
"Yuk mbak Sri kita ke ballroom sekarang, sudah terlambat nih kita" ajak Tianing
"He..he...iya dek, kok kita malah keenakan ngrumpi ya di kamar" jawab mbak Sri.
Sesampainya di ballroom acara sudah mau dimulai. Para pejabat dari Kementerian sudah hadir semua. Cepat-cepat Tianing dan mbak Sri mencari tempat duduk yang masih kosong. Alih-alih berkumpul dengan teman-teman dari Pemkot Solo, mereka malah bergabung dengan rombongan dari Kota Bandung. Akhirnya mereka semua saling berkenalan, dan ada seorang ibu yang cantik, langsing tapi cerewet bernama bu Yasmin yang langsung bisa akrab dengan Tianing dan mbak Sri.
Acara pembukaan Bimtek dimulai, dilanjutkan Pretest dan materi Bimtek. Acara selesai pukul 21.00 WIB, dan sebelum acara ditutup panitia mengumumkan bahwa seluruh peserta Bimtek harus mengumpulkan phas foto 4 x 6 dengan background warna merah, untuk nanti ditempel di sertifikat ketika acara Bimtek telah berakhir.
Tianing tidak terlalu memperhatikan pengumuman itu. Dia celingak celinguk mencari orang dari Pemkot Solo yang kira-kira dia kenal. Tidak lain tidak bukan, tujuannya cuma satu, mencari tebengan pulang kalau ada yang berniat pulang dan tidak menginap di hotel.
Kebetulan, dia melihat orang yang dikenalnya. Teman kantor Fahri suaminya.
"Pak..pak Gatot..." Tianing lari-lari mengejar Pak Gatot.
"Oh..mbak Aning. Ikut juga tho..Gimana mbak ?"
"iya pak...maaf pak mau tanya, pak Gatot rencana mau pulang atau menginap ya ?"
"Saya mau pulang mbak. mbak Aning mau pulang juga ?
"Eh, iya pak..kalau tidak merepotkan saya mau bareng bapak.." kata Tianing malu-malu.
"Oh..iya..ayo bareng saya. Kan saya pulangnya juga nglewatin rumahnya mbak Aning. Sekalian besok pagi kembalinya kesini bareng saya lagi saja" kata Pak Gatot
"Wahhh..siap pak. Terimakasih banyak ya pak.
Saya kembali ke kamar sebentar naruh tas ya" Tianing lari-lari kecil mengejar mbak Sri yang tadi sudah jalan duluan.
"Mbak, mau pulang tidak ? bisa bareng pak Gatot"
"Enggaklah dek, aku nginep sini terus saja"
"Oh...ya udah, aku pulang ya bareng pak Gatot"
"Okay dek...iyalah, kalo dek Aning pulang aja, punya tanggungan anak kecil kan. Kalau aku kan nggak punya anak dek, pulang malah cuma capek aja".
"Oh iya ya mbak..."
Malam itu Tianing lega karena akhirnya bisa pulang. Sejak tadi resah, membayangkan jangan-jangan Raja menangis dan tidak bisa tidur.
Sesampainya dirumah, Tianing langsung menuju kamar Raja. Rupanya Raja sudah tidur, ditemani Mbah kakungnya.
" Gimana kak, tadi rewel nggak Raja ?" tanya Tianing ke Fahri.
"Enggak. sama sekali nggak rewel kok. Biasa saja"
"Syukurlah..." Tianing akhirnya lega
"Besok tidak usah pulang saja tidak apa-apa dek. Selesai Sesi malam jam 9 kan ? trs pagi jam 7 harus sudah sampai, capek di jalan nanti kamu dek"
"Iya kak. Kalau Raja tidak rewel ya gakpapa"
Keesokan harinya Tianing sampai di hotel langsung gabung sarapan bersama peserta lainnya. Dia berjalan kearah satu meja, berniat bergabung dengan teman-teman dari Pemkot Solo, namun tiba-tiba Bu Yasmin, ibu cantik nan langsing dari Kota Bandung memanggil.
" Eh...mbak...sinih..gabung sama kami...." Bu Yasmin melambai-lambaikan tangannya meminta untuk mendekat. Tianing melihat, di mejanya hanya ada mbak Sri saja, sementara di meja-meja lainnya penuh orangnya.
Tianing bergabung....dan pada akhirnya paham, kenapa orang-orang rombongan dari Kota Bandungpun tidak ada yang mau gabung dengannya.
Sepanjang sarapan, tanpa berhenti bicara dengan gaya khas emak-emak sosialita, Bu Yasmin memamerkan jabatannya, tunjangan jabatannya, berapa uang yang dia bawa, perhiasan-perhiasannya, suaminya yang juga pejabat tinggi, anak-anaknya, dll...
Tianing dan mbak Sri hanya jadi pendengar, dan sesekali hanya saling pandang menahan tawa. Ibu-ibu rombongan Kota Bandung sesekali melirik sinis ke arah Bu Yasmin. Sepertinya mereka benar-benar heran dengan tingkah laku Bu Yasmin.
Tanpa disadari Tianing, ada seorang lelaki yang memperhatikan dia terus. Lelaki yang duduk di meja depannya. Duduk bersama rombongan Wahyu dan kawan-kawan.
"Eh, bentar ya mbak. saya permisi ke toilet dulu" kata Bu Yasmin tiba-tiba dan langsung beranjak ke toilet.
"hahhahaha...Ya Alloh dek, capek aku dari tadi ndengerin ibuk itu ngomong" kata mbak Sri sambil tertawa lepas.
