Don't Hope

Don't Hope
#16



"Oooohhh ... pantes dari tadi kok suaranya kek kenal. Tapi Yusuf dulu pernah cerita kalo punya adik perempuan." Kata Rendra yang malah ngobrol dengn Dara.


"Iya, pak. Saya adiknya kak Yusuf. Sebentar ya, pak. Saya cari kakak saya dulu." Kata Dara.


"Jangan panggil saya, pak. Anggap aja saya kakak kamu, saya teman kakak kamu," ujar Rendra.


"Maaf, pak. Tapi-"


"Nggak ada tapi-tapian, saya sangat keberatan kalau kamu panggil, pak. Saya belum setua itu, kalau panggil bapak pas di kampus aja" potong Rendra.


Dara menghela nafas. Ia merasa heran dengan sikap Rendra. Tapi Dara tidak ingin berdebat.


"Iya, kak," ucap Dara pelan.


Disana Rendra tersenyum senang. Ia melirik Alif yang ternyata diam-diam menyimak pembicaraan mereka walaupun terlihat fokus pada komputer didepannya.


"Dek," panggil Yusuf.


Dara menoleh. "Kak, kak Yusuf udah ada disini, kalau gitu saya kasih telponnya ke kak Yusuf." Kata Dara.


"Iya, Ra," jawab Rendra. Dara menyerahkan ponsel Yusuf. "Kak Rendra," ucap Dara memberitahu Yusuf.


Yusuf mengernyit mendengar adiknya memanggil temannya dengan sebutan 'kak.'


"Assalamu'alaikum, Ndra," ucap Yusuf.


"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh, Suf," jawab Rendra.


"Gimana kabarmu?" Tanya Yusuf.


"Alhamdulillah, aku baik. Kamu gimana?"


"Alhamdulillah ... aku juga baik. Ngomong-ngomong tadi kenapa Dara manggil kamu kak? Kemarin dia masih manggil kamu pak." Kata Yusuf.


Rendra melirik adiknya. "Nggak papa, Suf. Biar lebih akrab. Dara, kan calon adik ipar gue," ujar Dara.


Uhuk!


Alif yang sedang minum langsung tersedak mendengar perkataan Rendra. Sedangkan Rendra menatap Alif seraya menahan tawa.


Alif menatap tajam Rendra.


"Bisa aja kamu, Ndra," ucap Yusuf yang menganggap Rendra hanya bercanda.


"Aku serius, Suf. Eh? Aku denger Dara ada yang mau ngelamar, apa iya?" Tanya Rendra.


Alif menepuk dahinya. Apakah abangnya ini ingin mempermalukan dirinya?


"Ada yang mau ngelamar, tapi belum jadi," jawab Yusuf.


"Loh kenapa belum jadi?"


Alif langsung menoleh menatap abangnya.


"Nggak papa, Ndra. Oh ya, kamu kenapa? Tumben banget nelpon aku?"


Rendra terdiam sejenak. Rendra tau bahwa temannya ini pasti mengalihkan pembicaraan.


"Nggak papal, aku mau main ke rumahmu. Aku main ke Kediri." Kata Rendra.


"Wihh, kesini aja, Ndra. Sekali-kali main ke Kediri," ujar Yusuf senang.


"Oke, kalo aku mau berangkat, aku kabarin, aku aja adik aku juga." Kata Rendra. Alif melotot.


Percakapan Rendra dan Yusuf masih berlanjut. Alif mengemasi barang-barangnya dan pergi menuju kamarnya.


Kata-kata Rendra tadi memenuhi kepalanya.


"Jadi Reyhan belum ngelamar Dara? Aku pikir sudah." Batin Alif.


Tak lama kemudian, Rendra menghampiri Alif ke kamarnya.


Ceklek!


"Lif, besok ikut kakak ke Kediri, yuk!" Ajak Rendra.


"Umi gimana, bang?" jawab Alif.


"Besok umi mau ke rumah tante Widya yang di Kediri. Jadi kita berangkat sama Umi. Abang tadi udah minta izin sama umi." Kata Rendra.


"Kamu mau di rumah ini sendirian? Liburan, kok mengurung diri di rumah," lanjut Rendra agak menggerutu.


"Aku jagain toko buku."


Rendra mendelik. "Toko buku, ada Arga yang jagain. Ikut abang sekali-kali aja napa, sih."


Alif menghela nafas. "Iye."


Keesokan harinya ...


Dara sedang sibuk bermain dengan anak-anak yang berada di panti asuhan. Letaknya tak jauh dari rumah Dara. Dara sering kesana bersama Aminah. Terkadang mereka juga membawa makanan untuk anak-anak.


Kebiasaan itu pun diketahui oleh Reyhan.


"Assalamu'alaikum Dara."


Dara menoleh, ia membulatkan matanya dan berdiri. Didepannya, Risa tengah berdiri sembari tersenyum


"Wa'alaikumussalam, Ris," jawab Dara. Ia langsung memeluk sahabatnya.


