
setelah hampir 40 menit Sam datang dengan membawa bungkusan plastik dan beberapa lunch box, Sam menghampiri Ria yang masih duduk di sofa kamar.
Ria yang dari tadi galau memikirkan nasibnya mendatang apakah lebih buruk dari sekarang atau lebih baik, membuat wajahnya sedikit murung, rasa kecewanya pada Sam pula membuat ia sangat tidak bersemangat.
"ini makan nya, setelah selesai makan kita pulang"
Ria diam, dia hanya mengambil makanan yang diberikan Sam, perut nya sakit karena menahan lapar.
sementara Sam langsung melahap makanan nya tanpa merasa bersalah pada Ria.
suasana seketika hening, Sam yang dari tadi lahap makan tiba tiba berhenti setelah melihat Ria tak kunjung makan.
"tadi kamu yang meminta untuk dibelikan makanan" Sam berpura pura perhatian.
"aku tidak selera, sepertinya asam lambung ku kambuh"
"kamu jangan membuat ku merasa sangat bersalah!, ayo makan, setelah ini kita pulang"
"kamu memang salah, dan bahkan kamu tidak meminta maaf padaku"
"itu tidak penting, kita pikirkan kedepan nya... hal semacam itu tidak usah terlalu dipikirkan!"
"apa? tidak penting? kamu bahkan menghancurkan perasaan aku atas perlakuan kamu, kamu benar-benar tidak berperasaan!"
"aku tidak ada pilihan, kamu punya beribu-ribu alasan untuk menolak"
"aku akan menikah dengan mu, tapi aku tidak bisa menjamin perasaan ku untuk mu"
"ya, itu keputusan mu..aku hanya tidak bisa menerima penolakan"
Ria tertegun, dia hanya berfikir di masa depan siapa yang akan menjadi gila, dirinya atau Sam karena dia rasa Sam sudah tidak waras.
Sam dan Ria pun bergegas meninggalkan rumah terkutuk itu, rumah dimana Ria gak akan pernah melupakan kejadian pelecehan tersebut, Sam mulai menyetir mobil Ria, sepanjang perjalanan mereka terdiam.
.
.
.
sesampainya di rumah Ria, Sam duduk di sofa sementara Ria bergegas masuk ke kamarnya dan langsung mandi baginya hari ini dia sangat kotor
Semoga Allah memaafkan kesalahan ku, aku tahu ini tidak sepenuhnya salah ku, ini salah Sam.!
"tuan mau minum apa?" Bi Iyem menawarkan minuman pada Sam
"tidak usah bi, saya gak akan lama..."
"bi, maaf.."
"iya tuan"
"papa sama mami Ria ada di rumah?"
"oh, biasanya Tuan dan nyonya pulang jam 20.00"
Sam melirik jam tangannya, waktu saat itu pukul 18.00
"oke Bi, makasih"
"baik tuan"
2 jam aku harus nunggu calon mertua ku, atau besok aja ya, tapi aku takut Ria berubah fikiran
sementara itu di kamar mandi Ria terus menangis, air shower yang dingin sedikit membantu keadaan hatinya yang sangat panas..
setelah Ria merasa lebih baik, ia pun mematikan shower dan langsung memakai piyama handuk, Ria keluar dari kamar mandi dan menuju meja rias, mengambil hair dryer untuk mengeringkan rambutnya dan segera memakai baju kaos dengan rok selutut..
Ria mengambil handphone dan menelpon mami kesayangan nya
"mi, bisa pulang cepat gak, Ria mau ngomong serius"
"mami sibuk sayang, ngomong aja sekarang nak, ada apa?"
"gak bisa mi, harus face to face gak bisa di telepon gini"
"oke lah, paling 40 menit dari sekarang ya nak mami sampai"
Ria mematikan handphone nya dan bergegas menemui Sam
sementara Sam tak henti-hentinya menatap Ria yang terus menuju ke arah nya
Tuhanku, ciptaan mu begitu indah.. aku terus memikirkan nya, inilah kebahagiaan ku. Sam bergumam.
"kapan orang tua kamu sampai rumah?" Sam bertanya sambil tak melepaskan tatapannya
"mami 40 menit lagi sampai"
"papa?"
"gak tahu, papa susah dihubungi dan untuk saat ini kita bicara dengan mami dulu aja"