Dejavu

Dejavu
Siapakah Harya



20 September adalah tanggal perkenalan mereka. Atau lebih tepatnya pertemuan kembali.


Hari-hari berikutnya berjalan normal. Semua mulai konsentrasi belajar untuk mempersiapkan test akhir Bimtek. Seluruh peserta tentu saja memiliki perasaan yang sama; akan merasa malu jika tidak lulus test akhir.


Tibalah hari terakhir, pengumuman hasil test. Semua orang sibuk mencari nama masing-masing di papan pengumuman, dan ketika mereka menemukan namanya kemudian menyingkir dari papan pengumuman.


Tapi tidak bagi Tianing. Dia tidak hanya mencari namanya namun juga mencari nama Harya karena semenjak perkenalan itu dia belum menemukan info apapun lagi tentang Harya bahkan sekedar nama lengkapnya.


Tianing mencari terus deretan nama. Sampai kemudian dia menemukan sebuah nama yang sangat mungkin karena berasal dari Dinas Komunikasi Pemkot solo.


HERIBERTUS HARYA SAPUTRA


Sejenak Tianing tertegun...


"Oh..dia non muslim rupanya"


namun secepat itu juga suara lain dipikirannya muncul


"So what Ning kalau dia non muslim. Dari TK sampai dengan SMA sohibmu, teman sebangkumu, semuanya non muslim. Kamu sudah tidak asing dengan itu"


"Iya sih, aku juga bukan tipe orang yang mempermasalahkan kayak gitu" batinnya sendiri saling bicara. Tianing bermonolog.


"Mbak...nanti kita pulangnya mampir ke jalan Parangtritis dulu gapapa ya ? Mas Harya minta diantar kesana, dia mau pulang kerumah mertuanya" jelas Wahyu saat mereka semua sudah mulai bersiap pulang.


"Okay, gak masalah" jawab Tianing singkat namun batinnya melanjutkan "oh..rupanya mertuanya orang Jogja. Trus dia sendiri rumahnya dimana ya ?"


Rencana berubah ketika tiba-tiba mobil wahyu mogok dan sulit dihidupkan. Setengah jam berlalu, Wahyu mulai merasa kasihan pada Tianing dan mbak Sri yang menunggu. Kebetulan ada teman yang dikenal dari Pemkot Solo tiba di parkiran itu. Dia berniat menjemput pacarnya yang ikut Bimtek juga. Akhirnya Tianing dan mbak Sri oleh Wahyu diminta bareng orang itu.


Selesai sudah acara Bimtek selama seminggu di Jogja. Namun bagi Tianing, upaya pencarian jawaban baru akan dimulai...


" Jika benar dia dari Dinas Komunikasi, berarti aku masih bisa ketemu dia lagi dong saat apel pagi....kan kompi kantorku dan kantornya saling berhadapan" batin Tianing


Entah kenapa hatinya melonjak kegirangan. Sepanjang perjalanan pulang, dia senyam senyum sendiri mengingat peristiwa-peristiwa selama seminggu ini.


Keesokan paginya Tianing semangat sekali mengikuti apel pagi. dia terus saja celingak celinguk mencari sosok Harya Saputra. Sampai dengan apel pagi dimulai, sosok yang dicarinya tidak muncul.


" Yahhh..sepertinya dia tidak berkantor disini, tapi di Unit Teknis Radio Dinas Komunikasi yang kantornya tidak disini. Lagipula kalau dia berkantor disini, setidaknya aku pernah melihat dia waktu apel pagi. Ya sudahlah...tidak perlu berharap bisa bertemu dia lagi.." rasa kecewa menyusup di hati Tianing pagi itu. Tapi diapun tidak mungkin menanyakan hal itu ke Wahyu, Tianing malu.


Keesokan harinya Tianing memulai pagi hari dengan normal, tidak lagi celingak celinguk mencari sosok Harya, sampai dengan saat apel baru dimulai tiba-tiba dia melihat seseorang berlari-lari masuk ke kompi Dinas Komunikasi.


"It's him !" pekiknya dalam hati.


"God !, kenapa dia tampak keren bingit kl pakai seragam !!"


Bahkan selama di Jogja kemarin dia melihat penampilan luarnya biasa saja, seperti bapak-bapak muda pada umumnya, kecuali tatapan mata itu. Tatapan yang membawa Tianing ke dalam suatu masa entah kapan dan dimana.


Siangnya..


