
"Halo...Dek...barusan Kakak dapat telpon dari Bappenas, kakak lolos beasiswa tugas belajar S2nya" telpon Fahri siang itu dengan nada senang dan bersemangat saat Tianing masih di kantor.
"Ohya..alhamdulillah kalo gitu.." jawab Tianing senang
"Cuma masalahnya Kakak dapat kampusnya di UNIBRAW dek. Gimana...."
"What...kenapa nggak yang di UGM ya..." perasaan Tianing bercampur antara senang dan kecewa.
"Adek sudah dapat telpon belum ?" tanya Fahri
"Belum..." jawab Tianing.
Tianing maupun Fahri memang sebulan yang lalu mengikuti tes seleksi beasiswa untuk melanjutkan studi S2. Beasiswa ini diselenggarakan oleh Bappenas untuk seluruh PNS seluruh Indonesia secara rutin. Beasiswa ini menjadi rebutan bagi seluruh PNS se Indonesia, baik PNS Pusat maupun Daerah. Namun untuk penempatan kuliah dimana, pihak Bappenas yang menentukan. Tentu saja setiap PNS terutama yang sudah berkeluarga, berharap dapat kampus yang dekat rumah saja. Begitu juga Fahri dan Tianing, berharap dapat kampus di Solo atau Jogja saja.
Sesampainya dirumah, mereka membahas bagaimana mengatur kehidupan Tianing ketika ditinggal Fahri selama Tugas Belajar. Terasa berat bagi Tianing kalau harus mengurus Raja sendirian, lagipula selama menikah dengan Fahri, Tianing berangkat kerja selalu bersama Fahri.
Sehari kemudian perasaan Tianing sudah lebih baik karena Fahri menyemangatinya. Sampai kemudian tiba-tiba di siang hari Tianing mendapatkan telepon juga dari Bappenas yang menyampaikan bahwa dia lolos seleksi beasiswa tugas belajar itu. Bukan bahagia seperti saat ditelpon Fahri sebelumnya, hari ini Tianing justru menangis sedih. Dia mendapatkan kampus di Universitas Airlangga Surabaya, diluar dugaannya karena dia berharap dapat kampus di UGM saja.
Tianing bingung bagaimana nanti dengan Raja. Jika dia di Surabaya, Fahri di Malang. Kalaupun Raja ikut ke Surabaya, bagaimana nanti saat ditinggal kuliah. Jika harus membawa baby sitter, itu bukan perkara mudah karena mencari baby sitter di daerah rumahnya sangat sulit. Belum lagi terkait biaya hidup yang akan menjadi sangat membengkak.
Malam hari mereka kembali berembug. Kali ini Mbah kakung ikut rapat kecil itu. Mbah kakung memberikan ide, agar Raja ditinggal dirumah berdua dengan Mbah kakung. Tianing malah menjadi semakin menangis. Mana mungkin dia tega meninggalkan Raja hanya berdua saja dirumah dengan Mbah kakung. Akhirnya diputuskan bahwa Mbah kakung akan menemani Tianing dan Raja tinggal di Surabaya, mereka akan kontrak rumah di Surabaya. Sementara Fahri kost di Malang.
Tianing menyampaikan berita tersebut ke Harya. Tianing menceritakan semuanya dengan semangat. Tianing mengira Harya akan ikut senang, karena kesempatan ini adalah kesempatan yang sulit didapat. Dari banyak orang yang mendaftar, Tianing dan Fahri termasuk sedikit dari orang yang lolos.
Namun ternyata Harya nampak tidak semangat.
"Selamat ya Dek" kata Harya datar
"Kakak nggak senang tho aku lolos ?" tanya Tianing kecewa.
"Bukan tidak senang Dek. Saya senang karena itu bagus untuk karir Adek kedepan. Tapi...kalau boleh egois, saya mau minta Adek jangan berangkat...." kata Harya serius
"Loh..kenapa ?" tanya Tianing bingung
"Lah nanti saya gimana disini....saya nggak bisa kalau harus berpisah dari Adek" jawab Harya polos.
Tianing bingung, mau tertawa atau sedih atau bahagia.
"Ya kakak sering-sering tengok saya tho" jawab Tianing sekenanya, sekedar omong kosong.
"Baiklah" jawab Harya. Tianing tidak menanggapinya karena merasa hal itu tidak mungkin terjadi.
Tiba saat bagi Tianing dan Fahri untuk mempersiapkan segala sesuatu sebelum mereka mulai kuliah.Salah satunya harus mencari kost atau rumah kontrakan.
"Akhir minggu ini" jawab Fahri
"Wah...kebetulan sekali saya akhir minggu ini harus ke Surabaya juga, ada urusan kerjaan dengan kantor lama" kata Harya. Harya memang masih menjadi freelancer sebagai desainer grafis di kantornya yang lama sebelum pindah ke Solo.
