Dejavu

Dejavu
Alibi



"Ning, dipanggil Bapak. Kamu diminta keruangannya" kata Zenneta teman seruangannya pagi itu ketika Tianing sampai kantor.


"Sepagi ini ? Ada apa ya ?" Tianing berpikir sambil meletakkan tasnya di kursi.


"Tauk..." jawab Zenneta sekenanya sambil melanjutkan pekerjaannya.


Tok ! Tok !


"Selamat pagi Bapak.." sapa Tianing di depan pintu ruangan Bapak.


"Ohya...masuk sini mbak...duduklah" jawab Pak Tinton, atasan Tianing di kantor.


" Baik Bapak" jawab Tianing sambil melangkah menuju kursi di depan meja kerja Bapak.


"Ada gerangan apa Bapak pagi-pagi gini sudah memanggil saya ?" selidik Tianing


"Iya mbak, memang sengaja pagi-pagi gini, sebelum banyak yang datang ke kantor, dan belum sibuk dengan kerjaan"


"Gini mbak..." suara Bapak mengambang, dan butuh jeda agak lama sampai dengan kalimat berikutnya.


"Ada yang ingin Bapak sampaikan ke mbak Aning" pembicaraan dimulai


"Anaknya sehat mbak ?"


"Alhamdulillah sehat pak"


"Suami ?"


"Baik-baik juga.."


Tianing masih meraba arah pembicaraan.


"Syukurlah kalau semua sehat dan baik-baik saja"


"Ada apa ya pak ?" tanya Tianing


"Sebelumnya maaf mbak. Mbak Tianing tahu kan selama ini Bapak suka dengan kinerja mbak Aning. Di ruangan ini cuma mbak Aning yang bisa saya handalkan. Saya percaya mbak Aning, semua pekerjaan juga selesai dengan baik dan cepat. Mbak Aning juga banyak memberikan masukan ke Bapak. Cuma masalahnya..." Bapak mulai memelankan suaranya.


"Akhir-akhir ini banyak yang laporan ke saya...mengeluhkan mbak Aning yang setiap hari pasti meninggalkan kantor dalam waktu yang lama. Yang saya dengar...mbak Aning selalu pergi makan siang dengan orang yang sama" Bapak berhenti bicara dan memandang Tianing tajam.


Tianing masih diam tak bergeming.


"Kalau saya pribadi sama sekali nggak masalah mbak...karena yang penting semua pekerjaanmu selesai. Masalahnya banyak orang yang mendesak saya untuk memberi teguran ke mbak Aning" lanjut Bapak.


"Iya pak...saya minta maaf karena sudah membuat repot Bapak"


"Siapa tho mbak yang makan siang dengan mbak Tianing ?" tanya Bapak


Hening sejenak. Aning menghela nafas panjang.


"Sebenarnya saya tidak pernah makan diang hanya dengan satu orang pak. Paling tidak ada 5 teman yang lain juga"


"Ooo..begitu..tetapi kenapa laporannya mbak Tianing setiap hari selalu pergi dengan pacarnya. Pergi jm 10 atau 11 pagi, balik ke kantor paling cepet jam 2 siang.


Tianing menunduk. Hatinya sakit mengetahui ternyata teman kantornya sanggup mengatakan hal seperti itu.


"Ya mungkin salah saya pak karena saya tidak pernah pamit ke teman-teman jika saya ada tugas dari Bapak" jawab Tianing berusaha bijak, sementara otaknya berpikir untuk memahami situasi yang sedang terjadi.


"Baik Bapak..mulai sekarang saya tidak akan lama-lama lagi jika makan siang. Dan saya akan pamit ke teman-teman jika saya ada tugas keluar. Atau mungkin saya akan ajak mereka biar mereka tahu apa yang saya kerjakan. Terimakasih atas bimbingan Bapak" Tianing pamit, karena hatinya pilu mengingat apa yang disampaikan teman-temannya.


Tianing merenung di mejanya. Dia mencoba mengingat kembali fragmen-fragmen peristiwa ataupun percakapan dengan teman-teman seruangannya. Tentang bagaimana mereka bersikap terhadapnya selama ini.


Akhirnya pada satu titik kesimpulan, Tianing baru menyadari bahwa teman-temannya banyak yang mengiri terhadapnya.


