
"Kak."
Dara menoleh.
"Iya?" Tanya Dara. Gadis yang mengenakan seragam putih abu abu didepannya tersenyum malu.
"Jangan dingin dingin kak, nanti baper beneran," ujarnya membuat Dara menatapnya malas.
"Makasih perhatiannya," ucap Dara seraya tersenyum paksa. Dara menganggap ucapan gadis tadi hanya sebuah gurauan.
"Kak, aku nggak lagi bercanda. Lagian kalau sikap kakak dingin terus, nanti pacar kakak bosen terus berpaling hati lagi." Kata gadis itu lagi.
Dara membulatkan matanya.
"Maaf, kami nggak pacaran," ucap Dara.
"Terus apa? Kok aku lihat kalian kek pacaran gitu, serasi soalnya."
"Tapi kami-"
"Bukan pacar, calon istri," ucap Alif tiba tiba setelah dari tadi diam menyimak.
Siswi siswi SMA itu terkejut kemudian meminta maaf.
"Maaf, ya, kak. Kami nggak tau kalau ternyata kalian mau nikah." Kata mereka tak enak, terlebih pada Dara.
"Tapi-"
"Nggak papa, tapi jangan seperti itu lagi, ya." Kata Alif.
Dara membelalakkan matanya.
"Apa apaan orang ini." Batin Dara kesal.
Gadis itu mengangguk pelan. "Ooohhh. Pantesan kakaknya tadi bilang bukan pacaran. Ternyata mau nikah. Oke, kalo gitu, maafin kami udah gangguin kalian, aku pamit pulang. Btw, jangan lupa undang kami yaaaa." Ucap gadis itu. Setelah mengatakan semua itu, gadis gadis itu mengangguk kemudian kembali ke tempat duduknya
Dara menggelengkan kepala. Ia merasa heran dengan kelakuan gadis tadi dan jawaban Alif yang seenak jidatnya.
"Lif, kamu ngapain ngomong kayak gitu?" Tanya Dara kesal.
"Ngomong apa, ya?"
"Kamu amnesia atau pura pura lupa?"
"Yang mana?"
Alif memasang ekspresi bingung. Dara menahan kesal.
"Calon istri!" Ucap Dara ketus.
"Ooohhh, itu ... biar nggak disangka pacaran," jawab Alif seraya terkekeh membuat Dara ingin mengumpat sekarang juga.
"Aku nggak bercanda," ucap Dara dingin.
Alif menghentikan tawanya. "Saya juga nggak bercanda," ucap Alif serius.
Mendadak suasana menjadi canggung. Kedua orang itu tidak saling menatap. Sejak masih bicara tadi sebenarnya mereka tidak saling menatap.
Namun, setelah perkataan Alif tadi, Dara tidak lagi bersuara.
"Permisi, kak. Ini obatnya, dan didalam juga sudah ditulis resep resepnya," ucap wanita yang bertugas di apotik tersebut sembari tersenyum. Ia menyerahkan sebuah plastik yang berisi obat berserta resepnya.
"Berapa semuanya, kak?"
"Tiga puluh ribu, kak,"
Dara menyerahkan dua lembar uang berwarna hijau dan ungu.
"Terimakasih, kak," ucap Dara dan wanita itu berbarengan.
Dara mengangguk sopan seraya tersenyum.
Dara melirik Alif sekilas.
"Kamu, ngapain kesini?" Tanya Dara heran melihat Alif yang masih duduk diam, dan untuk mencairkan suasana.
"Mau periksa," jawab Alif seadanya. Dirinya memang ingin periksa.
Dara menautkan alisnya. "Kamu sakit?"
Alif tersenyum. "Enggak, cuma mau periksa aja. Rumah saya jauh dari rumah sakit. Saya juga malas kesana, jadi ke apotik aja." Jelas Alif.
Ingin bertanya lebih jauh, tapi Dara sadar dirinya siapa. Mereka baru kenal, tidak etis rasanya jika terlalu banyak bertanya.
