
Hari-hari pertama masuk kuliah, Tianing fokus untuk mengurus segala sesuatunya urusan kuliah. Syukur alhamdulillah, semua teman sekelasnya memang dibuat khusus untuk kelas Bappenas. Jadi semuanya kira-kiranya bernasib sama dengan Tianing, berpisah dari keluarga masing-masing. Tianing masih bersyukur jarak rumahnya tidak terlalu jauh, karena banyak teman sekelasnya yang berasal dari luar pulau Jawa. Tianing dengan mudah bisa membaur dengan semua teman-temannya sehingga kegalauan dan ketakutan Tianing menjadi berkurang.
Hari-hari kuliah Tianing berjalan lancar tanpa kendala.
Pun Harya, dia memenuhi janjinya untuk terus menemani Tianing dari jauh. Dia selalu menelepon Tianing setiap pagi.
Namun masih ada hal yang membuatnya bersedih. Di kost, dia tidak memiliki teman. Semua penghuni kost sangat selfies, tidak peduli satu sama lain, semua mengurung diri di kamar masing-masing. Tianing sempat meminta kepada beberapa kampusnya agar mau pindah sekost dengannya, namun tidak ada yang bersedia. Tianing benar-benar tidak siap dengan kondisi ini, mengingat saat kuliah S1 dulu di Jogja, dalam satu rumah kost, semua penghuninya semua saling kenal, saling membantu dan menjadi sahabat karib.
Tianing semakin sedih, karena setiap malam dia merasa kesepian. Fahri jarang sekali merespon saat dia chat.
"sudah..tidur saja, sudah malam"
"Kakak sibuk ngerjain tugas Dek"
"Adek sama teman-teman kuliah Adek saja lah ngobrolnya. Kakak juga sama teman kampus Kakak"
"Anggap saja Adek tuh sekarang bujangan...Adek boleh bebas bermain dengan teman-teman Adek, jangan tergantung Kakak, karena Kakak juga beban kuliahnya berat disini"
jawaban-jawaban Fahri yang membuat Tianing sedih dan semakin merasa sendirian.
Fahri sama sekali tidak memahami..bahwa Tianing tetap butuh dukungan. Tianing setiap malam tidak bisa tidur karena dia terbiasa tidur dengan Raja. Suhu udara kota Surabaya yang panas, juga membuat Tianing merasa tidak nyaman. Tidak punya teman di kost, sementara dia merasa tidak enak hati jika malam-malam mengganggu teman-teman kampusnya. Tidak mungkin juga dia malam-malam menghubungi Harya. Tianing selama ini tetap menjaga, untuk tidak mengganggu Harya di malam hari. Bukan karena takut ketahuan mamanya Tika, tapi lebih karena menghargai privasi Harya, karena malam hari waktunya sepenuhnya untuk keluarganya.
Ingin sekali setiap saat menelepon Raja, namun dia ingat pesan saudara-saudaranya untuk tidak menelepon Raja dulu. Tianing setiap hari hanya menelepon Uti, untuk memastikan bahwa Raja baik-baik saja. Dan dia juga sudah bertekad untuk tidak pulang sampai dengan libur lebaran. Dia pendam rasa rindu yang mendalam ke Raja sampai tiba waktunya libur nanti. Rindu yang membuat dia tidak pernah bisa tidur malam. Matanya baru bisa dipejamkan jika jam sudah menunjukkan pukul 04.00 dini hari.
Harya berkali-kali meminta agar dia bisa menjenguk Tianing ke Surabaya, tapi Tianing selalu berkilah bahwa dia masih sangat sibuk kuliah, sehingga tidak punya waktu untuk menemui Harya.
Tianing berjuang untuk bisa menakhlukkan Surabaya dan ketakutannya sendiri.
Meski berat, akhirnya Tianing bisa melewati 1 bulan pertama. Selama 1 bulan itu Fahri belum mengunjunginya ke Surabaya dari Malang. Dan bisa dihitung dengan jari mereka berkomunikasi. Tianing benar-benar dilepas begitu saja oleh Fahri. Makanya dia melonjak kegirangan karena akhirnya bisa pulang. Fahri sendiri sudah pulang duluan ke Solo sehari sebelumnya.
