
Hampir tiga tahun Tianing menjalani hubungan spesial dengan Harya. Banyak perubahan terjadi dalam hidup Tianing. Namun sampai dengan saat ini dia tidak tahu mau dibawa kemana hubungan itu.
"Kak...aku ingin bicara serius dengan kakak" pinta Tianing siang itu.
"Yuk. Kita ijin keluar dulu saja ya. cari tempat yang enak untuk ngobrol" jawab Harya cepat
Kemudian mereka pergi meninggalkan kantor siang itu menuju ke sebuah tempat di perbukitan. Tempat yang sejuk, indah, dengan pemandangan gunung, perbukitan dan perkotaan yang tampak nun jauh dibawah. Tempat itu hanya ramai pengunjung saat weekend atau hari libur. Jadi siang itu sepi, dan mereka berdua bisa mengobrol santai.
"Kak...sebenarnya hubungan kita ini mau dibawa kemana sih..." suara Tianing nampak putus asa. Harya diam menatap tajam Tianing.
"Kita sebenarnya cuma main-main saja tidak sih?" kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulut Tianing. Sementara pandangan matanya kosong, ekspresi wajahnya datar.
" Tiga tahun bukan waktu yang sebentar. Dan perasaanku ke kakak semakin hari semakin kuat. Aku sudah bilang kan kalau aku juga sering mengalami dejavu. Setiap momen bersama kakak, aku merasa pernah mengalaminya sebelumnya. Aku merasa sudah lamaa mengenal kakak" mata Tianing mulai berkaca-kaca.
"Aku ingin bersama kakak seutuhnya....selama hidupku aku tidak pernah merasakan kebahagiaan ,ketenangan dan kenyamanan seperti yang aku rasakan saat dekat dengan kakak. For me, you are my guardian angel. Kakak sudah menyelamatkan aku dari kenestapaan hidup..." Tianing sudah tidak bisa membendung air matanya.
" Tapi kak.....akhir-akhir ini aku merasakan pedih sekali. Semua sikap, perkataan, bahkan cara orang memandangku pun sangat menyakitkan. Rasanya tidak adil jika hanya aku yang merasa stress menghadapi orang-orang, sementara kakak seperti tidak tersentuh. Kuperhatikan orang tetap segan sama kakak, ya saya tau sih itu karena kakak memang pintar bergaul dan bersikap dengan orang. Tapi sementara aku...orang menghujat habis-habisan. Aku kadang sampai berpikir...memangnya aku ini selingkuh sama hantu apa ya, kenapa yang dihujat hanya aku, sementara kakak tidak"
"Kata siapa saya tidak ada yang menghujat ? Banyak Dek, cuma semua tidak saya tanggapi dan tidak saya pikirkan" jawab Harya
"Teman-teman yang nakal banyak yang menyampaikan keheranannya Dek...kenapa saya memilih Adek..kenapa saya mengambil resiko untuk berurusan dengan mas Fahri sementara semua tahu mas Fahri itu seperti apa ? kata mereka semestinya saya bisa cari yang muda, cantik. Tapi kalau saya ditanya kenapa Adek, ya saya juga tidak tau...yang saya tau saya sayang Adek" jelas Harya sambil tersenyum dan mengacak-acak rambut Tianing.
"Iya sih. Menyakitkan juga kalau liat emak-emak muda yang cantik yang suka bersikap manja-manja gitu ke kakak. Seolah pandangan mata mereka itu mengatakan, He Tianing loe tu nggak pantas deket-deket Harya. Cantik enggak, langsing enggak, tinggi enggak, pinter enggak, ramah enggak, lemah lembut juga enggak. Nggak ada istimewa-istimewanya tapi berani-berani dekat dengan Kakak yang ganteng, supel, ramah, pinter pula" timpal Tianing bersungut cemburu. Harya hanya nyengir menggoda Tianing.
"Aku merasa seolah semua kesalahan hanya ditimpakan ke saya, sementara Kakak nggak disalahkan karena kakak bersikap baik pada semua orang. Itu menyakitkan kak....Aku juga berpikir kita tidak mungkin bersatu. Terlalu banyak dinding pemisah kita..." kata Tianing sedih.
"Dinding pemisah apa yang Adek maksud ? setiap hari kita bersama, ya meskipun tidak bisa sepenuhnya sih"
"Kak...kakak itu berfikir tidak tho. Kita sama-sama berkeluarga....selain itu...yang jelas tidak mungkin juga...kita beda keyakinan" Tianing sulit melanjutkannya
"Dek..semua itu tergantung cara berfikir kita. Kalau kita mau cari perbedaan, sesama-samanya kita pasti ada perbedaan. Tapi kalau kita cari kesamaan, sebeda-bedanya kita pasti tetap ada kesamaan"
"Tapi rasanya aku nggak sanggup kak. Menyakitkan kalau ingat kita tidak ada harapan dan masa depan. Sepertinya sebaiknya kita akhiri hubungan kita. Kalau memang kita berjodoh, nanti pasti akan dipersatukan kembali" kata Tianing terbata sambil mengusap bulir bening di pipinya.