"Boleh tidak kalau saya sekalian nebeng mobilnya. Saya sopirin deh" pinta Harya
"Tapi kami mampir Malang dulu, cari kost buat saya. Setelah itu baru ke Surabaya mas" jawab Fahri
"Ya tidak apa-apa mas. Nanti sekalian saya antar carikan kostnya. Saya agak paham daerah Malang. Trus kalau mau, untuk yang Surabaya saya mintakan tolong sepupu saya untuk mencarikan kostnya, karena dia kerja di rumah sakit dekat UNAIR" pinta Harya
"Wahh..boleh tuh..." timpal Tianing senang.
Akhir pekan itu mereka bertiga berangkat ke Malang dan Surabaya. Sementara Raja dititipkan dirumah Uti-Kakung, orangtua Fahri.
Tianing merasa bahagia sekali sepanjang perjalanan karena dia ditemani Harya. Dia merasa Harya benar-benar melindunginya.
Sesampai di Malang mereka langsung mencarikan kost untuk Fahri. Mereka menemukan sebuah kamar sederhana, yang sesuai dengan budget mereka di dekat UNIBRAW. Setelah proses kontrak kamar kost mereka melanjutkan perjalanan ke Surabaya. Mereka mampir ke rumah sepupu Harya dan menginap disana, dan benar saja, sepupu Harya sudah mencarikan kamar kost untuk Tianing. Kamar sederhana, namun hargan sewanya termasuk mahal untuk kantong Tianing. Memang biaya sewa kost di daerah itu sangat mahal-mahal, sehingga Tianing rela mendapatkan kamar yang sederhana, dengan biaya sewa termurah.
Dia merasa sedih, karena tidak bisa sesuai rencana awal, mencari rumah kontrakan untuk dia, Raja dan Mbah kakung, karena tidak menemukan rumah kontrakan di sekitar kampus. Jangankan cari rumah kontrakan, untuk biaya sewa kost saja sudah berat menurut Tianing. Maklum Tianing tinggal di pinggiran kota Solo yang mana biaya hidup masih terbilang murah.
Setelah mereka mendapatkan kamar kost untuk Tianing, dan keperluan Harya juga sudah selesai, mereka pulang. Dua hari perjalanan yang menyenangkan bagi Tianing. Ini kali pertama baginya bisa pergi ke luar kota bersama Harya.
Sesampainya dirumah, Tianing dan Fahri kembali berembug untuk menentukan bagaimana nasib Raja selanjutnya. Kebetulan Uti-Kakung menawarkan ide agar Raja tinggal bersama Uti-Kakung saja, dan disekolahkan disana. Jarak rumah Uti-Kakung dengan rumah Tianing sekitar 50 km.
Dengan pertimbangan bahwa mereka tidak menemukan rumah kontrakan, biaya hidup di Surabaya yang mahal, udara di Surabaya yang sangat panas sehingga dimungkinkan Raja tidak akan kerasan, tidak mungkin juga meninggalkan Raja hanya berdua saja bersama Mbah kakung, dirumah Uti-Kakung ada adiknya Fahri yang siap membantu mengurus Raja, maka dengan berat hati Tianing menerima keputusan, bahwa Raja harus ditinggal dirumah Uti-Kakung, dan akan dimasukkan ke sekolah PAUD disana.
Tianing menangis pilu, mengingat Raja harus terpisah darinya, di umur yang masih sekecil itu. Tapi dia juga tidak bisa mundur dari peluang kuliah S2 itu. Dia merasa jika dia melakukan itu artinya tidak bertanggungjawab, karena sebelumnya dia yang memutuskan untuk ikut seleksi beasiswa. Dan Raja memang anak yang sangat cerdas. Saat Tianing menjelaskan tentang situasi yang ada, anak sekecil itu sudah bisa sangat memahami dan rela ditinggal kedua orangtuanya. Fahri berusaha menguatkan dan memberikan semangat ke Tianing.
Saat di kantor, Harya cerita...
"Dek, Adek tau alasanku kemarin mengantar Adek dan mas Fahri ?"
"Sekalian ngurusi kerjaan kan ?" jawab Tianing pede.
"Salah. Itu hanya alasan Dek...sebenarnya saya hanya ingin memastikan saja, Adek akan tinggal dimana, tempatnya seperti apa, bagaimana ke kampusnya. Saya cuma pengin mengantar Adek saja, dan memastikan Adek baik-baik saja" jelas Harya kalem.
"What...." Tianing tersenyum lebar dan tidak habis pikir dengan semua ide-ide Harya. Namun dalam hatinya merasa bahagia, karena dia tidak pernah menyangka ataupun meminta perhatian yang sebegitu besar dari Harya.
"Makasih kak..." ucapnya kemudian sambil tersenyum manis khas Tianing. Senyum yang menjadi favorit Harya. Senyum dan sikap manja Tianing yang membuat Harya selalu ingin melindungi dan dekat dengannya.