
Seminggu kemudian adalah jadwal bagi Tianing untuk pulang ke Solo. Entah kenapa juga kali ini semesta kembali mendukung. Fahri tidak bisa pulang karena ada tugas kuliah yang harus diselesaikan.
"Dek...kakak boleh minta sesuatu ?" telepon Harya saat Tianing mengabarkan akan pulang.
"Apa kak ?"
"Kakak minta sebelum Adek pulang ke rumah, kita bertemu dulu. Kakak butuh Adek"
"Okay...mau ketemu dimana kak ?"
"Adek pesan hotel sekitar stasiun ya. Nanti kakak susul kesana"
"Baiklah"
Tianing menyetujui hal itu karena semenjak kehilangan Gabriel, mereka belum bertemu. Tianing belum menyampaikan bela sungkawa langsung ke Harya, dan belum tahu juga kondisi Harya terkini.
Tianing menunggu di hotel, dan saat Harya datang, Harya langsung memeluk erat Tianing. Dia menangis di pangkuan Tianing, menumpahkan segala kepedihan hatinya karena kehilangan Gabriel. Tianing belum pernah melihat Harya selemah ini sebelumnya. Selama mengenalnya, Harya adalah sosok yang serius, kuat,sabar tapi sangat humoris jika sudah mengenal baik. Orang yang belum mengenalnya baik, akan segan untuk mendekatinya, karena saat diam cenderung tampak seperti orang yang serius, galak dan sulit didekati. Namun hati Harya memang penuh cinta, sehingga dia berubah menjadi selemah ini saat dia harus kehilangan seseorang yang dicintainya.
Tianing membiarkan Harya meluapkan semua emosinya sampai puas sambil terus membelai rambut dan punggung Harya.
Saat emosi sudah mulai mereda, Harya mulai menceritakan kronologi kelahiran Gabriel dan juga menceritakan seputar pemakaman Gabriel.
"Mbak Arin sendiri gimana kondisinya kak ? Tika ? Ibu ?" tanya Tianing
"Baik, sudah sehat. Semuanya sekarang sudah baik-baik saja"
"Syukurlah"
"Saya yang tidak baik-baik saja Dek....Saya sangat terpukul. Saya merasa bersalah, kenapa saya tidak membawanya ke RS yang lebih besar. Tapi saya juga menyesalkan mamanya Tika. Dia bilang, bahwa dia sudah tidak merasakan gerakan Gabriel dari sore harinya, tapi dia tidak menceritakan padaku Dek" kembali air mata keluar dari pelupuk mata Harya.
"Maaf ya Dek...saya jadi menangis disini. Karena selama seminggu ini saya tidak bisa menangis di rumah. Saya tidak ingin semuanya menjadi tambah sedih" kata Harya sambil memeluk Tianing.
"It's okay kak..it's okay..." kata Tianing menenangkan.
Dua jam kemudian, saat Harya sudah mulai tenang, mereka meninggalkan hotel itu dan pulang ke rumah Uti-Kakung untuk bertemu Raja, dan menjemputnya untuk kembali ke rumah Tianing.
Dirumah...saat Raja tidur siang dan mbah Kakung sibuk dengan urusannya sendiri, Tianing merenung seorang diri. Jiwanya benar-benar merasa gelisah, memikirkan apa saja yang telah terjadi di dalam hidupnya. Terjadi perang batin
"Aku sudah terlalu jauh. Aku sudah kelewatan. Aku bersalah banget..."
"Kamu senangkan Harya tidak jadi punya anak lagi ?Karena kamu berharap bisa segera menjalani hidup berdua dengan Harya. Dan kamu merasa kalau dia punya anak lagi, itu akan mempersulit keadaan itu"
"Memang aku pernah berfikir seperti itu...karena kami sama-sama sepakat tidak ingin menyakiti siapapun, apalagi anak-anak yang masih kecil. Tapi aku sekarang sungguh merasa sedih. Aku merasa kehilangan Gabriel juga"
"Ini salah kamu. Kamu yang membuat Arin stres dan sakit hati sampai bayinya meninggal"
"Tapi kata Kakak ini tidak ada hubungannya denganku. Kata kakak ini karena keteledoran mb Arin. Selama ini sebagai sesama perempuan, aku selalu membela dia jika kakak curhat dan menyalahkan dia"
"Kalau bisa memilih, aku juga tidak ingin mengalami hal seperti ini. Aku tidak berniat menyakitinya. Bukan keinginanku juga jika tiba-tiba saja cinta ini datang ke kami"
" tapi kamu tahu kan, itu tetap saja salah !Apapun alasannya kamu tetap salah !"
"Aku tahu itu...... Tapi tidak semudah itu aku lepas begitu saja. Berkali-kali sudah kucoba. Tapi selalu gagal. Aku benar-benar takut...aku merasa aku bisa gila dan masuk RSJ kalau tidak ada kakak yang menjaga hidupku"
"Kamu egois ! Kamu nggak punya hati !"