"iya mbak...aku juga...hahhaha"
lumayan lama Bu Yasmin tidak kembali ke meja makan. Tianing dan mbak Sri beranggapan mungkin dia langsung balik ke kamar. Mereka berdua meneruskan sarapan dengan santai.
Tiba-tiba saja, dua orang security datang ke area restoran dan memberikan pengumuman.
"selamat pagi bapak/ibu, mohon maaf mengganggu kenyamanan bapak/ibu sarapan. Kami mohon waktu, mohon kesediaan bapak/ibu untuk tidak beranjak dulu dari meja masing-masing. Atas permintaan ibu ini kami akan melakukan pengecekan, dikarenakan ada laporan dari ibu ini, bahwa tadi dompetnya tertinggal di toilet dan saat dicari kembali dompetnya sudah tidak ada.
Mohon maaf bapak/ibu" kata salah satu petugas security.
"What !! astaga....ternyata Bu Yasmin....!!"
hebohlah seisi restoran. Semua menjadi gusar, semua merasa tersinggung karena dianggap pencuri.
"Sudah dicek kembali belum bu. Kalau seperti ini caranya ibu sama saja menuduh kami semua pencuri. Jangan-jangan cuma lupa. Sudah dicek di kamar, di tas, dicek yang bener !!" teriak salah satu bapak-bapak yang marah.
"ehh...maaf ya...saya sudah cek ulang di toilet, dan saya bukan pelupa, jelas tadi saya bawa dompet ke toilet !" timpal Bu Yasmin dengan gaya songongnya.
" saya tidak menuduh bapak/ibu semua..saya cuma minta semua dicek, karena yang bisa masuk ke toilet ya cuma tamu-tamu disini. Dan saya tadi melihat, orang yang masuk ke toilet setelah saya, itu...dua orang mas-mas yang duduk disitu" sambil menunjuk Wahyu, dan lelaki yang ada disebelahnya, yang dari tadi memperhatikan Tianing.
Tianing kaget dan auto memandang kearah lelaki yang duduk di meja depannya dan langsung berhadapan dengannya. Lelaki itupun memandang kaget kearah Tianing.
Dua mata itu bertemu pandang...
Bukan tuduhan Bu Yasmin yang dipikirkan Tianing. Tapi dia kaget, karena baru sadar, tepat di depannya dari tadi ada seorang lelaki yang dia belum kenal, namun dia yakin itu dari rombongan Pemkot Solo. Entah kenapa seperti ada magnet dan suatu perasaan aneh yang Tianing tidak pahami. Namun segera ditepisnya. Tianing berpikir, oh sepertinya ini teman sekamar Wahyu yang kemarin belum sempat kenalan.
Tianing kembali tersadar dan ikut heboh bersama orang-orang disekitar.
Entah apa yang dipikirkan lelaki itu saat memandang Tianing.
Berbeda dengan lelaki itu dan Tianing, Wahyu langsung teriak ke Bu Yasmin.
"Apa !!! ibu menuduh kami pencuri ? silahkan sekarang cek kami. cek juga cctv. Kalau perlu kami buka baju, kami buka baju. Tapi, kalau tidak terbukti, di depan semua orang ini ibu harus minta maaf ke kami. Sembarangan saja menuduh kami !!" teriak Wahyu.
"Eh....saya tidak menuduh mas ya. Saya cuma menyampaikan, kalau tadi yang masuk toilet setelah saya itu mas. Ya bolehlah saya panik. Tau nggak ! di dalam dompet itu ada uang cash 10 juta. Mau saya pakai untuk belanja ke Malioboro nanti malam ! belum lagi kartu debit dan kartu kredit saya. surat-surat penting lainnya juga" balas Bu Yasmin sewot.
Orang-orang bertambah heboh dan panik. Para pegawai hotelpun mulai gusar. Semua pegawai sepertinya membantu mengecek kembali, tempat-tempat yang tadi sempat didatangi Bu Yasmin.
Saat petugas security mulai memeriksa tamu yang ada di restoran, tiba-tiba seorang petugas cleaning service datang dan mendekati security sambil membawa sebuah dompet.
"Mohon maaf bapak/ibu atas ketidaknyamanan bapak/ibu pagi ini. Ini ternyata dompetnya sudah ditemukan, jatuh terselip diantara wastafel dan tempat sampah. Sekali lagi mohon maaf, silahkan melanjutkan aktivitas bapak/ibu semua" pengumuman petugas security
"Huuuu !!" teriak orang-orang. Dan dengan konyolnya Bu Yasmin melengos meninggalkan orang-orang tanpa minta maaf.
Tianing dan mbak Sri bergabung dengan teman-teman dari Pemkot Solo. Mereka berjalan menuju Ballroom sambil masih heboh dan tertawa-tawa membicarakan peristiwa yang baru saja terjadi.
Sampai ballroom, entah kenapa Tianing dapat kursi duduk bersebelahan dengan lelaki tadi. Lelaki yang belum dia tahu identitasnya.
"Maaf mbak, saya bersihin dulu ya meja dan kursinya, sepertinya ini agak basah" kata lelaki itu sambil membersihkan meja dan kursi yang akan diduduki Tianing.
"Silahkan duduk mbak" lelaki itu kemudian mempersilahkan Tianing duduk dengan sangat sopan.
"Terimakasih pak" jawab Tianing.
"Perkenalkan, saya Harya..temannya Wahyu. Saya masih CPNS di Dinas Kominfo" Harya, lelaki itu mengulurkan tangannya ke Tianing.
"Tianing" jawabnya singkat.
Dan entah ada suatu perasaan aneh apa yang menyusup ke dalam hati Tianing.