Sesampainya di Solo, dia dijemput Fahri dan Raja di stasiun dari rumah Uti-Kakung karena mereka akan langsung pulang ke rumah mereka. Hati Tianing membuncah saat akan bertemu Raja. Saat dia buka pintu mobil, Tianing tertegun kaget. Dia lihat Raja sangat kurus. Raja memandang Tianing lama dengan bingung, pandangan nanar dan tanpa reaksi. Dari sorot mata Raja, Tianing menangkap kalau Raja sedang mencoba mengingat-ingat siapa sosok yang ada di depannya. Hati Tianing serasa hancur seketika.
"Hei baby...ini bunda nak...Raja lupa ya sama bunda" kata Tianing pelan menahan tangis. Diraihnya Raja ke dalam pangkuannya. Tianing tidak bisa lagi membendung air matanya.
"I miss you so much baby" Raja memandang Tianing lekat, memegang wajah Tianing, tersenyum, lalu mencium pipi Tianing. Tangis Tianing pecah. Dipeluknya Raja erat-erat, diciuminya bertubi-tubi. Tangan kecil Raja memeluk Tianing erat. Raja memang anak yang tidak banyak bicara, tapi dia anak yang sangat cerdas. Di usianya yang masih PAUD, dia sudah lancar baca tulis karena belajar sendiri secara otodidak. Dia juga banyak hafal peta-peta dunia. Nama-nama negara, kota-kota di dunia, pulau-pulau, gunung-gunung, sungai-sungai. Bahkan dia banyak hafal bendera-bendera negara, karena dia sangat menyukai buku atlas pemberian Kakungnya.
"Maafkan bunda sayang..maafkan bunda..." hanya kata itu yang bisa terucap dari bibir Tianing. Dia merasa begitu berdosa pada Raja. Seketika itu juga dia berjanji bahwa dia akan pulang minimal 2 minggu sekali dan akan sering meneleponnya.
Tianing mendapatkan libur selama 2 minggu, dan dia full habiskan waktu liburnya untuk menemani Raja. Di minggu ke 2 dia antar jemput Raja sekolah, sehingga dia mendapatkan laporan perkembangannya di sekolah. Dia sangat senang karena ustadzahnya menyampaikan bahwa Raja anak yang spesial dengan kecerdasannya. Namun mereka juga menyampaikan bahwa Raja terkadang terlihat melamun diam sendiri dan ketika ditanya katanya kangen Bunda. Hati Tianing terasa tergores mendengar itu.
Tak terasa waktu 2 minggu telah selesai Tianing harus kembali ke Surabaya. Namun Fahri sudah kembali ke Malang sehari sebelumnya karena keburu ada jadwal kuliah. Mengetahui hal itu Harya langsung gercep siap mengantar Tianing ke stasiun.
Mereka ngobrol panjang lebar selama perjalanan sambil melepas rindu. Sampai kemudian..
"Dek, saya mau cerita..." kata Harya dengan hati-hati, namun terlihat binar kebahagiaan di matanya yang berusaha disembunyikan.
"saya sengaja menunggu Adek pulang, karena saya mau menceritakan ini secara langsung ke Adek, bukan lewat telepon" lanjut Harya.
"Cerita apa ?" tanya Tianing. Dia sudah mencium gelagat yang tidak mengenakkan.
Harya menggenggam tangan Tianing.
"Sebelumnya Kakak minta maaf ya Dek kalau misal berita ini akan membuat Adek kecewa"
Harya mengeratkan genggaman tangannya.
"Mamanya Tika hamil" kata Harya pelan
Tianing terhenyak. Seketika dunia serasa berhenti. Kelebat bayangan moment-moment kebersamaannya dengan Harya dan segala rentetan rencana dan harapan kedepan runtuh seketika. Ingin rasanya dia teriak sekencang-kencangnya saat itu juga, namun sedetik kemudian dia ingat binar kebahagiaan di mata Harya tadi, meskipun seolah disembunyikan. Dipandangnya kembali Harya dengan lekat berusaha mencari jawaban keresahan hatinya dari mata Harya, namun tak ada satu katapun keluar dari bibirnya.
Harya menangkap perubahan mimik wajah Tianing.
"Maaf ya Dek, membuat Adek kecewa. Tapi Tika memang sudah lama pengin punya adik" kata Harya kemudian.
