Dejavu

Dejavu
Menjadi candu, lupa hati hati, (hampir) lupa segalanya



Tianing dan Harya sangat menikmati malam itu sampai lupa waktu. Mereka baru sadar sudah waktunya check out saat telepon kamar berdering, rupanya resepsionis mengingatkan bahwa waktu booking mereka sudah habis.


"OMG...kita harus segera check out. Dan aku lupa dong harus kuliah" Tianing meloncat dari ranjang lalu cepat-cepat mandi dan beberes. Harya tertawa melihat situasi itu. Saat Tianing sudah siap, justru ditariknya kembali Tianing ke dalam pelukannya dan menjatuhkannya ke ranjang.


"Noo...what you doing kak. Kita sudah rapiii...ayo keluar.." Tianing berusaha melepaskan pelukan Harya dengan panik. Harya tertawa puas menggoda Tianing.


"Yuk. Tapi sini big hug dulu" Mereka berpelukan erat...lalu Harya mencium kening Tianing lama.


"Semoga kita bisa segera bertemu kembali ya Dek. Terimakasih ya untuk dua hari ini"


"Amiin..habis ini kita mau kemana kak. Kereta kakak masih nanti sore kan"


"Katanya mau kuliah ?" Goda Harya


"Sudah telat pake banget keless" Tianing nyengir.


"Kakak ajak jalan-jalan kota Surabaya aja yuk. Pasti banyak tempat yang belum Adek kunjungi kan" ajak Harya


"Asikk" Tianing semangat.


Siang itu mereka jalan-jalan di beberapa tempat di Surabaya. Harya terus menggandeng tangan Tianing kemanapun mereka pergi.


"Wahh...masnya sayang banget ya sama istrinya" komentar seorang tukang parkir di suatu tempat saat melihat bagaimana Harya memperlakukan Tianing. Mereka hanya saling pandang dan tersenyum bahagia.


Sampai akhirnya sore menjelang, dan waktunya bagi Harya untuk kembali ke Solo. Tianing mengantar sampai ke stasiun. Nampak sekali wajah muram Tianing saat harus berpisah.


"Hei..jangan sedih gitu..jangan nangis juga, malu dilihat banyak orang" Harya mengusap bulir bening yang keluar dari mata Tianing.


"Kakak janji bulan depan kakak tengok lagi kesini"


"Nggak pengin pisah dari kakak...." Tianing manyun manja dan kembali memeluk Harya


Harya tertawa " Dek..dek..malu diliatin banyak orang"


"Ya udah, ati-ati di jalan ya kak. Bye..luvya..misya..misya.."


"Bye..luvya..misya.."


Tianing merasakan kebahagiaan yang luar biasa hari itu,meskipun disisi lain dalam relung hatinya tersayat sebuah luka kecil. Dari hari kemarin sampai dengan sore itu tidak ada telepon ataupun sekedar chat dari Fahri, mengucapkan selamat ulang tahun pada Tianing. Hanya Raja yang kemarin sore meneleponnya yang mengucapkan selamat ulang tahun padanya.


Tianing merasakan sebuah ironi. Kenapa Harya yang secara status adalah orang lain, rela mengorbankan waktu untuk mengunjunginya, bahkan merencanakan semua ide untuk membahagiakannya, tapi Fahri yang secara status adalah suaminya, bahkan tidak ingat hari ulangtahunnya. Tianing merasa dia tak berguna, merasa tidak dicintai suaminya sendiri.


Namun Tianing tidak mau berlama memikirkan hal itu. Dia tutup luka hatinya dengan kebahagiaannya mendapatkan cinta yang besar dari Harya.


Meskipun Tianing dan Harya sudah mengenal dekat lebih dari 3 tahun, selama ini masing-masing masih menjaga imej. Namun semenjak hari ini seolah sudah ada kesepakatan tidak tertulis, kau milikku aku milikmu. Tidak ada lagi jaim- jaiman.


Dan semenjak hari itu Tianing begitu kecanduan kelembutan Harya. Begitupun Harya sangat kecanduan dengan cinta Tianing yang menggebu.


***


Harya menepati janjinya. Sebulan sekali dia mengunjungi Tianing ke Surabaya dan mengantar jemput Tianing dan Raja saat Tianing pulang ke Solo. Entah sebuah kebetulan, atau memang karena sudah garis takdir, setiap mereka ingin bertemu, disaat itu pula Fahri sedang tidak bisa menemani Tianing. Mereka berdua sampai heran, ketika menyadari seolah semesta mendukung mereka.


Pernah suatu hari saat Tianing mau mengantar Harya ke stasiun, dapat kabar dari group kelas, bahwa kuliah hari besok ditiadakan karena dosen pergi. Akhirnya Tianing ikut pulang ke Solo bareng Harya.