Dia yang masih termasuk pegawai yunior, tapi memiliki kedekatan yang lebih dengan para Pimpinan. Para Pimpinan banyak memberinya kepercayaan dalam hal pekerjaan. Dia yang selalu menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat pun rupanya membuat teman-temannya tidak suka, karena mereka yang tadinya terbiasa dengan ritme santai, dipaksa harus mengikuti ritme Tianing yang cepat.


Tianing yang selalu bicara apa adanya, selalu menyampaikan kebenaran meskipun itu menyakitkan, dan langsung menegur temannya jika temannya salah, ternyata itu menyakiti hati teman-temannya. Mereka menganggap Tianing suka bersikap Bossy.


Tianing selama ini tidak terlalu memperhatikan bagaimana perasaan teman-temannya. Dia hanya merasa bahwa apa yang dia kerjakan, katakan dan lakukan itu benar.


Tianing sedih mengingat hal itu...


Sekarang dia merasa bahwa ternyata dia tidak memiliki teman, dia merasa dia orang yang buruk karena tidak bisa menjaga sikap dan menjaga perasaan orang lain.


Kesedihannya bertambah, ketika mengetahui bahwa kedekatannya dengan Harya, dimanfaatkan mereka untuk menjatuhkannya.


Siang itu Tianing menceritakan semuanya ke Harya.


"Kalau kita sulit bertemu pada jam kantor, kita bertemu diluar jam kantor saja. Kita ketemu dirumah" komentar Harya setelah mendengar cerita Tianing


"Maksud Kakak ?" Tianing mendongak kaget.


Tianing mulai memanggil Harya dengan sebutan Kakak, semenjak orang mulai kepo dan menguping ketika Tianing telpon Harya. Agar orang tidak curiga dia panggil Harya Kakak, sama seperti panggilannya kepada Fahri, sehingga orang akan mengira dia telpon Fahri.


" Iya, saya akan berteman lebih dekat lagi dengan mas Fahri dan Raja. Adek juga harus lebih dekat lagi dengan Tika dan mamanya Tika"


Begitupun Harya, sudah memanggil Tianing dengan sebutan Adek, sama seperti panggilannya kepada istrinya karena orang juga curiga setiap dia telpon Tianing.


"Kedua keluarga kita bisa saling berteman dekat, dan kita bisa main bersama, piknik bersama atau saling mengunjungi main kerumah masing-masing. Yang penting kita bisa sering bertemu"


"Kakak sanggup ?"


"Sanggup. Adek ?"


"Selama bisa bersama kakak, apapun itu aku sanggup"


Dan benar saja, semenjak saat itu kedua keluarga kecil itu sangat dekat. Mereka sering piknik bersama dan juga saling berkunjung kerumah.


Harya memang tipe orang yang supel, pandai berkomunikasi dan sangat berkarisma. Dia pintar mengambil hati orang, termasuk dengan mudahnya dia mengambil hati Fahri sehingga mereka bisa berteman dekat. Mengingat karakter Fahri memang tipe orang yang santai menjalani segala sesuatu, tidak suka berpikir panjang apalagi berpikir negatif terhadap orang lain.


Istri Harya sendiri tipe orang yang nurut apa kata suami.Bahkan ibunya Harya kenal baik dengan Tianing, sebaliknya Mbah kakung, ayah dari Tianing juga sangat dekat dengan Harya.


Saat di circle kantorpun Harya sering menunjukkan kebersamaan dengan Fahri dan Tianing secara bersamaan. Hal ini dimaksudkan agar orang-orang melihat kedekatan Tianing dan Harya sebagai persahabatan ataupun persaudaraan.


Kedekatan mereka berdua semakin menjadi, mereka semakin tidak malu menunjukkan kebersamaan dengan alasan hubungan persahabatan dan persaudaraan.


Alibi telah dibuat, dan mereka menganggap situasi akan membaik saat mereka memiliki alibi tersebut.


Namun realitasi tidak berjalan seperti yang mereka harapkan. Orang tidak bodoh, mereka berdualah yang bodoh, karena tidak bisa menyembunyikan gesture dan juga sorot mata yang penuh cinta. Orang lain melihat itu dengan sangat jelas.