Tianing terus memandang Harya. Dalam hati bicara "ohh..ternyata apa yang ada di hati kita selama ini tidak sama tho. Ternyata harapanku selama ini, hanyalah harapanku saja, bukan harapan bersama. Semua susunan rencana masa depanku, hanyalah imajinasiku saja. Sudah, makin jauh sudah harapan semu ini"
"Tidak perlu minta maaf kak. Sudah benar begitu, umur Tika kan sudah 9 tahun juga. Sudah sepantasnya dia memiliki seorang adik" namun kata-kata ini yang terucap di bibirnya.
"Selamat ya kak" lanjutnya datar
Harya diam tidak menjawab karena dia sadar telah melukai hati Tianing. Dan tak ada lagi obrolan diantara keduanya sampai di statiun.
"Pamit ya kak" Tianing mencium tangan Harya tanpa memandang mata Harya.
"Saya antar sampai dalam ya, saya tungguin sampai kereta datang" pinta Harya.
"Tidak perlu. Kakak pulang saja" jawab Tianing. Lalu dia tersenyum dan beranjak masuk stasiun. Senyum yang tampak sekali dibuat-buat.
Harya merasa sedih sekali melihat reaksi Tianing yang seperti itu. Dia tidak menduga akan seperti itu. Dia mengira Tianing akan bahagia juga karena dia bahagia akan mendapatkan anak keduanya yang sudah lama dinantinya.
Sepanjang perjalanan di kereta Tianing menangis. Dia merasa ini tidak adil untuknya. Apakah yang akan dia perbuat selanjutnya. Keputusan apa yang harus diambilnya. Bayangan memori-memori berseliweran di ingatannya. "Apakah aku harus menyudahi hubungan ini, agar dia bisa fokus dengan kehamilan istrinya"
"Tapi hubungan 3 tahun lebih itu bukan waktu yang sebentar lho. Dan kami bisa bertahan sejauh ini...meskipun jatuh bangun, akhirnya kekuatan cinta menyatukan kembali"
"Tapi aku punya harapan, aku punya rencana yang sudah kususun ke depan. Dan sekarang aku merasa semuanya runtuh ,musnah gara-gara kabar itu. Aku merasa sudah tidak ada lagi harapan"
"Harapan ? Harapan yang mana ? itu hanya imajinasi liarmu Ning ! bukan harapan yang baik. Bercerai dari Fahri, lalu Harya pindah ikut ke agamamu, dengan begitu dia juga akan otomatis bercerai dari istrinya, kemudian kalian akan bisa menikah, lalu kalian akan hidup bahagia bersama Raja dan Tika? Itu hanya imajinasi liar produk otak kotormu Ning. Realita tidak segampang itu"
Tianing bermonolog.
Sedetik kemudian terngiang kata-kata Harya saat suatu ketika Tianing meminta kepastian dari Harya, mau lanjut dan berani membuat keputusan besar dengan segala resikonya, atau sudah cukup berhenti saja sampai disini.
"Oh...kalau Adek pengin saat ini harus begitu, saya belum bisa. Karena buat saya, kita seperti ini saja sudah cukup, saya sudah bahagia. Tapi kalau Adek menginginkan lebih, saya belum bisa, dan kalaun kita harus berpisah ya sudah, saya turuti kemauan Adek. Tapi ingat, itu keinginan Adek, bukan keinginan saya. Saya cuma menuruti keinginan Adek kalau memang itu membuat Adek merasa lebih baik. Tapi saya, saya tidak ingin berpisah dari Adek"
Ya, selama 3 tahun lebih mereka menjalin kedekatan, sudah 3 kali pula Tianing minta perpisahan. Harya selalu menuruti dengan catatan seperti diatas "saya tidak menginginkan berpisah dari Adek". Dia mengambil langkah itu hanya agar keadaan tidak semakin buruk, karena dia paham betul karakter Tianing yang harus dituruti keinginannya, dan jika tidak maka keadaan akan semakin memburuk. Dan selalu juga, perpisahan itu hanya berlangsung paling lama 1 bulan. Setelah itu Tianing akan kembali menghubungi Harya, karena dia tidak sanggup hidup tanpa dukungan Harya. Dan Harya pasti akan dengan senang hati menerima kembali Tianing.
Hati Tianing seperti teriris sembilu mengingat semua itu.
"Jadi selama ini, hanya aku saja yang terlalu berharap, sementara Kakak tidak..."
Tianing terus menangis, sampai akhirnya dia tertidur karena kelelahan. Lelah hati, lelah pikiran.
Suara deru khas kereta api menghantarkan Tianing ke Surabaya, menambah kepiluan merasuk ke dalam jiwanya.