Dejavu

Dejavu
Birthday Gift



Untuk melupakan kekecewaan hatinya, Tianing menyibukkan diri di kampus, eksplore kota Surabaya bersama teman-temannya. Dia juga lebih sering menelepon Raja. Sementara Fahri, karena kesibukan kampus, semakin sulit dihubungi. Terkadang Tianing menangis sedih karena Fahri tidak pernah menghubunginya jika bukan Tianing yang menghubungi duluan. Pernah Tianing sengaja membiarkan tidak menghubungi Fahri, dan benar saja, selama seminggu mereka tidak saling ada kabar sama sekali. Karena weekend jadwal harus ketemu saja, akhirnya ada komunikasi.


Setelah beberapa waktu, akhirnya hubungannya dengan Harya juga kembali mencair. Tianing mencoba berdamai dengan hatinya sendiri dengan berpikir bahwa kehamilan istri Harya itu adalah kebahagiaan yang sudah lama dinanti Harya. Kalau Harya bahagia, dia harus ikut bahagia juga.


Tianing tidak pernah bisa berlama-lama marah kepada Harya.


"Dek, ulangtahun Adek bulan depan, Adek mau kado apa ?" Harya bertanya hari itu.


"Mumpung masih sebulan, masih ada waktu nabung kalau Adek pengin sesuatu" lanjutnya


"Apa ya....nggak minta kado sih. Aku cuma berpikir....belakangan ini aku merasa lelah hati kak. Pengin rasanya punya waktu untuk ngobrol santai, berdua saja bersama kakak dalam waktu yang tak terbatas, di suatu tempat yang sepi yang tidak perlu takut dilihat orang, bisa melihat laut dan bintang-bintang..." Tianing membayangkan dia dan Harya duduk berdua di pantai sambil lihat bintang semalaman tanpa rasa khawatir apapun.


"Itu saja ?" tanya Harya


" Sepertinya itu akan jadi momen romantis..." jawab Tianing


" Adek nggak ke Malang besok pas ulangtahun ?"


"Enggak. Kan bukan weekend..."


"Mas Fahri ke Surabaya ?" tanyanya lebih lanjut


"Apalagi itu..tambah nggak mungkin lagi" Tianing terkekeh


"Okay kalau gitu...tanggal 1 bulan depan saya susul Adek ke Surabaya. Kakak ambil cuti" kata Harya tegas.


"Baiklah" jawab Tianing singkat. Hatinya melonjak kegirangan.


Dia memang selalu merasakan rindu yang menggebu setelah marah pada Harya.


Tanggal 1 Juli adalah hari ulangtahun Tianing.


"Halo dek, Adek selesai kelas jam berapa ? Kakak sudah sampai Surabaya ni" telepon Harya siang itu.


"Wohh..kok nggak bilang kalau sudah sampai" jawab Tianing girang


"Aku selesai kelas jam 5 kak. Kakak nanti jemput kesini ?" tambahnya


"Nanti kabari saja kalau sudah keluar kelas"


"Okay..." tak sabar rasanya Tianing ingin segera bertemu Harya. Tapi dia tetap bertanggungjawab untuk menyelesaikan kelasnya dulu.


"Halo kak, kakak dimana ? ini aku udah di gerbang depan kampus" Tianing menelepon Harya di depan pintu keluar kampus sambil celingak celinguk mencari sosok Harya


"Okay tunggu saja disitu. Sebentar ya"


5 menit kemudian datang seorang bapak-bapak berseragam salah satu hotel besar di Surabaya mendekati Tianing.


"Selamat sore, benar ini bu Tianing ?" tanya bapak-bapak itu sopan


"Iya saya..." jawab Tianing bingung


"Perkenalkan saya Pak Rudi. Saya diminta jemput bu Tianing. Mari bu silahkan ikut saya" Bapak-bapak itu memandu Tianing menuju mobil yang bertuliskan nama hotel sama seperti seragam bapak itu yang terparkir di dekat Tianing berdiri.


"Maksud bapak gimana, siapa yang menyuruh jemput pak ? Tianing semakin bingung


"Pak Harya, tamu hotel kami bu. Ini salah satu layanan hotel kami" jelas Pak Rudi itu dengan sopan.


"Tunggu pak, saya telepon dulu" Pak Rudi mengangguk dan masuk menuju mobil.


"Halo dek, sudah naik ke mobil jemputan ?" kata Harya langsung saat mengangkat telepon Tianing.


"Kakak nginep di hotel ini ?" tanya Tianing


"Iya" jawab Harya singkat


"Kakak beneran yang minta hotel buat jemput aku ?"


"Iya" jawab Harya sambil terkekeh.


Tianing geleng-geleng tidak menyangka ide Harya. Kemudian dia masuk ke mobil hotel yang sudah disediakan untuknya. Begitu duduk di jok belakang, Pak Rudi yang merupakan sopir hotel ini tiba-tiba memberikan sebuket bunga mawar hijau kepadanya.


"selamat ulangtahun bu Tianing" kata Pak Rudi sambil tersenyum.


Tianing melolot tak percaya. Apa-apaan kakak ini...batin Tianing sambil tersenyum lebar. Kali ini dia sama sekali tidak menyangka surprise yang diberikan Harya. Bahkan mawar pun dipilih yang warna hijau, sesuai warna favorit Tianing.


"Terimakasih Pak..." jawab Tianing sambil terkekeh bahagia.


