Don't Hope

Don't Hope
#8



Tidak perlu banyak mengucap janji, jika satu janji saja tak ditepati.


Dara


______________________________________


Keadaan Risa sudah membaik, Risa bersikeras ingin berangkat ke kampus walaupun Dara melarangnya.


"Ra, aku tu udah sembuh. Nggak panas lagi, kalau kamu nggak percaya, pegang, nih keningku." Kata Risa kesal seraya meraih tangan Dara dan menempelkan punggung tangan Dara di keningnya.


Bukan sekali dua kali, berkali kali Dara sudah memegang kening Risa untuk memastikan kondisi Risa.


"Tapi istirahat dulu."


"Nggak mau! Aku malah merasa lemes kalau diem aja." Kekeh Risa.


Dara menghela napas. "Ya udah, terserah kamu."


Dara dan Risa berangkat ke kampus bersama. Mereka berangkat pagi sekali karena jika berangkat siang bisa bisa terkena kemacetan.


Sesampainya di kampus, Risa mengernyit heran. Pasalnya ketiga lelaki yang ia kenal sudah datang.


Siapa lagi kalau bukan, Ilham, Reyhan, dan Alif.


Ilham langsung loncat dari motor dan menghampiri Risa.


"Assalamu'alaikum, Risa," ucap Ilham seraya tersenyum lebar.


Risa menunduk, tapi tetap saja ia tersenyum. Mendadak ia gugup.


"Wa'alaikumussalam," jawab Risa pelan.


"Wa'alaikumussalam," jawab Dara pelan tanpa menatap keduanya. Dara menatap lurus kedepan, ia bahkan belum melepaskan helm dari kepalanya.


"Aku denger dari Alif, Alif denger dari Dara kalau kamu kemarin sakit?" Tanya Ilham.


Risa mengangguk.


"Kamu sakit apa, sekarang gimana?" Tanya Ilham cemas.


"Nggak papa kok. Alhamdulillah. Kemarin deman biasa aja," jawab Risa.


"Alhamdulillah," ucap Ilham.


Dara melepas helmnya lalu turun dari motornya.


"Ayo ke kelas." Ajak Dara seraya merapikan kerudungnya. Raut wajahnya datar, tidak ramah sama sekali.


"Eh, santai dong, Ra. Ekspresimu tolong dikondisikan." Kata Ilham.


Dara menatap Ilham sekilas. "Ayo, Ris!"


Risa mengangguk. "Ham, aku ke kelas dulu. Assalamu'alaikum," ucap Risa.


"Wa'alaikumussalam," jawab Risa.


"Bener bener, ya, tu cewek." Batin Ilham melihat kepergian Dara dan Risa.


"Dara, jadi cewek jangan jutek bin dingin, dong. Jadi cewek tu harus ada manis manisnya, sekali kali senyum napa!" Teriak Ilham kesal.


Dara menggelengkan kepalanya pelan. "Kayaknya stress tu orang." Gumam Dara lirih, lirih sekali.


"Ra, jangan didengerin omongan Ilham, kadang kadang emang aneh." Kata Risa.


"Wong dia teriak gitu, gimana nggak dengerin?" Tanya Dara.


Risa menatap Dara malas. "Serah kamu, deh. Nggak peka banget jadi orang."


Ilham menghampiri kedua temannya. Raut wajahnya masih kesal.


"Ngapain lo marah marah gitu ke Dara?" Tanya Reyhan agak kesal.


Ilham mencebik. "Ck, ini satu lagi. Lo belum tau aja Dara gimana. Selama gue kenal dia, nggak pernah tu orang ngomong yang ramah gitu, paling Risa doang yang baik hati." Kata Ilham kesal.


"Kalo senyum tu jaaaraaaaaang banget. Makanya gue males kalo ngomong sama Dara," lanjut Ilham.


Reyhan termenung.


"Kalo Dara tu bukan temen alias sahabat Risa, gue ogah ketemu orang itu lagi," lanjut Ilham lagi.


