
"KALIAN JANGAN BERCANDA!". Marah. "Nishimiya... ". Sedih. "Petapa suci tolong ramal dimana temanku yang bernama hinata". Memberitahu. "Nishimiya... ". Sedih. "Diam lah xiao". Kesal. "Nishimiya dengarkan aku dulu!". Memegang tangan nishimiya.
"Hi.. hinata dia telah mati". Memberitahu. "Ahh... ". Terkejut. "Mana mungkin... mana mungkin?!". Sedih. ".... ". Terus melihat nishimiya. "Nishimiya shoka, walaupun hal itu menyakitkan tapi itu kenyataannya dan kenyataan tidak akan bisa di ubah".
"Petapa suci tolong jangan katakan hal itu dulu kepada nishimiya". Kasihan. "Tidak apa-apa xiao aku tau kau merasa kasihan kepadaku, tapi asal kau tau aku sudah cukup banyak melewati momen menyedihkan seperti ini". Tersenyum. 'Sempat-sempatnya dia masih bisa tersenyum'.
"Nishimiya shoka perjalanan mu masih panjang dan kau juga harus menemukan kedua orang tuamu". Memberitahu. "Apa petapa suci tau dimana keberadaan ayah dan ibuku?". Bertanya. "Dia ada di kota modern yaitu tokyo". Memberitahu. "Terimakasih atas informasinya".
"Ayo cepat xiao kita menuju ke tokyo". Memberitahu. "Baik". Perjalan pergi. "Oh iya ada satu hal yang ingin aku beritahukan kepadamu nishimiya shoka". Membawa kantung. "Ada apa petapa suci?".
"Kau tau hinata mati bukan karena iblis". Nishimiya terkejut. "Lalu bagaimana bisa hinata mati petapa suci?". Penasaran. "Dia mati karena usia". Memberitahu. "Usia? benar juga dia tidak bisa abadi seperti aku dan xiao". Sadar. "Kami berangkat dulu".
Setalah beberapa hari melewati lembah dan juga gunung-gunung akhirnya xiao dan nishimiya hampir tiba di tokyo. "Kita berada di desa?". Makan. "Kau tidak buta arah kan xiao?". Perasaan tidak enak. "Tentu saja tidak!". Marah. "Asal kau tau nishimiya aku ini mempunyai penglihatan elang jadi jangan khawatir".
"Aku ingin sekali mengunjungi makamnya hinata untuk mengunjungi nya". Berpikir. "Nishimiya benar nih kita mencari orang tua mu?". Bertanya. "Kenapa?". Bingung. "Seharusnya mereka sudah mati bukan?". Nishimiya pun tersadar. "Kau benar tapi yang ku cari bukanlah kebenarannya".
"Soalnya aku kaget saja". Malu. "Jangan malu-maluin xiao". Mengejek. "Kau yang malu-maluin!!". Ngambek. "Ahahaha, sudah-sudah ayo kita melanjutkan perjalanan kita ke tokyo". Perjalanan pergi. "Tunggu sebentar". Mengikuti.
Dan begitulah perjalanan ku bisa di bilang masih sangat jauh dan juga sangat berbahaya, banyak tantangan juga di jalan karena iblis jaman sekarang bisa merubah diri mereka menjadi manusia dan aku selalu waspada di mana pun kita beristirahat di desa-desa tertentu.
Bisa saja desa itu di penuhi dengan iblis yang bebas berkeliaran, aku dan xiao harus saling melindungi satu sama lain agar iblis tidak ada celah untuk membunuh kami. Dan juga xiao mulai sekarang harus mengerti paa itu teknologi jaman modern agar dia tidak di anggap manusia gua.
Selama berhari-hari aku habiskan waktu ku untuk berlatih pedang dan kecepatan untuk mengalahkan iblis. Jaman modern seperti sekarang pasti tidak percaya dengan iblis seperti itu mereka hanya menganggap itu sebagai mitos masyarakat saja.
Tapi suatu hari nanti saat mereka melihat secara langsung pasti mereka akan sangat ketakutan. Sudah sampai di sini saja teman-teman perjalanan ku aku harus menuju ke tokyo selanjutnya...
"Jurus tarian bunga kematian...Ketsueki... ".