
Siang itu Tianing merasa benar-benar resah. Dia duduk termenung di meja kerjanya sambil memandang Surat Tugas yang dipegangnya, sementara teman-teman di sekelilingnya sibuk dengan aktivitas masing-masing.
Tianing galau, menimbang-nimbang apa yang harus diputuskannya.
Satu sisi, dia sangat senang dengan kesempatan besar yang diberikan kepadanya tersebut. Kesempatan mengikuti Bimbingan Teknis untuk menjadi seorang ahli. Kesempatan yang diinginkan banyak orang di kantornya itu justru dipercayakan kepadanya oleh atasannya, yang biasa dipanggil Bapak olehTianing. Padahal Tianing adalah pegawai yunior.
Tianing tentu saja juga menginginkan kesempatan itu...hanya saja permasalahan saat ini adalah, Tianing punya anak yang masih kecil. Tianing merasa tidak tega harus meninggalkan anaknya selama 1 minggu, sementara sebelumnya Tianing sama sekali belum pernah meninggalkan anaknya 1 haripun.
Tianing terhenyak dari lamunan saat Bapak melewati depan mejanya dan melangkah menuju ruang kerjanya. Tianing buru-buru mengekor Bapak sambil membawa Surat Tugas itu.
"Bapak..." suara Tianing merajuk lemas
"Apa..." jawab Bapak santai sambil duduk di kursinya.
"Saya bingung...harus berangkat apa tidak..."
Bapak adalah seorang lelaki yang memiliki pembawaan tenang, sangat penyabar dan bijaksana. Usianya sudah mendekati pensiun, makanya Tianing memanggilnya Bapak. Bapak sangat puas dengan kinerja Tianing selama Tianing bekerja di kantornya, karena meskipun Tianing termasuk pegawai yunior, tapi Tianing memiliki kinerja terbaik di kantor tersebut. Tianing juga paling bisa diandalkan Bapak untuk menyelesaikan banyak pekerjaan. Kondisi ini memang menimbulkan banyak kecemburuan dari teman-teman kantornya yang lebih senior.
" Kenapa bingung ?" tanya Bapak dengan tenang.
"Anak saya masih kecil Bapak.... Masih butuh ASI. Saya kok merasa tidak tega meninggalkan dia. Kalau dia rewel bagaimana..."
"Tau nggak mbak..ibunya anak-anak itu dulu pernah diminta Bimtek selama 2 bulan, padahal anakku waktu itu baru berumur 2 tahun. Pulang-pulang anakku tidak kenal ibunya. Dia hanya kenal Mae, pengasuhnya. Tentu saja istriku nangis mbak...tapi itu hanya berlangsung 2 hari saja..habis itu sudah biasa" cerita Bapak
" Mbak Tianing cuma 1 minggu kan. Lagipula cuma di Jogja. Kalaupun mbak Tianing nggak tega, setiap selesai sesi kan bisa pulang meskipun malam. Cuma 1 jam perjalanan juga. Nggak usah nginep hotel. Sudah, beres. Apa yang perlu dikhawatirkan" petunjuk Bapak
"Kamu butuh Bimtek ini mbak untuk pengembangan kariermu. Aku milih kamu karena aku tau kamu mampu. Yang lain juga banyak yang mau..tapi aku milih kamu lho. Jangan sia-siakan kesempatan ini. Jangan kecewakan kepercayaanku" tegas Bapak.
Tianing tidak bisa lagi beralasan.
"Baik Bapak...tapi saya coba minta ijin suami saya dulu ya pak..."
" Ya, silahkan"
Sore hari sesampainya dirumah, Tianing menyampaikan tentang penugasannya ke suaminya.
"Kak, kakak tau kan tentang penugasan Bimtek itu...di kantor kakak ada yang ditunjuk juga kan. Di kantor ade, ade yang diminta berangkat sama Wahyu dan mbak Sri. Gimana kak ? boleh tidak ?" tanya Tianing ke suaminya. Tianing berusaha menyampaikan pelan-pelan karena khawatir suaminya tidak mengijinkan.
Namun diluar dugaan Tianing, suaminya menjawab " Iya... berangkat saja...lagian ade butuh refreshing. Sejak hamil sampai dengan Raja umur 3 tahun kan ade belum pernah istirahat mengurus Raja"
"Tapi nanti kalau Raja rewel malam hari gimana ?"
" Ya nanti kalau misal Raja rewel nggak bisa tidur, ade tak jemput. Paginya ade tak antar kesana"
Jawaban suaminya membuat Tianing akhirnya memutuskan untuk berangkat Bimtek di Jogja selama 1 minggu meskipun dia belum yakin bagaimana nanti Raja selama ditinggalkan dia.
Pagi harinya Tianing berangkat menuju lokasi acara Bimtek bersama 2 orang teman kantornya yang ditunjuk untuk mengikuti Bimtek juga, Wahyu dan mbak Sri. Wahyu adalah sahabat terdekat Tianing di kantornya.
Wahyu yang sudah bersama mbak Sri menjemput Tianing menuju lokasi Bimtek di Jogja.
Bimtek yang diselenggarakan oleh Kementerian itu diikuti oleh para Pegawai Negeri Sipil yang ditunjuk dari Pemerintah Kabupaten/Kota di seluruh Indonesia.
Ya...Tianing adalah seorang PNS dari salah satu Dinas di Kota Solo. Dari Pemerintah Kota Solo sendiri ada beberapa orang yang ditunjuk dari masing-masing Dinas.
"Okay.." jawab Tianing singkat.
