
Setelah perkenalan itu Tianing menjadi salah tingkah sendiri. Untuk menutupinya dia bersikap seolah-olah konsentrasi pada pemateri Bimtek.
"Mbak Tianing..." suara yang berasal dari sampingnya mengagetkannya.
"Eh iya, ada apa pak ?" jawab Tianing
"Mohon maaf, sebelumnya boleh tidak jangan panggil saya pak, saya belum setua itu, hehe..."
"Oh iya..maaf..."
"Tapi benar kan, pasti sudah bapak-bapak. Secara dilihat dari fisik jelas kelihatan lebih tua dari aku. Penampilannya juga bapak-bapak banget. Baju batiknya nggak trendy, baju batik bapak-bapak" batin Tianing.
"Maaf, kalau boleh saya mau kita bertukar kontak WA. Atau mungkin bisa diberitahu FB, IGnya"
Deg ! Tianing auto kaget. Dia tidak menyangka sekali diberi pilihan seperti itu, secepat itu.
"Duh...aku itu tidak suka ngasih2 kontakku ke orang yang belum kukenal baik"
"Duh...tapi dia duduk disebelahku. Kalau aku bilang nggak boleh, sopan nggak ya"
"Duh..tapi dia temannya Wahyu"
"Duh..gimana ini..."
Tianing sedikit melirik kearah Harya. Dan lelaki itu tetap tenang ,kembali memperhatikan Pemateri. Tidak tampak ada usaha memaksakan keinginan. Hal ini justru membuat Tianing semakin tidak enak hati. Untuk beberapa saat mereka saling diam. Dan entah dari mana, apakah dari dalam hatinya sendiri, Tianing mendengar suara "berikan !". Akhirnya..
"ini contact WA saya. untuk FB dan IGnya bisa ditanyakan ke Wahyu"
"Terimakasih"
Kembali Tianing bingung mau bicara apa lagi, karena kalimat-kalimat Harya pendek, namun entah kenapa pandangan matanya seolah ingin menyampaikan banyak hal. Tak berselang lama, ada notifikasi permohonan pertemanan di FB dan IGnya. Sambil melirik malu-malu, Tianing accept. Dan yang diaccept tampak tenang memperhatikan pemateri.
Saat waktu istirahat siang, Tianing dan teman-temannya keluar bersama.
"Mbak Aning, sudah punya belum fotonya yang buat sertifikat ?" Wahyu bertanya
"Belum...nggak punya yang background merah. Kalian sudah punya ?"
"Sudah dong...kemarin kami sudah foto di studio di jalan Gejayan"
"Kok aku nggak diajak..." Tianing merajuk
"Lah..kan kemarin mbak Aning pulang..."
"Trus aku gimana dong..."
"Ya nanti malam coba ke Gejayan lagi" kata Wahyu kemudian.
"Aku nanti malam mau pulang lagi kangen Raja...Eh, ini disebelah hotel ada mall kan. Siapa tau ada studio fotonya" kata Tianing girang
"Ya sudah, kita cek sekarang saja yuk kesana" jawab Harya dengan cepat.
"Aku nggak ikut ya dek. Aku mau istirahat di kamar saja" mbak Sri menyela.
"Aku dan mas War juga maaf nggak bisa ikut ya mbak. Soalnya kemarin aku kesana, mallnya sepi" Doni ikut-ikutan
"Ohh..ya sudah yuk Wahyu, antar aku ya..." pinta Tianing
"Kami berdua antar mbak Tianing" jawab Harya cepat.
Tianing kembali kikuk aneh. Mereka bertiga akhirnya pergi ke mall disebelah hotel. Dan benar saja kata Doni. Mallnya sepii... merekapun tidak menemukan studio foto disitu. Akhirnya mereka kembali ke hotel.
"Duh..gimana ni Wahyu...kalau sekarang ke Gejayan, waktunya tidak cukup, sebentar lagi harus masuk kelas lagi, dan kitapun belum makan siang" Tianing manyun lemas.
