
Reyhan termenung di kamarnya. Ia memikirkan kata kata Alif dan Ilham.
"Gue pengen nikahin Dara, tapi apa dia mau? Dan orang tua gue pasti nggak setuju sebelum gue jujur sama mereka." Gumam Reyhan.
"Tapi kalo gue jujur, kemungkinan papa sama mama bakal kecewa sama gue, apalagi ayah sama bunda nya Dara," lanjut Reyhan.
"Arggghh! Gue harus gimana!" Reyhan mengacak acak rambutnya frustasi.
Dara berangkat ke kampus sendirian, Risa tidak masuk karena sedang sakit.
Saat berjalan di koridor, seseorang memanggilnya.
"Kak Dara?"
Dara membalikkan badannya.
"Lho? Mas kok ada disini? Kuliah?" Tanya Dara.
Orang yang dipanggil mas oleh Dara ternyata adalah Alif.
"Jangan panggil mas, saya nggak suka dipanggil mas. Lagipula saya rasa umur kita nggak beda jauh, saya seumuran sama Ilham." Jelas Alif.
Dara sedikit terkejut. "Ternyata orang ini bisa banyak ngomong juga." Batin Dara.
"Kalau gitu jangan panggil saya kak." Kata Dara.
"Panggil nama aja, ya?"
Dara mengangguk.
"Kamu kenapa bisa kesini? Kuliah? Terus kenapa manggil aku?" Tanya Dara beruntun.
Alif tertawa pelan. " Saya kuliah disini udah lama, dan saya manggil kamu karena mau ngembaliin gelang ini." Kata Alif seraya memberikan sebuah gelang yang terlihat sudah lama karena warnanya sudah pudar.
"Ini punya kamu?" Lanjut Alif.
Dara terdiam sejenak lalu kemudian mengangguk pelan.
"Iya, itu ... punya aku. Kenapa bisa ada sama kamu?"
"Oh, kemarin waktu saya lagi membereskan buku, saya nemu ini di lantai dekat rak. Terus digelangnya ada inisial R sama D, saya nebak ini punya kamu, eh ternyata benar." Jelas Alif.
Dara mengambil gelang itu. "Makasih," ucap Dara.
Alif mengangguk. "Kalau gitu, saya permisi. Assalamu'alaikum," ucap Alif.
"Wa'alaikumussalam," jawab Dara.
Dara menatap gelang itu datar. Ia menggenggam gelang itu kuat. Ingin membuangnya tapi hatinya tak ingin.
Dara menghembuskan napas kasar. Ia memasukkan gelang itu di kantong jaket yang ia kenakan.
Dara berjalan menuju parkiran.
"Aku izin buat nggak masuk kerja aja, kasian Risa nggak ada yang jagain." Batin Dara.
"Nanti mampir ke apotik beli obat." Gumam Dara sembari mencari kunci motor yang berada didalam tasnya.
Sebelum sampai di parkiran, langkah Dara terhenti.
"Kenapa dia harus duduk disana, motornya disebelah motorku lagi." Gerutu Dara kesal.
Reyhan. Lelaki itu sedang duduk santai di motor sportnya sembari memainkan ponselnya.
Dara menarik napas dan menghembuskannya perlahan.
Dara melanjutkan langkahnya. Reyhan langsung menatapnya.
Dara mencoba terlihat tenang. Tapi percayalah, saat ini dirinya tengah dilanda kegugupan.
"Ra."
Dara memejamkan matanya. Kenapa dipanggil?
Dara membalikkan badannya.
"Ya?"
"Apa kita nggak bisa perbaiki hubungan kita?" Tanya Reyhan membuat Dara ingin menendangnya sekarang juga.
"Maksudnya?"
"Balikan."
Reyhan terdiam memperhatikan Dara yang tertawa pelan.
"Emang pernah pacaran?" Tanya Dara disela sela tawanya.
"Dulu-"
"Itu hanya status," potong Dara cepat.
Reyhan tertegun.
"Aku pengen memperbaiki semuanya, Ra," ujar Reyhan lirih.
"Dengan cara apa? Pacaran? Itu maksudnya?" Tanya Dara sedikit sinis.
Lagi lagi Reyhan terkejut. Dara sudah berubah, pikirnya.
Entah kenapa setiap kata yang keluar dari mulut Dara terasa menusuk hatinya. Ia kembali dilanda perasaan sedih dan bersalah.
"Ra-"
"Pacaran itu bukan solusi Reyhan, bukan pilihan yang tepat. Itu nggak baik," potong Dara lagi.
Reyhan terdiam.
"Permisi. Assalamu'alaikum," ucap Dara kemudian memakai helm dan menyalakan motornya.
"Wa'alaikumussalam," jawab Reyhan lirih.
Reyhan memandang kepergian Dara dengan nanar.
Dara melajukan motornya menuju apotik.
Sesampainya di apotik, Dara menghela napas gusar. Setelah percakapan dengan Reyhan tadi, dirinya tak tenang.
"Astaghfirullah," ucap Dara.
Dara berjalan menuju apotik. Lagi lagi dirinya dibuat heran dengan keberadaan Alif disini, dan ada beberapa siswi SMA disana.
"Permisi, kak," ucap Dara pada wanita yang bertugas di apotik.
Dara menjelaskan pada wanita itu.
"Kamu sakit?" Tanya Alif yang sedari tadi diam menyimak.
Dara duduk di kursi yang agak jauh dari tempat Alif duduk.
Dara menggeleng. "Enggak, buat Risa."
"Risa yang sakit?"
Dara mengangguk.
"Pantes nggak keliatan pas di kampus." Gumam Alif yang masih bisa di dengar Dara.
"Kamu nyariin Risa?"
"Nggak. Ilham yang nyariin," jawab Alif.
"Ilham yang nyariin." Gumam Dara sambil mengangguk anggukkan kepalanya pelan.
Alif tersenyum, membuat gadis gadis itu histeris.
"Kak, boleh foto nggak?" Tiba tiba seorang siswi menghampiri Alif dan mengajak foto bersama.
"Eeehhh, jangan. Itu ada pacarnya." Kata gadis lain.
Dara menautkan alisnya. Apa apaan?
"Masa, sih? Kalau pacaran nggak mungkin duduknya jauh gitu." Kata gadis itu lagi.
"Kakaknya ganteng banget tau!" Seru gadis yang lain.
"Caper banget, sih!" Gerutu Dara pelan yang masih bisa didengar Alif.
"Saya nggak caper, buktinya kamu nggak baper," ujar Alif.
"Aaaaaaa!" Para siswi itu semakin histeris.
Dara langsung memasang wajah dingin, sedingin mungkin.
Bersambung ...