"Selamat siang mas Harya...kemarin waktu di Jogja mas Harya janji kapan-kapan mau ajak kami makan siang bareng. Kebetulan saya dan Wahyu memang biasa makan siang bareng. Kalau mau mas Harya bisa gabung bersama kami sekarang" entah kenapa chat itu tiba-tiba terkirim begitu saja ke nomor WA Harya. Bahkan Tianing membelalak tak percaya dia chat seperti itu, secepat itu.


"Siap mbak Tianing, 5 menit lagi saya meluncur" jawaban chat dari Harya masuk ke HP Tianing tidak kalah cepat.


"Kok kemarin tidak ikut apel pagi ? saya kira mas Harya orang Radio" penyelidikan Tianing dimulai.


"Oh...saya orang Majalah mbak, tidak seruangan dengan teman-teman Dinas Komunikasi lainnya memang"


"Selama hampir satu bulan ini saya memang ijin tidak ikut apel karena menunggu ibu mertua yang sedang opname mbak"


"Ooo..istri mas Harya orang Jogja ? terus mas Harya tinggal di Jogja juga ?" selidik Tianing


"Istri asli Jogja cuma sekarang masih tinggal di Surabaya. Saya asli Surabaya mbak cuma karena kemarin keterima CPNS disini, saya pindah kesini. Saya ngontrak di sebelah komplek Pemkot. Istri dan anak masih di Surabaya karena belum resign kerja.


"Ooo"


"Kapan-kapan mampir ke kontrakan saya ya" tambah Harya


"Oh...siap.." jawab Tianing penasaran.


Sejak hari itu...antara Tianing dan Harya mulai terjalin hubungan yang lebih intens. chatting, telpon, dan makan siang selalu dilakukan setiap hari.


"Ah..aku tau....Mas Harya itu mantan pacarnya mbak Tianing ya dulu ? terus kebetulan ketemu lagi disini" cerocos Fitri, pacar Doni suatu ketika saat mereka makan siang bareng.


"What ?!" Tianing dan Harya berbarengan. "No...mantan pacar gimana..yang satu orang Solo, yang satu orang Surabaya kok. Kuliah juga beda kota. Kami belum pernah kenal sebelumnya Fit..." jelas Tianing sambil tertawa-tawa.


"Tapi kenapa kalian kelihatan sudah dekat sekali, seperti sudah lama kenal. Trus...mata kalian itu lho...sama-sama banyak bintangnya kalau lagi bertatapan" lanjut Fitri tanpa dosa, sedangkan disitu banyak teman-temannya yang lain.


Baik Tianing maupun Harya sama-sama diam tersipu dengan perasaan yang campur aduk. Antara senang, malu dan juga was-was.


Begitupun teman yang lain..semuanya diam.


Entah apa yang mereka pikirkan.


Mereka memang tidak pernah pergi makan siang berdua saja. Setidaknya ada 5 orang teman lainnya yang selalu makan siang bersama. Orang-orang menyebut mereka Geng Kabur. Ya..karena mereka bisa menghabiskan waktu sampai 2 jam lebih saat istirahat makan siang.


"Main ke kontrakanku yuk, ketemu Tika anakku. Mamanya sudah resign dan pindah kesini setelah ibunya meninggal dunia" pinta Harya suatu hari.


"Yakin tidak apa-apa ?" Tianing ragu


"Yakinlah...aku ingin Tika mengenalmu" Harya antusias.


"Tapi aku nggak mungkin kesana sendirian dong"


"Tentu tidak...Wahyu dan yang lain-lain juga aku undang"


"Baiklah, offcourse aku pengin ketemu anakmu" Tianing tersenyum lebar.


Bahkan dia mulai merasa..keluarga Harya juga menjadi bagian dari hidupnya.


Tak terbersit rasa cemburu ataupun khawatir bahwa dia akan bertemu istrinya Harya juga. Dia berpikir, istrinya Harya juga akan menjadi sahabatnya.


Sesimpel itu. Dia hanya ingin merasa bahagia, dan everything gonna be okay. Toh hanya makan siang bareng-bareng dan chatting atau telpon saja. Tanpa mereka sadari bahwa mereka semakin saling ketergantuangan dan sefrekuensi.


Ya...hampir setahun mereka menjalani kedekatan. Setiap hari dilalui dengan hati yang berbunga-bungan dan penuh semangat. Semua berjalan lancar dan baik-baik saja. Seolah seluruh semesta mendukung.


Setidaknya seperti itu yang mereka pikirkan...


Namun tidak dengan orang lain.