan berani. Papa nggak setuju!" Kata Angga.
"Bukannya dulu papa yang bersikeras menjodohkan Reyhan sama Dara? Dara seperti itu juga karena Reyhan, pa. Dara nggak salah, Reyhan yang salah." Kata Reyhan.
"Itu memang kesalahanmu, papa sebenarnya juga kecewa sama kamu. Tapi, papa sudah menjodohkanmu dengan orang lain."
Deg!
Mendengar perkataan Angga membuat Reyhan mengepalkan tangannya. Di jodohkan? Lagi?
"Pa, kenapa papa nggak tanya sama Reyhan dulu?"
"Kamu nggak perlu khawatir, gadis ini lebih baik daripada Dara."
Reyhan berdiri. "Pa, sudah cukup selama ini Reyhan mengikuti kemauan papa, tapi perjodohan ini ... maaf, pa. Reyhan nggak mau!" Tegas Reyhan kemudian pergi.
Baru beberapa langkah Reyhan berjalan.
"Kalau kamu nggak menerima, semua fasilitas yang kamu punya, harta, dan perusahaan papa. Tidak akan papa berikan ke kamu." Ancam Angga tanpa melihat putranya yang sudah membalikkan badannya dan menatap Angga tak percaya.
"Jangan harap kamu bisa kuliah dengan uang papa, dan angkat kaki dari rumah ini," lanjut Angga membuat Reyhan membulatkan matanya.
"Tapi-"
Angga berdiri dan menatap Reyhan.
"Mungkin kamu berpikir bahwa kamu adalah pewaris tunggal di keluarga Pratama," ujar Angga kemudian menggeleng dan meninggalkan putranya yang mematung.
Tepat! Memang itu yang sedang Reyhan pikirkan. Reyhan hanya tahu bahwa dirinya adalah anak tunggal di keluarga ini. Tidak punya saudara, adik maupun kakak.
Reyhan mengacak rambutnya frustasi.
"Argghh! Kenapa, sih papa!"
***
Pagi hari yang cerah, Alif dan Rendra sedang berlari atau jogging bersama. Keduanya tampak akur.
Para gadis-gadis yang berpapasan dengan mereka sering melirik bahkan ada yang sampai terang-terangan memujinya.
Rendra menanggapinya hanya dengan senyuman. Sedangkan Alif diam saja, memasang raut wajah dingin.
"Ingat calon bini!" Tegur Alif datar. Rendra tertawa melihat tanggapan Alif.
Kedua saudara itu sedang beristirahat di sebuah kursi panjang. Mereka jogging di sekitar taman.
Suasana sangat sejuk dan asri. Apalagi saat pagi hari.
Rendra mengenakan kaos hitam lengan pendek dengan celana training panjang.
Alif mengenakan kaos hitam lengan pendek dengan celana hitam panjang dipadukan dengan topi hitam yang berada di kepalanya.
"Lif, kamu nggak capek pura-pura?"
Alif yang baru saja minum langsung menoleh, menatap kakaknya.
"Kenapa capek? Kan pura-pura bukan kura-kura." Kata Alif sambil tertawa kecil.
Rendra berdecak. "Gue serius!"
"Iya, iya. Sorry," ucap Alif disela sela tawanya.
"Jawab pertanyaan abang," ucap Rendra.
"Nggak, bang. Aku nggak capek, biasa aja." Kata Alif santai.
"Kamu ke kampus naik motor butut. Abang lihat temen-temen kampus mu, kamu dipandang sebelah mata sama mereka, bahkan cewek-cewek yang naksir kamu langsung menjauh karena mereka taunya kamu itu-" Rendra tak melanjutkan perkataannya.
Alif menatap abangnya. "Abang mata-matain aku?" Tanya Alif, matanya menyipit.
"Iya, teman abang. Abang suruh buat mata-matain kamu."
