Dejavu

Dejavu
Dua kehilangan



Sehari setelah Harya pulang dari Surabaya menjenguk Tianing...


"Hallo kak...aku mau cerita..." telepon Tianing pagi-pagi.


"Ada apa e...tumben pagi-pagi sudah telpon" jawab Harya, yang masih di perjalanan berangkat ke kantor.


"Kak, semalam tiba-tiba perutku mules trus aku pendarahan. Ada gumpalan darah dan seperti ada daging gitu juga...Jangan-jangan aku keguguran ya kak"


"Hah...!!" Harya kaget, dan segera meminggirkan mobilnya.


"Sudah bilang mas Fahri ?" Tanya Harya panik


"Maksud kakak ?" suara Tianing meninggi


"Ya...sebaiknya cerita ke mas Fahri tho Dek ?"


"Kakak gila ya ! Biar geger gitu ? Kakak ini belum paham juga ?! Aku kan tidak KB kak...dan aku kalau sama ayahnya Raja selalu pakai pengaman. Sedangkan kalau sama kakak malah nggak pernah pakai pengaman. Kalau itu benar aku hamil dan keguguran, itu anak kita kak !" jelas Tianing dengan nada tinggi namun sedih.


"Oh.....maaf Dek, saya tadi panik jadi tidak berpikir sampai situ.." jawab Harya, suaranya berubah dari yang semula nada panik, menjadi nada sedih.


Sekian menit mereka hening...


"Dek...kakak sedih sekarang. Padahal saya akan merasa sangat bahagia kalau benar itu anak kita" terdengar suara serak Harya dari seberang.


"Sayangnya kemarin saya baru kembali dari Surabaya ya..nggak mungkin juga sekarang balik lagi kesana"


Sebenarnya itu pula yang dirasakan Tianing. Dalam hati terdalamnya ingin sekali dia mengandung anaknya Harya.


Mereka menangis...


"Kak...tapi kok sekarang perutku sudah tidak sakit ya ?" ucap Tianing setelah sesaat mereka larut dalam kesedihan.


"Adek sekarang baik-baik saja ? Priksa saja ya Dek.." usul Harya


"Priksa kemana ? aku nggak tau kalau disini harus priksa kemana..."


"Tunggu...Adek ingat kan sepupuku yang dulu bantu mencarikan kost Adek. Kakak telepon dia ya, buat mengantar Adek priksa ke RS tempat dia kerja. Trus nanti Adek hubungi juga buat janjian. Saya kirim contactnya ya"


"Nggak apa-apa kak aku sama saudaranya kakak ?"


"Nggak apa-apa.."


"Okay..."


Sejam kemudian..


"Dek, saya sudah kabari dia, Adek hubungi saja ya..."


"Baik kak..."


Namun berkali-kali Tianing coba hubungi saudara Harya tersebut tapi tidak pernah direspon, hanya diread saja.


Akhirnya Tianing mengurungkan niat priksa dan berangkat kuliah. Toh dia juga belum yakin 100% apakah dia benar-benar keguguran.


Dia ceritakan ke Harya, dan dia katakan bahwa dia baik-baik saja pagi itu, hanya merasa sedikit lelah dan mengantuk.


Seiring waktu Tianing melupakan itu...meski pernah terbersit sedikit rasa iri, karena Arin sedang mengandung anaknya Harya, sementara dia gagal. Tapi sekali lagi dia set hati dan pikirannya " memang yang benar harusnya begitu kan, dia istrinya dan kamu bukan siapa-siapa" untuk menguatkan dirinya.


Sebulan kemudian, saat Harya berkunjung.


"Dek...karena kemarin kita kehilangan anak kita. Dan sebulan lagi mamanya Tika lahiran. Saya ingin anak yang lahir nanti juga jadi anaknya Adek"


"Maksud kakak gimana ?" Tianing bertanya bingung.