"Begitu. Hmmm, yaudah kalau gitu aku pamit pulang, kamu jaga kesehatan." Kata Dara cepat.
Alif mengangguk. "Makasih,"
"Assalamu'alaikum," ucap Dara.
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab Alif.
Dara berjalan menjauh menuju parkiran.
Alif menatap Dara yang semakin menjauh. Namun, ia sadar. Alif langsung menunduk.
"Astaghfirullah, jaga pandangan," ucap Alif.
***
Ilham memijat pelipisnya.
"Rey, lo ngajak gue ke kafe ini lagi cuma mau bahas beginian?" Tanya Ilham kesal.
"Ham, lo bilang mau bantuin gue."
"Iya, gue mau bantuin lo. Tapi kalo saran gue aja lo abaikan gimana?" Kata Ilham.
"Gue udah kasih beberapa saran. Tapi lo diem aja, lo tetep mengandalkan cara lo yang ngajak cewek pacaran," lanjut Ilham.
Reyhan terdiam, pandangannya kosong.
"Rey, lo inget ini baik baik. Seperti kata Dara yang lo ceritain tadi, pacaran itu bukan solusi. Bener. Kata Alif, kalo lo emang serius sama Dara, mending langsung diseriusin, datangin rumahnya bicara sama orangtuanya. Kata gue, lebih baik lo jujur, ngomong yang sebenernya sama orangtua lo, dan orangtua Dara. Selesaikan itu dulu." Jelas Ilham serius.
Reyhan menatap Ilham.
"Gue nggak siap, Ham."
"Kalau lo apa apa nggak siap, lo berhenti deketin Dara. Setidaknya jangan ngajak dia pacaran, lah."
"Gue pengen jujur, tapi gue nggak siap kalau orangtua Dara membenci gue. Kalau mereka benci gue otomatis akan sulit buat dapat restu mereka kalau gue niat buat nikahin Dara." Kata Reyhan pelan.
"Lah, itu kan sudah resiko, Rey. Itu konsekuensinya, berani berbuat, berani bertanggung jawab," jelas Ilham.
Lagi lagi Reyhan terdiam.
"Lo udah mikir kek gitu. Tapi, sebelum lo fitnah Dara, apa lo mikir gimana perasaannya?"
Reyhan bergeming. Pikirannya kembali menerawang ke masa lalu.
Flashback On
"Arghh! Kenapa, sih papa nggak mau ngerti perasaan anaknya. Gue capek! Hidup gue udah di atur selama ini. Masa perjodohan ini gue harus terima juga?" Kata Reyhan kesal.
"Keterlaluan, sih. Hidup lo terlalu dikekang, Rey," ujar salah satu teman Rey yang bernama Rendi.
Reyhan sedang berada di sebuah tempat dimana ia dan teman temannya sering nongkrong bersama. Reyhan terkenal sebagai siswa yang nakal dan sering melanggar aturan sekolah.
Reyhan begitu karena ia merasa hidupnya dikekang oleh orangtuanya, ia merasa tidak memiliki kebebasan.
Sebelumnya, Reyhan dikenal anak yang baik di sekolah. Namun, setelah ia dijodohkan dengan Dara, sikapnya berubah.
"Lo udah ngelakuin saran gue?" Tanya Rendi.
Reyhan mengangguk. "Gue udah pernah bilang ke bokap gue kalau Dara itu bukan cewek baik, tapi bokap gue nggak percaya."
Rendi tampak berpikir.
Tiba tiba Rendi menjentikkan jarinya. "Kalau gitu, lo harus tunjukkin bukti kalau Dara bukan cewek baik baik."
Reyhan mengernyit. "Bukti apa? Dara itu cewek baik."
"Makanya, kita harus buat bokap lo percaya kalau Dara itu nggak baik." Kata Rendi.
Reyhan masih bingung.
"Gini ..."
Rendi menjelaskan rencananya.