"Kalau aku tidak punya hati, sudah kubiarkan kakak menceraikannya waktu itu. Aku, justru aku lah yang mengalah padanya, karena aku masih punya hati. Aku tidak akan setega itu merebut kakak darinya, meskipun jika aku mau dan nekat, kakak juga pasti mau. Tapi aku nggak tega...."
"Yakin kamu nggak hanya ingin bersenang-senang saja dengan Harya ?"
"Kalau hanya ingin bersenang-senang, kenapa sepeserpun uang aku tidak pernah minta ke kakak ? Meskipun kakak selalu bilang, kalau aku pengin apa tinggal bilang saja ke dia. Tapi aku selalu katakan padanya, bahwa uangnya dia haknya Tika, bukan hak aku untuk meminta uangnya. Aku tidak pernah minta dibelikan apapun !"
"Kalau gitu sudah, akhiri hubunganmu dengan Harya. Itu satu-satunya jalan yang benar !"
"Seandainya aku bisa....aku ingin sekali...tapi aku merasa seperti sendirian di dunia ini...aku takut..."
"Kamu yakin benar merasa bahagia dengan Harya ? Lalu kenapa setiap kali kamu sendiri, kamu selalu menangis ?"
"Sebelum aku mengenal kakak...aku selalu menangis dan meratapi semua yang terjadi dalam hidupku. Dampaknya tahu sendiri kan ? Aku yang selalu diliputi rasa dendam, menyalahkan diri sendiri, aku yang selalu marah, aku yang selalu emosi, aku yang sangat labil, aku yang memiliki pribadi tidak baik dan akhirnya aku dijauhi banyak orang. Aku tidak disukai siapapun yang dekat denganku.... Tapi semenjak ada kakak dalam hidupku, semuanya berubah....aku menjadi pribadi yang lebih baik, jiwaku juga merasa jauh lebih baik. Saat bersama dia, aku merasa semua masalahku pergi. Namun disisi lain..saat aku sendiri, aku merasa sedih..sedih mengingat bahwa aku dan kakak, adalah sebuah kesalahan besar. Sadar bahwa kakak adalah satu masalah hidupku juga yang terbesar".
"Kakak adalah kebahagiaanku, sekaligus kepedihanku yang terbesar. Sesungguhnya itu yang kurasakan".
Berulang kali Tianing mengalami kegelisahan seperti ini. Dan yang bisa dilakukannya hanya bersimpuh diatas sajadah, menangis sejadi-jadinya dan berdoa diberikan kekuatan untuk menjalani semua cobaan hidupnya dan petunjuk untuk mengambil sikap yang benar, memilih jalan yang benar.
Namun setiap kali dia mencoba kembali ke jalan yang benar, dia berharap Fahri bersikap baik padanya dan bisa mendukung kerapuhan jiwanya, tapi kekecewaan yang selalu dia dapatkan. Semua sikap Fahri justru semakin membuatnya hancur, hatinya serasa mati dan pada akhirnya hanya kembali ke Harya, yang membuatnya bisa kembali hidup dan lepas dari depresi.
Tianing sadar, dia kena mental, stres, depresi, punya dua kepribadian namun tidak ada yang bisa menolongnya. Satu-satunya orang tempat dia mencurahkan masalah hidupnya hanya Harya, namun di satu sisi Harya adalah salah satu masalah hidupnya yang terbesar.
Berkali-kali dia berpikir untuk mencoba minta tolong ke psikolog, namun dia yang overthinking sudah merasa takut dan malu, takut nanti psikolognya ujung-ujungnya hanya menyalahkan dia yang selingkuh dan menjudge dia macam-macam. Malu jika si psikolog akan menjadikannya bahan cerita dan contoh yang buruk bagi orang lain. Dia tidak punya keberanian untuk itu.
Pernah pula dia berpikir untuk meminta tolong orang yang bisa hipnotis, untuk menghipnotis dia dan Harya, agar mereka bisa saling melupakan. Tapi dia sadar orang tersebut tidak akan mungkin mau melakukan ide konyolnya itu.
Lebih parah lagi, Tianing pernah berpikir untuk meminta bantuan "orang pintar" untuk memisahkan mereka dan saling melupakan, tapi dia ketakutan sendiri jika nanti malah dibuat jadi hilang ingatan. Dia juga takut syirik, dan dia tidak pernah berhubungan dengan "orang pintar" juga.
Berkali-kali juga berpikir untuk minta cerai dari Fahri untuk kemudian dia minta Harya juga untuk bercerai agar mereka bisa bersatu dalam ikatan pernikahan. Tapi dia juga sadar, itu tak akan semudah bayangannya. Dia tahu banyak kasus perceraian yang diajukan PNS, butuh waktu bertahun-tahun prosesnya. Tianing juga sangat sadar bahwa Fahri tidak akan mungkin menceraikannya, karena beberapa kali saat mereka bertengkar, Tianing nekat minta cerai, semarah apapun Fahri tidak pernah mau menanggapi permintaan Tianing yang satu itu.
Saat seperti ini, Tianing bertekad bahwa mulai hari ini dia tidak akan berhubungan dengan Harya lagi.
Saking capeknya Tianing akhirnya tertidur di atas sajadahnya.
Berharap bahwa semua yang terjadi hanya mimpi..