Dejavu

Dejavu
Pindah Kota, memulai kehidupan baru



"Dek, Kakak jadwal kuliah umum sudah mulai minggu depan, jadi Kakak berangkat dulu ya ke Malang. Nanti sore kakak berangkat naik kereta" Fahri menyampaikan kabar hari itu.


"Ohya...berarti kita belanja perlengkapan kost dulu dong kak" jawab Tianing.


"Nggak usah..kakak belanja disana saja" jawab Fahri santai. Dia bahkan tidak berfikir bahwa yang dimaksud Tianing adalah termasuk belanja kebutuhan kost Tianing.


"Ohh..ya sudah..." kata Tianing kecewa. Ketidakpekaan Fahri terhadap hal-hal kecil seperti inilah yang sering membuat Tianing lelah hati.


Keesokan harinya Tianing menceritakan itu ke Harya.


"Ya udah yuk, saya antar Adek belanja kebutuhan kost" hibur Harya penuh semangat.


"Heh...belanja berdua ? Nanti kalau ada yang liat gimana ?" kata Tianing sambil terkekeh.


"Ya, kita belanjanya di Jogja saja dong" sekali lagi ide Harya membuat Tianing bengong dan melotot.


Dan benar saja, akhirnya mereka berdua pergi ke Jogja untuk belanja kebutuhan kost Tianing.


Tianing merasa senang sekali, karena ini kali pertama dia bisa pergi dengan Harya tanpa perlu khawatir ada orang yang dikenal melihat mereka, tanpa harus terburu waktu untuk segera pulang. Mereka berdua benar-benar menikmati momen berbelanja dengan santai.


Sesekali mereka bisa bergandengan tangan dengan erat.


"Kenapa kakak melihat aku seperti itu" tanya Tianing, saat Harya memperhatikan, tersenyum dan melihat dengan lekat gerak gerik Tianing yang sedang sibuk memilih-milih barang dan sesekali minta pendapat Harya.


" Karena saya bahagia sore ini. Saya berharap di waktu yang akan datang bisa sering menemani Adek sekedar berbelanja seperti ini" jawab Harya


"Amiinn.." jawab Tianing sambil nyengir bahagia.


Bagi Harya maupun Tianing, momen-momen kecil seperti ini pun menjadi hal yang spesial. Mereka, terutama Harya selalu menikmati dan mensyukuri momen sekecil apapun bersama Tianing.


Seminggu kemudian, setelah jadwal kuliah umum selesai, Fahri pulang kerumah. Setelah itu mereka mulai sibuk mempersiapkan segala sesuatunya untuk mulai pindah kota. Termasuk mempersiapkan Raja tinggal dirumah Uti-Kakung dan mendaftarkan dia ke sekolah PAUD.


Tiba saatnya bagi Tianing dan Fahri pindah kota untuk kuliah selama minimal 1,5. Saat itu bertepatan dengan bulan Ramadhan.


Seperti sebelumnya, Harya dengan alasannya yang cerdik berhasil meyakinkan Fahri agar dia bisa mengantar Tianing. Kali ini alasannya karena dia diminta pulang ke Surabaya oleh Ibunya. Meskipun Tianing sudah menyampaikan bahwa mereka berangkat tidak di weekend, tapi Harya bersikukuh, dan dia ambil cuti kerja, demi bisa mengantar Tianing.


Pagi itu Tianing mengantar Raja ke sekolah PAUD sekaligus pamitan. Anak itu cuma menangis sebentar, sama seperti anak lainnya saat masuk sekolah PAUD pertama kalinya. Setelah itu dia sudah enjoy dengan guru dan teman-temannya. Tapi justru Tianing yang tidak bisa menahan sedihnya. Berat sekali dan pedih rasanya dia harus meninggalkan Raja. Tianing merasa seperti mendurhakai Raja. Tapi..kehidupan tetap harus jalan maju kedepan bukan.


"Jangan sedih Tianing, karena kalau kamu sedih Raja akan ikut merasakannya, dan akan membuatnya ikut sedih juga"


"Kalau sudah disana, jangan mikirin Raja terus, nanti dia kerasa"


"Awalnya jangan pulang dulu saja. Biarkan setidaknya sebulan dulu, biar Raja terbiasa pisah dari ibunya dulu. Takutnya kalau langsung sering pulang dia malah klayu terus, susah pisahnya"


"Tidak usah sering-sering ditelpon, takutnya dia malah jadi kangen terus pengin ketemu"


begitu kira-kira pesan dari keluarganya, membuat hati Tianing merasa semakin teriris-iris.