"Oke, gue setuju."
Keesokan harinya Reyhan mulai menjalankan rencana yang dibuat Rendi. Ia menghampiri Dara dan mengatakan bahwa ada yang menunggunya di belakang sekolah.
"Siapa?" Tanya Dara.
Reyhan segera memutar otak.
"Risa," jawab Reyhan.
Dara percaya saja. Terlebih yang mengatakan itu adalah orang yang disukainya. Dara pun tidak mencurigai apa apa.
"Halo. Dara udah kesana, cepet!" Ucap Reyhan pada oranh dibalik telepon.
Dara mencari Risa ketika sudah tiba dibelakang sekolah.
"Ris! Risa!" Panggil Dara.
Tiba tiba, Rendi datang bersama beberapa temannya.
Dara langsung melangkahkan kakinya untuk pergi.
Namun ...
Rendi langsung memegang kedua pergelangan tangannya, saat itu juga ada sebuah kamera yang berhasil menangkap adegan itu.
"Kamu mau kemana?" Tanya Rendi seraya tersenyum licik.
"Lepas!" Bentak Dara.
Tiba tiba Rendi langsung memeluk Dara.
Cekrek!
Berhasil!
Dara membulatkan matanya, sekuat tenaga ia langsung mendorong Rendi. Rendi yang tak siap pun terdorong kebelakang.
Kesempatan itu digunakan Dara untuk kabur.
Rendi dan teman temannya tak mengejar. Rendi tersenyum penuh kemenangan.
Reyhan keluar dari tempat persembunyiannya. Ia tersenyum miring melihat foto yang berhasil ia dapat.
Dara terus berlari sampai ke kelas. Ia melihat Risa yang duduk di kursi sambil membaca buku.
Dara langsung berlari dan memeluk Risa. Risa terkejut.
"Ra, kamu kenapa?"
Dara tak menjawab, ia menangis sesenggukan.
Risa tak menjawab, ia menunggu Dara selesai menangis.
Dara melepas pelukannya. "Ris ... hiks, kamu tadi ... hiks, nunggu aku dibelakang sekolah?" Tanya Dara.
Risa mengernyit kemudian menggeleng. "Enggak, Ra," jawab Risa.
"Tapi ...."
Dara menceritakan semuanya, mulai dari Reyhan yang mengatakan bahwa Risa menunggunya sampai saat Rendi yang kurang ajar berani memeluknya.
"Kurang aj ar!" Umpat Risa.
"Kamu dibohongin Reyhan, Ra!" Kata Risa kesal.
Dara terdiam.
"Sini! Biar aku hajar Reyhan sama Rendi brengsek itu!" Risa ingin berdiri, namun Dara menahan lengannya.
"Jangan, Ris."
"Jangan apa? Mereka itu udah kurang ajar! Aku nggak terima!" Risa sudah emosi.
"Plissss, mau gimanapun Reyhan itu udah dijodohin sama aku, aku juga cinta sama dia. Aku nggak mau buat orang tuanya sedih."
Risa tak habis pikir dengan jalan pikiran sahabatnya ini.
"Kalo aku jadi kamu, udah aku batalin perjodohan ini, gimanapun caranya."
Dara terdiam, kata kata Risa mengingatkannya pada kata kata Reyhan.
Dara pulang sekolah pukul tiga sore karena ia harus ikut ekskul beladiri di sekolahnya.
Sesampainya di rumah, Dara heran melihat orangtuanya dan orangtua Reyhan sedang berkumpul. Dan ada Reyhan juga.
"Assalamu'alaikum," ucap Dara ketika memasuki rumah.
"Wa'alaikumussalam," ucap semua orang.
Dara semakin bingung tatkala semua orang menatapnya dingin.
Ibu Dara langsung menghampiri Dara.
Plak!
Dara terkejut bukan main. Ia memegang pipinya menatap ibunya tak percaya.
"Bunda ...," ucap Dara lirih