Pernah juga suatu hari, saat Tianing mau kembali ke Surabaya, Harya yang semula cuma mau mengantar sampai stasiun, tapi tiba-tiba saja memutuskan untuk mengantar sampai ke Surabaya.


Kenapa begitu mudah bagi Harya untuk sering ke Surabaya. Itu semua karena Harya masih menjadi freelance di kantor tempat kerjanya yang lama. Selain itu dia memang asli Surabaya, kedua orang tuanya tinggal di Surabaya. Jadi mudah baginya untuk pamit pergi ke Surabaya dengan alasan pekerjaan ataupun pulang kerumah orangtuanya.


Bahkan Harya kemudian menyewa sebuah apartemen yang berlokasi dekat dengan kantor lamanya, setiap kali mengunjungi Tianing. Tianing sangat suka tinggal di apartemen itu, karena suasananya yang enak dan romantis. Dan dari kamarnya yang ada di lantai 20 itu, dia bisa melihat lautan yang pemandangannya sangat indah di malam hari.


Ibarat pengantin baru, mereka sudah menjadi candu satu sama lain.


Dan ibarat orang yang sedang dimabuk cinta ,mereka menjadi lupa hati-hati, kadang terlepas bicara dan kadang jadi kurang mawas diri.


Tianing lupa hati-hati atau lebih tepatnya dia nekat tidak pernah memakai pengaman, sementara dia sadar dia tidak memakai alat kontrasepsi apapun.


Pernah mereka membahas..


"Kak, kalau aku hamil gimana ?"


"Bersyukur dong. Emang kenapa ? Kan punya suami"


"Maksudku kalau aku hamil anak kakak. Kan kalau dengan ayahnya Raja aku pakai pengaman, sementara dengan kakak, enggak"


"Ya nggak apa-apa juga kan kalau itu anakku. Malahan saya akan sangat bahagia"


"Maksud kakak ? lha kalau wajahnya mirip kakak, sewarna-warna kulitnya juga ?"


"Kan kalau orang hamil suka atau mbatin seseorang, anaknya nanti bisa jadi mirip sama orang itu. Tinggal bilang begitu saja tho"


Kelepasan bicara..


"Mbak, kok aku beberapa kali lihat mbak Tianing dijemput seorang laki-laki yang sama ya di kampus, tapi bukan suami mbak" tanya Wulan teman sekelas Tianing suatu hari.


"Oh..itu Kakakku" jawab Tianing kelepasan.


" Maksud mbak ? Kakak dalam tanda kutip ? mbak Tianing selingkuh ya ?" tanya Wulan. Tianing diam, pun tidak menyangkal apa yang disampaikan Wulan. Mau menyangkal bagaimanapun toh orang yang melihat tidak sebodoh itu. Akhirnya Tianing lebih memilih menceritakan kisahnya ke Wulan. Dan Wulanpun memiliki karakter yang tidak suka mencampuri urusan orang lain.


Kurang mawas diri..


Pernah juga suatu malam saat Tianing dan Harya sedang tidur di apartemen, tengah malam tiba-tiba hp Harya berbunyi notifikasi chat masuk. Tianing yang memang mudah terbangun oleh suara-suara, otomatis membuka chat itu. Dia tidak menyadari bahwa itu HP Harya.


Chat berbunyi :" Halo mas...gimana kabarnya ? sejak kemarin tidak memberi kabar. Tolong kalau sudah tidak sibuk, segera mengabari"


Tianing kaget dan auto hilang ngantuknya dan terlonjak duduk. Diamatinya HP itu, barulah dia sadar ternyata itu HP Harya. Tianing bingung..tapi kemudian dia pura-pura tidak tau.


Paginya..


"Adek buka hpku ?"


"Enggak" jawab Tianing, tidak berani menatap mata Harya.


"Dek..jangan bohong..ini chat mamanya Tika ter read" tampak wajah Harya pias dan sedikit galau


"Iya..maaf kak, semalam tidak sengaja kebuka"


"Saya harus jawab apa ya..saya itu sengaja dari kemarin memang balas chat-chatnya, karena saya tidak pamit mau ke Surabaya"


"What ?!" Tianing bingung nggak tau harus bilang apa.


"Mulai sekarang saya lock saja ya HPku, biar lbh hati-hati lagi"


"Iya kak, maaf ya.." kata Tianing. Dia merasa malu sekali. Sekaligus merasa kasian juga dengan mamanya Tika, membayangkan bagaimana perasaannya sejak kemarin.


Sehari-hari hanya Harya yang ada di pikiran dan hati Tianing. Dia tidak pernah lagi konsen dengan kuliahnya. Dia sudah tidak terlalu peduli lagi dengan Fahri, dan anehnya Fahri tidak menyadari itu. Dan yang lebih buruk, Tianing mulai jarang memikirkan Raja karena lebih sering telepon atau chat dengan Harya.


Candu itu benar-benar merubah semuanya...