Alif menggeleng pelan. "Berlebihan banget tau nggak. Lagian motor aku itu nggak butut, itu kesayangan aku." Kata Alif.
"Enak aja bilangin motor aku butut," lanjut Alif.
"Okelah, tapi kamu tau nggak. Kamu tu sering banget diomongin sama temen-temen kamu." Kata Rendra.
Alif menghembuskan nafas pelan. "Biar aja, bang. Aku udah pernah bilang, aku emang sengaja begitu. Aku udah biasa." Jelas Alif pelan.
Rendra terdiam. Ia tahu adiknya bagaimana. Saat Alif masih duduk di bangku SMA, Alif dikenal anak orang kaya, ia dikagumi, bahkan banyak yang ingin menjadi temannya lantaran wajahnya yang rupawan.
Entah bagaimana, Alif menjadi sombong dan bertindak sesukanya. Bahkan sering melanggar aturan sekolah, dan terpengaruh teman-temannya ikut balap liar dan keluar malam.
Sejak Alif masih bayi dan Rendra masih kecil, mereka hidup bersama ibunya. Ketika Rendra beranjak dewasa, Rendra tumbuh menjadi anak yang bertanggung jawab dan bertekad ingin membahagiakan ibu dan adiknya. Walaupun mereka sudah menjadi orang kaya, namun ia tidak mau hanya terus berdiam diri dan melihat ibunya bekerna terus.
Ketika Alif remaja, ibu mereka memang bekerja, Rendra kuliah dan bekerja. Alif kesepian, itu sebabnya ia mencari kesenangan diluar dan sering nongkrong bersama teman-temannya.
Suatu malam, Rendra baru pulang bekerja. Setelah kuliah memang langsung bekerja.
Rendra mendapati ibunya yang menggenggam ponsel ditamgannya dengan raut wajah khawatir.
"Ada apa, umi?" Tanya Rendra.
Ibu Rendra yang bernama Aisyah menjawab bahwa Alif belum pulang.
Rendra tentu saja khawatir. Ia keluar pergi mencari Alif.
Rendra menemukan Alif cukup jauh dari rumah. Ia melihat Alif tengah bersiap diatas motor, disampingnya ada seorang gadis yang bergelayut manja dilengannya.
Meski wajahnya tertutup helm full face, namun Rendra tau itu adiknya. Karena helm itu adalah hadiah darinya.
"Alif!" Teriak Rendra lantang.
Alif menoleh dan terkejut, tawa yang sejak tadi menguar mendadak lenyap. Abangnya berlari menghampirinya.
"Kamu ngapain disini!" Bentak Rendra.
Alif gelagapan.
"Siapa, Lif?" Tanya teman Alif yang melihatnya. Alif dan Rendra menjadi pusat perhatian.
"Abang gue," jawab Alif pelan.
"Sayang, kok muka kamu takut gitu? Ngapain takut?" sahut cewek yang sedari tadi memegang lengan Alif.
Rendra melotot. Emosinya semakin tak stabil. "Lepas! Abang sama umi nggak pernah ngajarin kamu pacaran apalagi sampai pegang-pegang!" Bentak Rendra lagi.
Alif menunduk. Perlahan ia melepas pegangan tangan pacarnya.
"Yank, kamu kenapa takut, sih? Sama kakak aja masa takut!" cibir gadis itu.
"Hahaha, Alif yang selama ini kita kenal paling pemberani dan paling cool ternyata takut sama abangnya. Lucu banget liat ekspresi lo!" Teriak teman Alif membuat suasana menjadi riuh dan penuh dengan tawa.
Rendra tak peduli, ia menarik Alif.
"Pulang!" Tegas Rendra. Alif tak bergerak.
"Pulang, Alif!" Bentak Rendra
Balapan yang akan segera dimulai membuat Alif menatap kesana.
"Nggak!" Bentak Alif. Rendra terkejut.
"Aku mau balapan, bang. Abang aja yang pulang!"