"Lo kenapa, sih? Kayak nggak suka banget sama Dara?" Tanya Reyhan pelan.


Ilham menghela nafas. "Biasa aja, sih gue. Cuma sikap dia itu. Awalnya, si, gue biasa aja sama sikap dia. Tapi tiap kali gue ngomong sama Risa, tu orang selaluuuu aja ada alasan buat ngejauhin kami. Udah kek emaknya Risa aja gue rasa. Makanya gue kek kesel aja gitu." Jelas Ilham.


Ilham belum sadar ia sedang bicara tentang apa.


Ilham menoleh, ia melihat Reyhan yang terdiam.


"Sans aja. Lagian lo nggak salah apa apa, gua cuma mikir, Dara kek gitu mungkin gara gara gue." Kata Reyhan pelan.


Ilham terdiam sejenak. Suasana menjadi hening.


"Ke kelas yuk, udah mulai datang tu orangnya." Ajak Ilham mengalihkan topik pembicaraan kala melihat beberapa orang mulai berdatangan.


Reyhan mengangguk kemudian berjalan duluan.


"Kalian duluan aja, aku mau ke kantin sebentar," ujar Alif yang sedari tadi hanya diam.


"Lo belum sarapan?" Tanya Ilham.


"Belum."


"Oke. Kami duluan, ya."


"Gue lupa kalau kemarin ada yang gak beres sama Alif. Oke, kayaknya gue harus selidiki itu juga." Batin Ilham.


Alif mengangguk.


Alif berjalan menuju kantin untuk sarapan. Di kantin tak sengaja Alif melihat Dara yang sedang membeli roti dan air meneral.


"Bu, saya pesan nasi goreng seporsi," ujar Alif.


Mendengar itu, sontak Dara menoleh sekilas.


"Iya, bentar, yaaa," ucap ibu kantin. Alif mengangguk sopan kemudian berjalan menuju kursi.


Setelah membayar roti dan air mineral, Dara pergi. Ia pergi tanpa menyapa Alif.


Alif memakan nasi gorengnya dengan tenang. Tiba tiba Ilham datang mengejutkannya.


"Wihh!" Seru Ilham seraya menepuk bahu Alif cukup keras.


"Astaghfirullah'aladzim," ucap Alif seraya mengelus dadanya.


Alif menatap tajam Ilham. "Ngagetin!" ucap Alif ketus.


Ilham tertawa, ia duduk dihadapan Alif.


"Sorry, bro. Gimana? Enakan nasi goreng buatan gue, kan?" Tanya Ilham tiba tiba.


"Jangan gitu, kedengeran ibunya nanti." Kata Alif sembari melihat ke arah ibu kantin yang tengah sibuk memasak.


Sontak Ilham menatap ke arah yang sama.


"Kagak kedengeran kayaknya," ujar Ilham.


Ilham mengalihkan pandangannya. Ia menatap serius Alif. "Gue mau nanya sesuatu."


Alif yang ingin menyuap nasi ke mulutnya, langsung menghentikan gerakannya.


"Apa?"


"Lo suka sama Dara?"


Alif terkejut, hampir tersedak.


Ilham to the point banget, ya.


"Apaan, ya enggaklah," ucap Alif cepat, tapi terdengar ragu.


Mata Ilham menyipit. Saat ini Reyhan seperti detektif yang menyelidiki sesuatu. Bedanya ini menyelidiki perasaan.


"Jujur nggak!"


"Aku lagi makan."


Ilham menghela napas. "Jujur, Alif!" ucap Ilham penuh penekanan.


Lagi lagi Alif menghentikan aktivitasnya. Ia menatap Ilham.


"Kalau iya, kenapa?"


Bersambung ...


Assalamu'alaikum☺️


Utamakan baca Al-Qur'an ygy.


Wow, Alif mulai jujur, nih.


Kalian tim siapa? Reyhan atau Alif?