Dejavu

Dejavu
Friksi



"Ning..pleaselah...kamu jangan keras kepala seperti ini" kata Yoga suatu ketika.


"Aku menyampaikan ini karena kamu dan Harya itu teman baikku. Aku tidak akan menyampaikan ini langsung ke kamu kalau kamu bukan teman baikku. Aku juga paham, orang yang sedang jatuh cinta itu memang sulit dinasehati, sulit dipisahkan. Tapi pleaselah..kamu bersikap lebih cerdas dikit"


"Maksudmu ?" Tianing mulai tersinggung


"Ya kalian jangan terlalu menampakkan kebersamaan di kantor lah.... Semua orang bisa melihat, dan semua orang membicarakan kalian Ning...Circle kantor kita itu banyak orang lho Ning..ratusan..dan mereka bisa setiap saat liat kalian" jelas Yoga.


"Lah emang yang mereka lihat kami lagi ngapain ? Melakukan hal yang nggak bener ? Enggak kan. Kami cuma makan bareng. Bareng mereka-mereka yang ada di kantin juga kan. Dulu pada ngomongin kami pergi terus.... Sekarang makan di kantin kantorpun masih saja diomongin !" jawab Tianing jutek


"Duuuhhh..Ning...Ning..kamu ini cuma pura-pura bodoh atau bodoh beneran atau nekat sih ! emang susah ya ngomong sama orang yang lagi jatuh cinta !" Yoga yang kalem banget mulai tensi tinggi.


"Emang kalau sudah nikah nggak boleh ya punya sahabat yang lawan jenis ? Wahh....padahal dari jaman sekolah dan kuliah, sahabatku lebih banyakan cowok daripada cewek. Karena cowok itu nggak baperan, apa adanya, nggak ribet. Beda kalau cewek....banyakan baperan trus yang diluar dan didalam hati suka beda !" Tianing berargumen panjang lebar.


"whateverlah...gw udah ingetin" Yoga putus asa.


Tianing memang keras kepala.


"Orang nggak paham apa yang kurasakan" dia bersikeras. Hatinya selalu melawan...


"Mungkin kalian menganggap aku telah berubah dari seorang yang polos menjadi pribadi yang buruk. Tapi tahukah kalian...aku yang dulu sangat angkuh, anti mengatakan maaf dengan alasan karena aku tidak pernah punya niat jahat atau menyakiti orang lain. Aku yang dulu tidak pernah mengatakan terimakasih, dengan alasan aku tidak pernah meminta orang lain untuk membantuku. Aku yang nggak pernah mengharap orang lain berterimakasih padaku karena saat aku membantu orang lain aku ikhlas dan tidak mengharap apapun, jadi jika ada orang lain yang menolongku maka semestinya mereka ikhlas dan tak mengharapkan ucapan terimakasih dariku. Aku yang selalu bicara kasar apa adanya, dengan alasan bahwa apa yang aku sampaikan itu adalah benar. Aku yang tidak mengenal kata permisi sebelumnya dan bahkan cenderung suka memerintah orang. Aku yang tidak memahami makna kata sabar dan bagaimana bersikap sabar. Bahkan aku yang tidak bisa mengucap kata Saya, melainkan Aku. Tidak bisa bilang Beliau, melainkan Dia ....semenjak aku mengenalnya, aku bisa melakukan itu semua.


Dia yang mengajariku kata Maaf, Terimakasih, Permisi, Saya, Beliau.....dia yang mengajariku bagaimana bersabar, dia yang mengajariku untuk lebih menghormati dan menghargai orang lain. Dia yang menempaku menjadi sosok yang lebih dewasa....


Aku yang sebelumnya hanya bisa menyampaikan segala sesuatu dengan cara marah dan emosi, dia mengajariku bahwa semua hal bisa diselesaikan dengan bicara baik-baik.


Dia yang merubahku, yang tadinya ibarat bunga liar menjadi bunga indah di dalam pot yang terawat.


Kalian mungkin berfikir, bahwa kedekatanku dengannya akan merusak rumah tangga kami. Bahkan mungkin ada di antara kalian yang bertaruh, bakal berapa lama lagi rumah tangga kami bertahan...


Yang kalian tidak tahu..semenjak aku mengenal dia, rumah tanggaku jauh lebih baik kondisinya. Yang kalian tidak tahu...bisa jadi rumah tanggaku sudah selesai sejak kemarin- kemarin, jika aku tidak mengenalnya. Mungkin juga..entah aku masih ada di dunia ini atau tidak..."


Namun semua jawaban itu selalu hanya bisa dibatinnya. Tianing tidak pernah menyampaikan ke seorangpun tentang apa yang dia rasakan, dan perubahan seperti apa yang dia alami. Karena dia sadar, apapun alasannya orang tetap tidak akan percaya. Bagi orang lain, dia salah. Titik.