Pikiran Tianing hanya ke Raja anaknya. Gimana dia nanti malam.
tapi lalu terngiang juga ucapan suaminya :" bersenang-senang saja selama Bimtek. Tidak usah memikirkan rumah. Raja biar aku yang urus, sama Mbah kakung juga pasti bantuin jaga Raja"
"Benar juga..." pikir Tianing.
Selama 4 tahun ini Tianing benar-benar merasa tidak pernah istirahat siang malam. Bekerja di kantor, mengurus urusan rumah, mengurus Raja. Dia belum pernah punya waktu me time.
seluruh waktu dan pikirannya hanya tercurah untuk anaknya, Raja. Maklum, Raja adalah anak pertama Tianing.
selama itu juga Tianing merasa dia mengalami baby blues dan kekhawatiran yang berlebihan. Hal ini disebabkan karena suaminya bukan tipe lelaki yang paham harus berbuat apa untuk membantu istrinya dirumah. Fahri, suaminya adalah tipe seorang lelaki yang sangat santai menjalani hidup. Tipe lelaki yang merasa jika dia sudah bekerja, memberikan seluruh gajinya untuk anak istrinya, maka tanggungjawabnya sudah selesai. Dia tipe lelaki yang menganggap semua urusan rumah adalah tanggungjawab seorang istri. Bukan, bukan karena dia tidak mau membantu istrinya, tetapi dia tidak pernah punya inisiatif sendiri untuk membantu. Tentu saja dia mau membantu Tianing; ketika Tianing meminta tolong. Hal ini pula yang membuat Tianing semakin capek. Capek karena dia harus selalu "meminta tolong" dulu ke suaminya ketika dia merasa capek atau kerepotan.
Fahri tidak pernah menolaknya, pasti mengerjakan apa yang dikatakan Tianing, kecuali dia sedang tidur. Persoalannya adalah hampir kebanyakan waktu dirumah dia habiskan untuk tidur, dan ketika anak istrinya sudah tidur di malam hari, dia bergadang untuk main game.
Orang lain yang tidak paham menyebut Tianing "tipe istri yang suka memerintah suami". Julukan yang melekat pada diri Tianing, yang tentu saja hal tersebut tidak diinginkannya. Julukan yang menambah beban mental Tianing.
Berkali-kali kesempatan Tianing sudah menyampaikan ke Fahri tentang situasi itu. Berkali-kali Tianing minta Fahri untuk lebih peka terhadap situasi dirumahnya. Mereka yang tidak punya asisten rumah tangga. Mereka yang pulang pergi kerja bareng, dan sama-sama bekerja sebagai PNS, yang artinya beban kerja merekapun sama. Artinya saat Fahri bilang "capek kerja", hal itu juga sama dirasakan Tianing. Apalagi Tianing juga masih mengurus Raja.
Tianing hanya ingin Fahri dengan inisiatifnya sendiri mau membantu pekerjaan rumah apa yang dia bisa kerjakan, tanpa harus diminta Tianing.
Tianing juga berkali-kali menyampaikan bahwa dia merasa terbebani secara mental ketika dia dicap orang sebagai istri yang suka menyuruh-nyuruh suaminya. Tianing merasa dia berdosa setiap kali harus menyuruh-nyuruh Fahri. Tianing merasa berdosa ketika mereka lagi-lagi harus bertengkar karena hal-hal kecil yang membuat Tianing capek.
Tapi jawaban Fahri selalu saja :" sudahlah de..nggak usah over thinking...jika memang butuh bantuan tinggal bilang saja. Toh selama ini juga aku tidak pernah menolak kan. Aku juga nggak pernah merasa marah atau rendah karena ade nyuruh-nyuruh aku kok".
Masalahnya....Tianing capek karena harus selalu menyuruh-nyuruh...
" Kali ini biarlah aku istirahat, punya waktu me time...semoga kesempatan ini bisa membuat aku refresh...menghilangkan stresku selama 4 tahun ini...
Raja...maafkan ibu yang sering marah-marah ke Raja ya nak...ibu belum bisa jadi ibu yang tangguh, yang kuat menghadapi hidup.
Maafkan ibu karena Raja yang sering jadi korban pelampiasan stres ibu...maafkan ibu yang sering memukul badan kecilmu nak...maafkan ibu yang mendurhakaimu sayang..." batin Tianing, mengingat kepedihannya selama 4 tahun terakhir ini. Air matanya meleleh...untung saja Wahyu dan mbak Sri tidak menyadarinya karena Tianing duduk di jok belakang sendirian. Sementara mereka berdua asyik mengobrol selama perjalanan.
Sejam kemudian mereka sampai di hotel Istana Jogja. Di kursi lobby nampak 2 teman Wahyu sudah menunggu.
"mbak Aning, mbak Sri..kenalin..ini mas War dan ini Doni temanku, dari Dinas Komunikasi mbak" Wahyu memperkenalkan kami ke teman-temannya.
Ya meskipun mereka sama-sama berasal dari Pemkot Solo, tapi beda Dinas belum tentu sudah saling kenal.
"halo mbak...mbak berdua sudah kami pesankan kamarnya ya mbak. ini kuncinya" kata mas War
" Makasih mas...ohya, lah ini bertiga..trus nanti Wahyu sekamar sama siapa ?" tanya Tianing
" oh..ada 1 lagi teman kami mbak sebenarnya. Dia CPNS baru di kantor kami. Dia sedang mandi d kamarnya. Nanti Wahyu sekamar sama dia" jawab Doni
" Okay, kalo gitu kami ke kamar dulu ya mas-mas...sampai ketemu nanti jam 1 di ballroom ya" kata mbak Sri.
Merekapun masuk ke kamar hotel masing-masing.