Sejurus kemudian mereka sudah meluncur menyusuri jalanan Surabaya. Tianing bahkan tidak tahu dimana letak hotel itu. Dia hanya tahu kalau itu hotel yang sangat terkenal namanya dan mempunyai jaringan besar di seluruh Indonesia.


Sesampainya di lobby dia melihat Harya menunggu sambil senyum-senyum jahil.


"Makasih kak..."


"Yuk..naik dulu" Harya menggandeng Tianing menuju lift.


Tianing belum berfikir apapun. Hatinya masih diliputi kebahagiaan karena kedatangan dan surprise dari Harya.


Sesampai di kamar


"Adek mau mandi dulu ? habis itu kita makan"


"Okay.." Tianing masih saja tidak berpikir macam-macam.


Keluar dari kamar mandi Tianing melihat ruang kamar yang remang-remang dan sudah tersedia menu makan malam di meja hotel, lengkap dengan nyala lilin dan buket bunga mawar hijau tadi.


Tianing bengong.


"Kita makan disini" kata Harya, melihat kebengongan Tianing.


"Aku kira kita mau makan diluar...kan aku pengin main ke pantai memandang laut dan bintang-bintang gitu..." Tianing nyengir


"Duduk sini dulu Dek..."


Harya memandu Tianing duduk di kursi, kemudian membuka gordyn kamar yang ada di depan meja makan.


"Adek liat apa sekarang ?" tanya Harya sambil menunjuk keluar jendela.


Tianing kembali melotot dan mulutnya menganga tidak percaya. Di luar jendela tampak lautan yang dihiasi kerlip-kerlip lampu dari dermaga dan perahu-perahu, sementara di langit malam, tampak kerlip bintang-bintang.


Tadi saat masuk hotel Tianing memang tidak menyadari bahwa lokasi hotel itu ada di pinggir pantai karena dari arah depan hotel sama sekali tidak tampak laut. Ditambah kelemahan Tianing yang memang buta peta dan lemah orientasi arah.


Tianing hampir menangis terharu bahagia.


"Makasih kak..." katanya kemudian.


"Adek bahagia sekarang ? Saya penuhi keinginan Adek. Adek pengin ditempat yang hanya ada kita berdua dan tidak ada yang mengganggu kan, sambil melihat laut dan bintang. Adek pengin momen romantis juga katanya. Selamat ulangtahun ya..." katanya sambil tersenyum manis.


Tianing balas senyum Harya dengan senyum termanisnya juga.


"Makan dulu yuk.."


"Yuk..."


Sungguh makan malam yang sangat romantis ditemani playlist Kenny G yang diputar Harya di HPnya.


Selesai makan malam mereka mengobrol santai di sofa.


"Sini Dek duduk di pangkuan kakak" pinta Harya.


Karena dasar Tianing yang punya sifat manja, tanpa menunggu lama dia duduk di pangkuan Harya menghadap ke arah Harya. Dan pada akhirnya bermula dari saling tatap mesra, saling belai berlanjut dengan ciuman lembut yang intens dan tanpa jeda. Mereka bercumbu begitu lama. Tak terasa waktu kian malam.


"Kak...aku mau pulang kost.." Tianing berkata.


"Sudah malam Dek" jawab Harya tanpa melepas ciumannya.Sejurus kemudian dia angkat Tianing, dibopongnya Tianing menuju ranjang tanpa melepaskan pelukan dan ciumannya.


Pada akhirnya Tianing pasrah menerima semua curahan cinta Harya di malam itu.Tianing hampir menangis bahagia karena belum pernah dia merasakan kelembutan dan kenikmatan cinta yang seperti itu. Jiwa dan raganya benar-benar serasa menyatu dengan Harya. Dia merasakan Making Love yang sesungguhnya. Tidak seperti yang biasa dia lakukan dengan Fahri, yang seakan hanya sekedar having ***, tanpa menyatukan dua jiwa dahulu.


Harya sendiri juga tidak menyangka akan mendapatkan cinta yang sebegitu besar dari Tianing.


Mereka menghabiskan semalam suntuk untuk saling mencurahkan cinta dan rasa rindu. Rindu yang seolah telah tertahan begitu lama...entah berapa abad lamanya.


Seolah tidak ingin menyia-nyiakan waktu kebersamaan mereka. Seolah tidak ingin melepaskan satu sama lain. Seolah ingin ada ditempat itu selamanya. Tak berfikir apapun selain merasakan dua hati dan cinta tulus menyatu.


"Makasih ya Dek.." kata Harya. Kakak merasa lega sekali akhirnya bisa berdua seperti ini dengan Adek. Kakak merasa sudah lamaaa sekali kakak menunggu momen seperti ini" kata Harya lalu mencium kening Tianing dengan lembut.


"Aku juga kak. Aku merasakan rinduu yang rasanya sudah lama sekali kepada kakak. Dan malam ini aku merasakan Dejavu lagi. Sepertinya kita pernah melakukan ini sebelum sebelumnya.


Dalam remang kamar, tiba-tiba Harya melihat dengan ekspresi aneh ke arah kening Tianing.


"Kenapa kak ?"


" Nggak tau dek, barusan tadi sekelebat saya kayak melihat ada mahkota emas kecil yang melilit di kening Adek. Seperti ini Dek" kata Harya sambil menunjukkan bentuk mahkota dengan jarinya, di kening Tianing.


Tianing mengernyitkan dahi karena bingung. Tapi kemudian mereka tidak menghiraukan lagi karena badan juga sudah lelah.


"Luvya Dek.."


"Luvya Kak..."


Dan tak terasa mata mereka terpejam dalam dekapan pelukan.