"Iya, aku kangen sama mereka," ujar Dara seraya melihat anak-anak yang tertawa bahagia.


"Sini duduk!" Ajak Dara.


Risa dan Dara duduk bersama anak-anak. Anak-anak panti sedang sarapan bersama.


"Ra, Ilham mau kesini," ucap Risa tiba-tiba.


Dara menatap Risa. "Ngapain?"


Risa menggeleng. "Nggak tau, pagi tadi dia nge-chat aku, katanya hari ini dia mau kesini bareng Alif."


"Mau ke rumah aku. Terus katanya dia bawa orangtuanya. Aku bingung sama gugup. Makanya aku nemuin kamu." Jelas Risa. Terdengar suaranya cemas.


"Bawa orangtua? Itu artinya ...." Dara tak melanjutkan kata-katanya.


"Nah, kamu paham, kan? Maksudnya ke rumah aku bawa orangtuanya berarti mau ...."


"Ngelamar!" ucap Dara dan Risa serempak.


Sontak keduanya tertawa pelan. "Ih! Serius!" Omel Risa.


"Ya udah. Mending dia langsung ngelamar kamu, daripada ngajak kamu pacaran." Kata Dara.


"Iya. Tapi nggak semudah itu, Ra. Orangtuaku pengen aku kuliah dulu. Gimana, dong?"


Dara menggenggam tangan Risa yang mulai dingin. "Tawakal. Serahkan semuanya sama Allah."


***


Ilham masih tak percaya kalau Rendra itu kakaknya Alif. Selama ini Alif tidak pernah memberitahunya.


Ilham memang sudah niat akan melamar Risa. Ia mengumpulkan keberanian dan mencoba bicara dengan kedua orangtuanya. Ilham sudah bekerja, mempunyai usaha sendiri. Ilham tidak mau menunda dan membuatnya malah mendekati zina. Jadi orangtua Ilham menyetujuinya.


Ilham naik mobil bersama orangtuanya menuju Kediri. Sedangkan Rendra dan Alif bersama ibunya, Aisyah naik mobil sendiri.


Sesampainya di Kediri, Rendra langsung melihat alamat rumah yang dikirim oleh Yusuf melalui ponselnya.


Sesampainya di rumah Yusuf.


Yusuf yang sedang menunggu di teras rumah langsung berdiri dan menghampiri Rendra yang sudah turun dari mobil.


"Suf!" Teriak Rendra.


Keduanya berpelukan.


"Orangtua kamu tau, kan kalo aku mau kesini?" Tanya Rendra.


Alif turun. Rendra sudah mengantar Aisyah ke rumah tante Widya karena rumahnya sebelum rumah Yusuf.


Alif menyalami tangan Yusuf.


"Wahhh, ini adek kamu? Ganteng, ya." Kata Yusuf sambil menepuk bahu Alif.


Ilham juga turun bersama orangtuanya. Yusuf menyalami tangan orangtua Ilham.


Dara dan Risa yang sedang berjalan menuju rumah Dara heran melihat dua mobil yang berada di halaman rumah Dara.


"Ada tamu? Siapa, ya?" Tanya Dara.


"Jangan-jangan Reyhan yang mau ngelamar kamu," ujar Risa asal.


Dara mendelik. "Ngomongin soal Ilham ngelamar kamu, kenapa jadi aku dibawa-bawa." Kata Dara kesal.


"Stop dulu, Ra!" ucap Risa menahan tangan Dara.


"Apa?"


"Itu ... itukan Ilham sama Alif!" Kata Risa. Ekspresinya terkejut.


Dara menyipitkan matanya. "Iya, ayo buruan kesana!" Dara langsung menarik tangan Risa.


Yusuf yang masih bicara tak sengaja melihat kearah dimana Dara dan Risa sedang berlari.


"Nah, itu Dara!" Seru Yusuf. Sontak seluruh atensi mengarah pada kedua gadis yang tengah berlari.


Alif tersenyum tipis.


"Cieee," goda Ilham. Alif memukul lengannya.


"Harusnya kamu yang tegang, mau ngelamar anak orang." Kata Alif.


Dara dan Risa menyalami tangan orangtuan Ilham.


Ketika giliran Risa. "Pak, bu, ini lho calon menantunya," ujar Ilham. Risa membulatkan matanya.


"Maa Syaa Allah ... cantik, ya." Kata ibu Ilham.


Risa tersenyum malu.


"Ayo masuk dulu. Pak, bu," ajak Yusuf.


"Mmmm ... nak Yusuf, lain kali saja, ya. Kami mau ke rumah nak Risa dulu, ini ... si Ilham pengen cepet-cepet ngelamar Risa." Kata Ayah Ilham.


Yusuf tersenyum. Kemudian mengangguk. "Iya, pak."


Bersambung ...