Sesungguhnya hatinya pedih setiap saat dapat cibiran dari orang disekitarnya. Orang memandangnya rendah, orang berpikir negatif terhadapnya. Sesungguhnya Tianing sadar apa yang dilakukannya itu tidak baik. Apapun alasannya, seharusnya dia tidak boleh sering bersama Harya.


Dalam satu hari dia bisa merasakan bahagia yang sangat, tapi disatu sisi ada kepedihan yang dia rasakan juga.


Namun tetap saja semua nasehat teman-temannya tidak diperhatikannya. Pada akhirnya membuat teman-temannya satu persatu menjauhinya. Sindiran-sindiran yang menyakitkan sering tertuju padanya..


"sedih aku....dia telah merusak kamu..kamu yang tadinya polos, dirusak dan dipermainkan laki-laki yang hanya iseng"


"Semua laki-laki yang seperti itu sama Ning, bilangnya sih cinta diluarnya baik, tapi sebenarnya cuma iseng saja, buaya. Kalau si perempuan menanggapi, ya seperti gayung tersambut"


"yang namanya selingkuh, itu tergantung pada si perempuannya. Kalau si perempuan tidak menanggapi, ya nggak akan terjadi. Makanya jadi perempuan itu yang kuat mental dan kuat iman"


"mbak, kapan putus..sudah 2 tahun lho"


"mbak, kapan mau taubat"


"mbak, kamu kalau lagi ML sama suami mbayanginnya sama dia ya"


"hedeeww..nggak tau malu, pergi sama suami orang"


dan banyak sindiran lainnya.


Serangan-serangan dari teman seruangan dia pun semakin gencar.


Saat terjadi mutasi Kepala Dinas, kantor Tianing mendapatkan Kepala Dinas yang baru. Kepala Dinas ini dahulu pernah tugas di kantor itu juga, sehingga teman-teman kantor Tianing sudah kenal dekat. Mereka memanggilnya Boss. Bahkan Boss inilah yang dulu merekrut teman-teman Tianing yang tadinya berstatus tenaga kontrak, sehingga kemudian akhirnya menjadi seorang PNS. Maka mereka memiliki kedekatan secara emosional yang lebih.


Kesempatan itu dipakai mereka untuk menyerang dan mengucilkan Tianing. Semua laporan yang buruk tentang Tianing disampaikan ke Boss.


Pada akhirnya Boss tidak menyukai Tianing.


Tianing sedih...namun dia tidak bisa apa-apa.


Dia merasa keadaan kantor menjadi tidak kondusif.


"Kak, tadi malam aku bermimpi...aku dikejar dua macan kumbang. Namun aku berada di tempat diatas yang tidak terjangkau mereka. Lalu aku malah mengejek-ejek dua macan kumbang itu karena mereka tidak bisa menjangkauku. Lalu kakak datang mengingatkan aku untuk hati-hati dan nggak boleh mengejek-ejek mereka, takutnya aku terpeleset" cerita Tianing suatu hari ke Harya.


Tianing nyengir mengiyakan.


Tidak hanya circle kantor yang sudah menjauhinya. Tianing mulai curiga, istrinya Harya mengetahui sesuatu.


Suatu hari saat ulang tahun Raja, mereka datang ke rumah Tianing. Dan bodohnya Tianing. Dia tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya saat dekat Harya. Arin, istri Harya memergoki Tianing dan Harya sedang main mata. Arin hanya diam, namun nampak sekali ada kekesalan disana.


"Kak..sepertinya mbak Arin sadar kedekatan kita" Tianing menyampaikan hal tersebut ke Harya.


"Bisa jadi....mata Adek itu lho..nggak bisa bohong. Besok-besok lagi hati-hati dek, kendalikan sorot mata Adek yang penuh cinta itu kalau ada banyak orang" kata Harya


"Kalau mbak Arin tau gimana ?"


"Sepertinya dia tau, setidaknya curiga" jawab Harya enteng.


"What ?!!. Terus ?"


"Saya mau cerita ke Adek sekarang ya..." lanjut Harya


"Cerita apa ?" Tianing mulai pasang wajah serius.


" Kapan itu kami bertengkar hebat" Harya mulai membuka percakapan.


Tianing diam memperhatikan sambil menyeruput minumnya.


" Saya pernah cerita sebelumnya kan, bahwa mamanya Tika itu lebih nurut ke Bapaknya dibanding saya, suaminya. Bapaknya yang sejak dulu tidak menyukai saya. Yang selalu menghina saya karena saya dianggap bukan siapa-siapa, tidak punya apa-apa, tidak sebanding dengan keluarganya. saya yang tidak dianggap, tidak bisa membahagiakan anak perempuannya. Saat marah selalu mengatakan menyesal telah menikahkan anaknya dengan saya" sejenak Harya diam.