"Kata siapa kita nggak punya harapan ? Justru kalau kita berpisah, kita tidak punya masa depan. Jangan dek, kita jangan berpisah" Harya meyakinkan.
"Tapi kita jalan ditempat Kak. Kita sama-sama tidak punya keberanian untuk membuat sebuah keputusan besar. Kita sama-sama pengecut" Tianing menundukkan kepalanya.
"Bukan pengecut Dek...tapi kita tetap harus pakai logika. Saya cuma tidak ingin menyakiti siapapun bahkan mas Fahripun. Adek mau menyakiti ? tidak kan. Kita jalani saja seperti ini, saya yakin suatu saat nanti pasti ada jalan, jika itu sudah waktunya"
"Suatu saat kapan ? sampai kapan kepastiannya ? sampai tua ? kakek nenek ?"
"Jika memang itu waktunya kenapa tidak ? Saya cuma berusaha bijak dek karena tidak ingin menyakiti siapapun, keadaan belum berpihak pada kita, itu saja. Tapi sesungguhnya saya tergantung Adek. Kalau memang Adek siap dan berani, ayo..kita sama-sama meninggalkan keluarga kita, bahkan resign dari PNSpun saya siap. Adek siap ?" kata Harya tiba-tiba dengan tegas.
Tianing kaget, hatinya menciut mendengar pernyataan Harya, karena sesungguhnya dia tidak punya sedikitpun keberanian untuk melakukan itu. Tapi sifat keras kepalanya tidak mengijinkannya untuk menyerah begitu saja.
"Trus habis itu ? kakak mau ikut agamaku ?" ucap Tianing begitu saja
"Kenapa nggak Adek yang ikut saya ?" Harya mencoba membalik pertanyaan.
"Karena akan lebih mudah buat kita jika kakak yang ikut aku. Circle kita akan lebih menerima jika seperti itu" Tianing berargumen.
"Kakak mau ?" Tianing sok-sok an menantang, tapi tidak menyangka jawaban Harya
Tianing jadi speechless, berpikir mencari penyangkalan lagi...
"Tapi aku mau Raja dan Tika ikut kita"
Harya menghela nafas..
"Saya tidak bisa memaksa Tika untuk ikut saya atau tidak"
"Tapi saya tidak bisa hidup tanpa Raja..." suara Tianing pelan.
"Nah kan....Adek itu sebenarnya sadar kalau sebenarnya Adek belum punya keberanian untuk membuat keputusan besar.
Sebenarnya Tianing sadar akan hal itu...
"Kakak sayang sama aku ?"
"sayang"
"Cuma sayang ? kakak nggak cinta kan sama aku ?"
"cinta"
"tapi kakak juga cinta mamanya Tika"
"Karena dia mamanya anakku. Tapi kalau bisa memilih, aku memilih Adek"
Tianing tambah menangis. Dia benar-benar galau, tidak tau sebenarnya yang diinginkannya.
Saat logika yang bicara, dia ingin mengakhiri hubungannya dengan Harya.
Saat hati yang bicara, dia ingin memiliki Harya seutuhnya.
Tapi saat kesempatan itu dimiliki, dia sama sekali tidak memiliki keberanian.
Dia benar-benar merasa menjadi seorang pecundang dan pengecut.
"Sini-sini kakak peluk" tiba-tiba Harya meraih Tianing dan memeluknya erat.
"Adek sabar ya..jangan menangis. Kakak minta tolong kita jangan berpisah, nanti akan ada jalan. Kakak sayang sama Adek, kakak sudah pada level nggak bisa berpisah dari Adek, sudah sedalam itu dek..." suara Harya menenangkan.
Tianing mendongak memandang Harya. Mencoba mencari kepastian pada sorot mata Harya, Harya memandangnya lekat, dan akhirnya bibir mereka menyatu dalam sebuah ciuman yang lembut, hangat, dalam dan lama untuk saling menguatkan. Mencoba saling memeluk jiwa.
Ya....itu adalah pelukan dan ciuman pertama mereka berdua setelah tiga tahun mereka hampir setiap hari bersama, setelah tiga tahun mencoba bertahan dari caci maki dan penilaian buruk orang.
Mereka berpelukan lama....seolah tak ingin melepaskan. Saling menguatkan untuk menghadapi dunia..
Tak terasa hari telah petang...
"Luvya.." Harya mencium lembut kening Tianing
"Luvya kak.."