"Ya sudah, nanti malam tidak usah pulang" timpal Wahyu manyun juga
"Nggak ah..aku mau pulang..."
"Mau netekin Raja ya...ayahnya juga minta ditetekin ?" seloroh Wahyu
"Nah..benar itu mbak..HPnya mas Harya bagus tuh buat foto"
"Ohh...ya..kalau tidak merepotkan, gapapa.." jawab Tianing dengan suara mengambang.
" Berarti nanti dia simpan fotoku di HPnya dong. Malu dong saya..." batin Tianing.
Akhirnya sesi foto yang berjalan kikuk selesai.
Hari berikutnya, Tianing datang pagi-pagi sampai hotel, masuk kelas Bimtek namun tidak duduk berdekatan dengan teman-temannya karena posisi duduj dibagi berdasarkan kelompok. Waktu istirahat siang juga langsung masuk kamar dan tidur. Dan Bimtek hari ini selesai lebih awal. Pukul 20.00 sudah selesai. Mulai malam ini sampai dengan selesai Bimtek, Tianing sudah berniat untuk menginap di hotel.
Kringgg...!! suara telepon kamar hotel berdering.
"Hallo..." sapa Tianing.
"Hallo..mbak Tianing ya, ini Wahyu mau ngomong" terdengar suara Harya disebrang telepon.
"Hallo mbak...kami mau nonton pertandingan futsal rame-rame...nanti ada rombongan teman-teman kantor yang pada mau nyusul kesini juga. Kalian mau ikut nggak ?"
"What ? futsal ? kami kan emak-emak..masa nonton futsal... lagian aku nggak bawa sandal, cuma bawa sepatu kerja saja, sama ada sandal hotel saja"
"Halah..nggak apa-apa mbak. Nanti ada Fitri pacarnya Doni juga kok ikut nyusul kesini. Ya nanti nggak cuma nonton futsal deh. Kita jalan-jalan....muter-muter Jogja atau terserah kalian pengin kemana, refreshing tho mbak..kamu butuh refreshing..nggak cuma ngurusin Raja terus..." cerocos Wahyu. Anak itu cowok, tapi kalau sedang cerewet, bisa mengalahkan emak-emak.
"Iya..iya..ya udah deh kami ikut. Cerewet banget sih kamu. Tapi tunggu dulu ya....mbak Sri masih mandi"
"Siapp..nanti kami jemput kesitu" Wahyu menutup telponnya.
Tingtong !! suara bel kamar hotel berbunyi
"Lah..cepet amat sih..sudah dibilang tunggu dulu, mbak Sri belum selesai mandi juga.." Tianing ngedumel sambil melangkah untuk membuka pintu. Untung dia sudah selesai siap-siap.
Tianing membuka pintu kamar perlahan. Dan sedetik kemudian dunia seolah berhenti berputar. Waktu seolah meloncat berganti kesuatu masa yang entah, Tianing sendiri tidak memahaminya. Didepan matanya berdiri Harya. Mata mereka saling bertatapan cukup lama. Harya yang jauh berbeda. Bukan lagi seorang bapak-bapak dengan baju batik yang tidak trendy. Tapi Harya muda, memakai baju hem biru dongker motif garis-garis kecil dengan lengan dilipat sebawah siku. Celana jins dan sepatu rapi.
Bukan, bukan penampilan itu yang membuat Tianing menatapnya lama. Tatapan yang saling beradu. Tatapan nanar...namun penuh kebahagiaan. Jiwa Tianing seolah meloncat kegirangan, tanpa alasan. Ya, Tianing tidak tahu, Tianing tidak paham kenapa dia menjadi seperti itu. Dalam hati cuma bisa memekik :
"God ! Aku sudah mengenal dia long...long time ago. Tapi siapa dia ? kenapa aku merasa sudah lama mengenal dia. Kenapa aku merasa sebahagia ini bertemu dia. Kenapa aku merasa menemukan kembali dia yang sudah lama hilang. Kenapa saat ini aku merasa ingin sekali memeluk dia. Kenapa saat ini aku merasa ingin sekali menangis dipelukannya"
"Woeee..kenapa kalian berdua malah jadi bengong begitu. Sudah siap belum mbak. Kalau sudah ayo berangkat" Wahyu teriak dan menyadarkan mereka berdua.