"Kakak pengin Adek yang ngasih nama anak itu"


"Cowok apa cewek kak hasil USGnya ?"


"Cowok"


"Wah..kebetulan sekali..dulu jaman sekolah aku pernah kepikiran, kalau punya anak cowok mau tak kasih nama Gabriel" Harya auto kaget


"I know..thats not a moeslim name....but i really like that name. Its sound so angelic. Tapi nggak mungkin terwujud juga kan. You knowlah mas Fahri itu kayak apa" jawab Tianing


"Adek tahu....kakak kapan itu baca buku "Tentang Islam Yang Perlu Kamu Tahu" yang dikirim Adek itu, Dan kakak jatuh cinta sama sebuah nama : Kamil...yang artinya "sempurna" kan ? Baiklah, saya akan mewujudkannya untuk Adek" kata Harya mantap, sambil mengacak-acak rambut Tianing.


"Makasih kak"


Beberapa hari berikutnya


"Kak..gimana kabar mbak Arin ?" beberapa hari ini Tianing tiba-tiba saja kepikiran Arin terus.


"Kenapa tiba-tiba nanyain mamanya Tika ? Tumben" tanya Harya balik.


"Nggak tau kak, aku cuma kepikiran saja....akhir-akhir ini curhatnya di sosmed selalu tentang kesabaran dan doa. Trus adik-adik kakak, termasuk sepupu kakak yang itu juga pada komen menguatkan gitu." Tianing serius.


"Mbak Arin tau kan aku kuliah di Surabaya ?"


"Ya tau lah Dek..masa nggak tau.." Harya heran mendengar pertanyaan Tianing.


"Nah...menurut dugaanku mbak Arin tau kakak sering kesini menjengukku. Jangan-jangan dia sering ngecek ke adiknya Kakak, kakak beneran pulang ke rumah Surabaya atau tidak. Aku khawatir saja kak; kemarin kakak cerita akhir-akhir ini tensi mbak Arin tinggi. Jangan-jangan kepikiran kita ya kak"


"Masa sih ?. Enggak ah.."


"Ya nggak tau, cuma insting perempuan saja. Kalau lihat komen adiknya kakak, sepertinya mereka tahu juga, termasuk sepupu kakak, makanya waktu itu dia tidak respon aku. Komen mereka itu selalu menguatkan mbak Arin, mbak Arin nggak boleh menyerah, lawan dengan doa yang tekun, dan yang semacam itulah. Begitu kak...Lagian mungkin keluarga kakak kan pada mikir juga, dulu jarang pulang ke Surabaya, tapi pas aku kuliah di Surabaya, kakak jadi rajin banget mudik. Menurutku mbak Arin tau, tapi dia memilih untuk tidak membuat ribut dengan kakak karena dia takut kakak akan meninggalkannya" Tianing membuat analisa panjang lebar.


"Tapi dirumah dia bersikap baik-baik saja dan biasa aja itu Dek. Kalau tensi tinggi, memang sudah lama punya riwayat itu kan. Dulu waktu hamil Tika juga begitu kok. Adek nggak usah merasa bersalah begitu Dek, nggak udah overthinking. Itu cuma pikiran Adek saja.Nggak ada hubungannya dengan Adek kok"


"Entahlah kak...aku cuma merasa begitu.."


Weekend itu Tianing ingat kalau hari itu adalah HPLnya Arin. Tianing memutuskan pergi ke Malang menjenguk Fahri. Alasannya karena tidak ingin mengganggu kesibukan dan kebahagiaan Harya menyambut kelahiran anaknya. Tetapi alasan sesungguhnya adalah untuk mencari pelarian karena dia akan merasa sangat iri dengan kelahiran itu.


Tianing berencana mengajak Fahri jalan-jalan kota Malang dan main ke mall seharian.


Keesokan paginya, minggu pagi, saat Fahri masih tidur Tianing melihat ada telepon dari Harya. Tianing buru-buru keluar kamar dan menuju kamar mandi.