Pagi itu, diiringi isak tangis Tianing, mereka berangkat, memulai satu kehidupan baru. Fahri maupun Harya sengaja diam, memberikan waktu bagi Tianing untuk menumpahkan kepedihannya harus berpisah dari Raja.


Dan rencana perjalanan hari ini adalah ke Surabaya dulu mengantar Tianing, memastikan kebutuhan dan penataan kost Tianing beres, baru kemudian Fahri dan Harya singgah ke rumah orangtua Harya, baru kemudian ke Malang. Seperti sudah dirembug sebelumnya, Harya menawarkan diri untuk merawatkan mobil mereka selama mereka kuliah, dan siap antar jemput Raja jika Raja ingin pulang ke rumahnya untuk bertemu Mbah Kakung.


Dan sebenarnya itu hanyalah salah satu dari sekian ide jitunya, agar dia bisa antar jemput Tianing juga saat Tianing pulang pergi Solo-Surabaya.


Fahri, yang memang tidak pernah overthinking menyetujui saja, dengan pertimbangan dia tidak butuh mobil di Malang karena jarak kost dan kampus cukup ditempuh dengan jalan kaki kurang dari 10 menit. Kostnya juga tidak menyediakan tempar parkir mobil. Dan dia merasa lebih nyaman naik kereta api saat pulang pergi Solo-Malang.


Selama perjalanan mereka bertiga lebih banyak diam. Terhanyut dalam pikiran masing-masing, membayangkan bagaimana kehidupan mereka selanjutnya ke depan.


Tianing juga lebih banyak beristirahat karena beberapa hari sebelumnya dia menjalani terapi pengobatan alternatif untuk menghilangkan kista yang ada di perutnya yang baru saja diketahuinya saat dia cek ke dokter kandungan karena merasakan ketidaknyamanan di perutnya. Dia memutuskan untuk menjalani pengobatan alternatif karena jika operasi, waktunya sudah tidak memungkinkan karena dia harus segera pindah kota. Sementara jika harus menunggu selesai kuliah, dia khawatir kondisinya akan semakin memburuk.


Sesampainya di Surabaya, mereka bertiga masih harus ke supermarket untuk belanja barang-barang yang masih kurang. Menata kamar kost Tianing. Dan tibalah waktunya mereka harus berpisah.


Fahri memeluk dan mencium Tianing di depan Harya.


"Adek baik-baik ya disini. Seminggu sekali kakak kesini, atau nanti gantian Adek yang ke Malang. Minggu berikutnya kita pulang ke Solo" pesan Fahri. Tampak semangat dan berusaha menguatkan Tianing.


Di belakang Fahri, Harya memandang Tianing dengan pilu, tampak sekali bahwa sebenarnya dia tidak ingin berpisah.


Saat Fahri berjalan menuju mobil, Harya berbisik


"I'll see you soon. I'll call you everyday"


Tianing menjawab dengan senyumannya. Dia lambaikan tangan ke Fahri suaminya, dan Harya guardian angelnya.


Rasa hatinya campur aduk, ada rasa sedih, rasa bahagia, rasa semangat, rasa khawatir. Dia menangis di dalam kamar barunya. Dia resah, apakah keputusannya ini adalah keputusan yang tepat. Bagaimana nanti dia menjalani hidup sendirian di kota itu. Dan yang lebih membuatnya sedih karena ini adalah bulan Ramadhan pertama kalinya dalam hidupnya dia harus buka puasa dan makan sahur seorang diri.


Untuk mengurangi kegalauan hatinya, dia menyibukkan diri menata kamar. Kemudian akhirnya dia kecapean dan tertidur.


Malamnya dia sahur seorang diri, mencari makan sendirian di dini hari ke warung makan di dekat kostnya, makan sahur sendirian. Dan tidak ada telepon ataupun sekedar pesan kabar dari Fahri. Tianing tersenyum pedih, berusaha menikmati hidup baru yang akan segera dijalaninya. Dan dengan Bismillah dia sekuat hati memantapkan tekad dan berjuang mengalahkan semua rasa takut dan khawatirnya. Dia mempersiapkan diri untuk pagi itu mulai kehidupan baru, masuk ke kampus sebagai seorang mahasiswi S2.