"Eh..itu..mbak Sri nya masih di dalam kamar mandi. Sepertinya sedang make up, tapi di dalam kamar mandi" jawab Tianing kikuk, tapi tak bisa mengalihkan pandangannya dari mata Harya.
"Ya sudah yuk kita tunggu didalam" kata Harya tanpa mengalihkan pandangannya dari Tianing. Dan tanpa menunggu persetujuan Tianing, dia langsung melangkah masuk ke dalam kamar hotel. Tianing hanya bisa bengong tak bisa mengucapkan kata-kata lagi, dan mengikuti mereka masuk kamar. Wahyu langsung duduk di kursi depan TV dan sibuk mencari channel-channel TV yang diinginkan. Sementara itu Harya duduk di shofa, Tianing duduk di tepi ranjang menghadap kearahnya. Mereka hanya saling pandang dalam diam. Entah kenapa Tianing merasa apa yang dirasakannya saat itu, sama dengan yang dirasakan Harya. Tianing merasa, mereka berdua sudah saling memahami satu sama lain jauh...jauhh..sebelum malam itu. Bahkan Tianing merasa bukan hal yang aneh lagi berada dalam kamar yang sama dengan Harya.
"Lho..kok pada masuk kamar...ini kan kamar perempuan. Untung aku bersiap-siapnya di dalam kamar mandi" protes mbak Sri saat keluar dari kamar mandi.
"Eh iya, maaf mbak saya yang menyuruh mereka masuk" kata Tianing sekenanya karena kaget.
"Sudah siap mbak Sri ? Kalau gitu yuk, kita berangkat sekarang" sahut Harya cepat-cepat.
" Yuk !" sahut Wahyu penuh semangat.
Saat mau keluar pintu kamar hotel, Tianing kembali galau.
"Duh..Wahyu...baiknya aku pakai sepatu, atau sandal hotel ya...kalau sepatu terlalu formal nggak ? masa jalan-jalan pakai sepatu kerja. Tapi kalau pakai sandal hotel, masa sampai kesana-sana pakai sandal hotel. Ihh...kemarin nggak kepikiran sih kalau mau ada acara jalan-jalan segala, jadi aku nggak bawa sandal deh"
"Halah..terserahlah mbak...mau pakai sepatu atau sandal hotel sama saja. Santai saja tho.." Wahyu mulai sewot.
"Pakai sepatunya saja mbak. Saya juga pakai sepatu kok. Lagipula itu sepatunya cocok dengan baju yang dipakai mbak Tianing" sampai sejauh itu ternyata Harya sudah memperhatikan Tianing.
"Okay" jawab Tianing pendek. Suara dan jawaban Harya yang memang berkharisma itu, membuat Tianing tidak bisa mendebat lagi.
Mereka semobil berempat, mengendarai mobil sedan Wahyu, sementara mas War dan Doni semobil dengan Fitri dan teman-teman yang lain. Harya yang menyetir mobil Wahyu, dan (kebetulan)Tianing duduk dibelakangnya.
Bukan pertandingan futsal ataupun foto bersama di spot-spot wisata Jogja yang membuat bahagia Tianing malam itu. Tapi, sepanjang perjalanan naik mobil lah yang membahagiakannya. Karena sepanjang jalan Harya membuka jendela pintunya, sehingga Tianing bisa terus memandang Harya lewat kaca spion, begitupun Harya. Mata mereka terlalu sering beradu di kaca spion. Pandangan yang menyampaikan pesan :
" i love you"
"i love you too"