"Halo..kenapa kak ? ini aku lagi di Malang" suara Tianing pelan.


"Dek...saya mau mengabari....Adek orang pertama yang saya kabari....Gabriel nggak ada..." suara Harya terdengar lirih, serak dan terbata-bata.


"Maksudnya ?"


"Gabriel lahir, tapi rupanya sudah meninggal dari dalam perut Dek...kata dokter keracunan karena tensi mamanya tinggi" jelas Harya lirih


"What !!" Tianing langsung blank tak kuasa lagi berkata apa-apa, mereka berdua menahan sedih dan akhirnya menangis berdua. Dalam hati Tianing bersyukur, untung Fahri masih tidur.


"Ya sudah dulu ya Dek, saya mau menghubungi keluarga yang lain, dan mempersiapkan segala sesuatunya"


"Iya kak, kakak sabar ya..."


Setelah bisa mengontrol diri dia kembali ke kamar. Dan seperti yang sudah direncanakan sebelumnya, dia dan Fahri jalan-jalan Kota Malang, tapi Tianing sudah tidak ada lagi semangat. Dia juga tidak menyampaikan kabar meninggalnya Gabriel, hanya berharap nanti Fahri segera dapat kabar dari sosmed.


Siangnya mereka makan siang di mall. Ternyata Fahri memasang status mereka yang sedang makan di mall itu. Tianing kaget saat melihatnya.


"Kenapa kakak pasang status ini ?" tanya Tianing panik


"Emang kenapa ?"


"Kakak sudah lihat kabar belum ? Mbak Arin melahirkan tapi babynya meninggal"


"Sudah" jawab Fahri singkat tanpa ekspresi apapun.


"Lalu kenapa kakak masih pasang status kayak gini ? nggak adakah empati kakak sama teman ?"


"Kenapa sih Adek itu selalu mempermasalahkan hal-hal kayak gini. Ya biar saja tho..kan mereka disana, kita disini" suara Fahri meninggi


"Bukan masalah itu kak..teman-teman lain kalau lihat status kakak gimana komentar mereka...dikira kita nggak peduli. malu lah kak..." suara Tianing menahan emosi.


Fahri menghentikan makannya, lalu berucap keras " bukan itu sebenarny alasan Adek tho ! Tapi karena ini anak Harya ! Makanya Adek kayak gini. Kenapa tho Adek itu selalu peduli banget sama Harya. Semua selalu tentang Harya, Harya !! Kakak sengaja pasang status ini. Puas !" Ingin rasanya Tianing teriak marah, tapi mereka sedang di mall yang ramai orang. Akhirnya Tianing cuma diam, menahan marah dan menahan tangis.


Tianing memutuskan kembali ke Surabaya malam itu, padahal biasanya dia kembali ke Surabaya Senin pagi. Dia beralasan ke Fahri bahwa masih ada tugas yang belum selesai dikerjakan.


Paginya di kampus, dia cerita ke Wulan. Ingin rasanya dia pulang ke Solo pagi itu juga untuk memeluk Harya. Wulan mengusulkan bagaimana kalau naik pesawat saja. Dan benar saja, mereka langsung mencari jadwal pesawat, namun sayang tidak menemukan jadwal pesawat pagi itu. Akhirnya Tianing pasrah dan menelepon Mbah kakung untuk mewakili mereka takziah ke rumah Harya. Seharian Tianing memantau hp dan sosmed, menantikan perkembangan kabar dari Harya.


Siang hari setelah kira-kira selesai pemakaman, dia mendapatkan kiriman foto Harya yang sedang menyender sedih di pohon kamboja di depan pusara Gabriel Kamil Saputra. Malaikat yang sempurna.


"Oh kakak..seandainya aku bisa segera ada disisimu...ingin rasanya segera kupeluk erat kakak..."