"Kapan itu ada rapat keluarga. Saya diminta untuk pindah ke Pemda Jogja agar kami bisa tinggal dirumah Jogja. Beliau yang akan mengurusnya, mengingat dulu beliau pernah jadi Kepala Dinas disana. Alasannya, karena istri barunya tidak betah kalau mampir ke kontrakan saya, yang dianggap jelek dan tidak bersih. Setiap beliau datang, harus selalu mampir ke hotel hanya untuk sekedar ke toilet dan bersih-bersih badan. Dan mamanya Tika minta beli ini itu hanya agar ibu tirinya itu merasa betah saat datang ke rumah kontrakan kami. Semenjak Ibu Jogja meninggal, Bapak sikapnya semakin menjadi dan nggak terkontrol. Tapi mamanya Tika dan kakaknya kayak orang yang tidak punya pendirian gitu. Mereka sepertinya dari kecil sudah didoktrin Bapak jadi mereka sama sekali tidak berani melawan Bapak, meskipun jelas Bapak salah" wajah Harya nampak semakin sedih.


"Saya bilang, saya tidak mau karena saya lebih nyaman di Solo. Akhirnya kami bertengkar. Mamanya Tika membela Bapaknya terus dan tidak mau mengerti perasaanku. Dia tidak memahami bahwa harga diri saya akan semakin terinjak-injak jika saya tinggal di Jogja. Bapaknya akan semakin menghina dan memusuhi saya. Kami bertengkar hebat, sampai akhirnya saya memintanya untuk memilih Bapaknya atau saya. Dia menangis. Ibu yang kebetulan juga sedang ada disini ikut menangis. Ibu meminta saya untuk tetap bertahan dengan mamanya Tika. Gitu dek...kalau bukan karena pesan Ibu, saya lebih memilih untuk menyudahi rumah tanggaku dengan mamanya Tika" jelas Harya.


" Kenapa kakak baru cerita sekarang ?" Tianing bingung.


"Kenapa tidak pindah saja ke Jogja ? Sayang kan rumahnya disana gede banget nggak ada yang nempati" kata Tianing, meski dalam hati merasa pedih seumpama Harya pindah betulan.


"Yakin Adek mau saya pindah ?" tanya Harya seolah mengerti isi hati Tianing.


Tianing menelan ludah.


"Ya kalau itu yang terbaik..." jawab Tianing pura-pura bijak.


"Saya nggak mau" jawab Harya tegas dan sorot mata tajam memandang Tianing.


"Saya nggak mau berpisah dari Adek. Sudah berkali-kali kan saya cerita bagaimana sikap keluarga besarnya terhadapku. Adek bisa berpisah dari saya ? Kalau Adek memaksa saya pindah dan berpisah dari Adek lebih baik saya mengakhiri hidup saya saja. Saya sudah seringkali memikirkan hal itu. Dan Adeklah yang membuat saya tetap bertahan. Adek malah sering bela mamanya Tika"


Kerongkongan Tianing seperti tercekik. "Nggak boleh berfikir gitu kak...ya maaf, aku lebih sering mbelain mbak Arin kalau kakak curhat, mungkin karena kami sama-sama wanita, jadi aku cuma berusaha menjelaskan ke kakak dari sisi pemikiran dan perasaan wanita. Kakak jangan cerai dari mbak Arin...kasian Tika masih kecil, kasian Ibu juga, pasti beliau akan sedih"


Tianing menjelaskan panjang lebar, meski dalam hati kecilnya sebenarnya dia mengharapkan perpisahan itu, tapi akal sehat dan logikanya masih jalan dan mengalahkan egonya.


"Baiklah, saya akan tetap bertahan dengan mamanya Tika karena itu permintaan Ibu dan Adek"


Tianing diam. Sesungguhnya hatinya bagai tersayat sembilu.


"Lalu, hubungannya dengan sepertinya dia tau kedekatan kita apa ?" Tianing mengingatkan.


"Mamanya Tika sepertinya memang sudah tau, hanya saja dia tidak berani mengungkitnya. Dia takut saya akan menceraikannya.


Tianing auto pusing.


Sementara disisi lain, Fahri pun sudah mulai protes keras. Suatu hari dia pernah marah besar karena Tianing lebih memilih mengikuti rekomendasi Harya dibanding menuruti Fahri.


"Apa-apa kata Harya, apa-apa menurut Harya. Ya ! memang dia jauh lebih hebat daripada aku. Tapi aku ini suamimu ! Harusnya Adek lebih mendengarkan aku dibandingkan mengikuti semua kata Harya !!"


Semenjak dekat dengan Harya, memang tanpa disadari Tianing, dia lebih mengutamakan apapun tentang Harya, dibandingkan suaminya sendiri.


Satu hal yang kemudian disadari Tianing, Ternyata di hatinya sekarang hanya ada Raja dan Harya...


Rumah tangganya yang menurutnya semakin baik-baik saja, sesungguhnya bukan baik-baik saja, namun karena Tianing menjadi tidak peduli dengan sikap Fahri sehari-hari, sehingga mereka menjadi jarang bertengkar.