Rendra menggeleng. "Bahaya! Kamu ngerti ngga, sih! Balapan itu bahaya!"
"Aku bukan anak kecil lagi, abang nggak usah ngatur-ngatur aku lagi!" Bentak Alif kemudian meninggalkan Rendra dan bergabung untuk balapan.
"Alif!" Teriak Rendra namun Alif sudah melesat dihitungan ketiga.
Tak tinggal diam, Rendra mengejar dengan motornya.
Ketika Alif sedang balapan, dirinya tak fokus. Tiba-tiba terdengar suara sirine mobil polisi. Alif yang tidak fokus terkejut mendengar suara itu, ia bingung harus kemana, ia bahkan sudah oleng ketika mengendari motornya.
Dalam kecepatan tinggi, Alif tidak bisa mengendalikan kendaraanya.
Brukkk!
Alif menabrak pembatas jalan dengan cukup keras.
***
Kejadian itu membuat Alif harus masuk rumah sakit dan koma selama dua minggu.
Saat Alif sadar, Alif langsung meminta maaf pada Rendra dan Fatimah. Alif pun memutuskan untuk pindah sekolah. Alif memilih untuk Hijrah. Memperbaiki dirinya.
Alif memutuskan untuk menjadi biasa saja saat dilingkungan sekolah barunya. Dan benar, temannya tak banyak. Hanya beberapa yang mau berteman dengannya, yang tulus tak memandang harta.
Meskipun ada saja cewek yang masih berusaha untuk mendekati Alif dan ia memandang Alif dengan tatapan kagum karena Alif memiliki paras yang tampan.
Alif berusaha untuk bersikap cuek. Ia pun mulai belajar dan belajar, dan akhirnya Alif tau bahwa lelaki sebaiknya menundukkan pandangan dan tidak boleh menyentuh perempuan yang bukan mahramnya.
Alif awalnya merasa sulit lama-lama terbiasa. Mahasiswa dan orang-orang yang tidak mengenalnya menganggap Alif hanya orang biasa, bahkan ada yang mengatakan Alif miskin. Ilham, teman dekat Alif saja tidak tau.
***
Dara sedang sibuk menyiram tanaman di halaman rumahnya. Setelah itu, ia kembali masuk ke rumah.
Saat melewati ruang tamu, tiba-tiba Dara mendengar nada dering ponsel. Sontak Dara menoleh, mencari sumber suara dan mendapati ponsel Yusuf bergetar menandakan ada yang menelpon.
Dara melihat nama yang tertera. Rendra.
Ia melihat sekeliling untuk mencari keberadaan kakaknya.
"Mana, sih, kak Yusuf. Ini Rendra, Rendra siapa, ya? Apa pak Rendra?" Gumam Dara. Ia mengambil ponsel Yusuf.
Dara berjalan mencari Yusuf, namun tak sengaja jari tangannya menggeser icon berwarna hijau di ponsel itu.
Dara melihat dan terkejut. Namun, saat ingin memutus panggilan, Rendra sudah bicara.
"Assalamu'alaikum, Suf. Kok baru diangkat, sih? Kamu lagi sibuk?"
Dara mendekatkan ponsel Yusuf ke telinganya. "Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab Dara.
"Loh? Cewek yang jawab? Siapa? Yusuf kemana?" Tanya Rendra beruntun.
"Kak Yusuf nggak tau dimana, ini nggak sengaja kepencet," jawab Dara
Rendra terdiam sejenak.
"Kamu adiknya Yusuf?"
"Iya. Ini pak Rendra?"
Mendengar Dara memanggilnya dengan sebutan 'pak', ditambah suara Dara yang familiar di telinganya membuat Rendra menebak siapa yang sedang berbicara dengannya.
"Loh? Kamu Andara?" Tanya Rendra terkejut.
Bersambung ...
Tetap utamakan bacs Al-Qur'an ygy ...