
***Merelakan**!!!
Terima kasih atas kado perpisahan yang dibungkus dengan kesedihan.
Sekarang, aku paham bahwa bahagia memang harus merelakan.
By: Kenzo Alfaridzi*.
***
Aku mengerjap mata, menahan perih yang menusuk-nusuk mataku sembari berusaha menyesuaikan keterangan cahaya yang masuk ke mataku.
Ku pandangi sekelilingku, banyak buku yang berjajar rapi di rak yang sengaja digantung di dinding kamar. Kulirik jam beker yang ada di meja sisi tempat tidurku, dan aku bersiap-siap untuk berangkat ke kantor.
Beberapa saat kemudian...
Aqila pun segera melajukan mobilnya tersebut, dan meninggalkan rumahnya. Hingga akhirnya mobil yang ia kemudikan berhenti. Aqila sudah berada di depan kantor, ia turun dari mobil dan masuk kedalam kantor.
Dengan terburu-buru Qila menaiki tangga, karena ia memang sudah terbiasa pakai tangga dibandingkan menggunakan lift. Ia menuju ruangannya yang berada di lantai dua.
Cekleekkk....
Pintu ruangan Qila pun terbuka, dan Qila melihat Arfan berada diruangannya. Mereka satu ruangan, Arfan sengaja Aqila satu ruangan denganya, agar ia bisa melihat Aqila di dekatnya.
Aqila berjalan mendekati meja kerja Arfan sambil menundukkan pandangannya. "Maaf aku terlambat" ucapnya lirih. Arfan menatap Qila sambil berkata "Baiklah, tapi lain kali jangan diulang". Aqila hanya mengangguk.
Arfan memberikan berkas-berkas kepada Aqila, "Sekarang kerjakan ini, nanti aku periksa jika sudah selesai". Aqila menerima berkas itu, dan berlalu meninggalkan meja kerja Arfan.
"Seperti apa pria itu, hingga Aqila begitu dalam menyukainya. Padahal aku sudah berusaha untuk meluluhkannya, tapi dia tetap saja bersikap dingin padaku" pikirnya.
Aqila duduk di meja kerjanya sendiri, yang tak jauh dari meja kerja Arfan. Aqila sibuk dengan berkas yang diberikan Arfan kepadanya, dan ia juga menghidupkan komputernya. Ia menatap wajahnya di layar komputer, "Astaga, karena terburu-buru aku sama sekali tidak memakai alat kosmetik" Ia pun bercermin dan memakai kosmetiknya.
Arfan sendiri sibuk memperhatikan Aqila, ia mengambil ponselnya, lalu secara diam-diam ia memfoto Aqila yang sibuk dengan alat kosmetiknya. Arfan tersenyum sambil memandangi hasil jepretannya.
Aqila tidak menyadari kalo Arfan memperhatikannya, bahkan memfotonya pun ia tidak tau. Setelah ia siap berdandan, Aqila sekarang fokus dengan berkas yang diberikan Arfan kepadanya.
.
.
.
.
.
**Mohon dukungannya, agar Author tetap semangat buat nulis. Jangan lupa vote, tekan favorit, like and rate. Follow juga akun ig: @ylna_ptr, yang ingin kata mutiaranya di post, langsung DM aja Author😂
Mohon kritik dan sarannya, tapi jangan kalimat yang menjatuhkan. supaya Author tidak Down**.