Deepest Love

Deepest Love
Toko buku



Setelah seminggu kemudian, akhirnya Aqila terbiasa jadi sekretaris Arfan. Walaupun pun sikapnya masih dingin terhadap Arfan, bahkan Arfan berusaha untuk mendekatinya, namun usaha Arfan tetap sia-sia.


Aqila terbangun siang, karena hari minggu hari libur Qila. Aqila merasa haus dan berlari kecil menuju dapur. Hari ini panas sekali ucapnya sambil meneguk air dingin di dalam lemari es. Wuaahhh, ini benar-benar menyegarkan.


Sorenya, Qila pergi ke toko buku, membaca buku adalah kegemarannya. Aqila merasa senang karena di toko buku ia bisa melihat dan membaca berbagai novel, baik dari penulis Asing maupun Indonesia.


Sedang Asyik baca buku di toko, ponsel Qila berdering. "Halo Qila, kamu lagi dimana? aku dirumah kamu sekarang, tapi bibi bilang kamu pergi keluar" Seru Alana dibalik telepon. Aku di toko buku sekarang Al, sebentar lagi juga mau pulang, tunggu lah dirumah. "Baiklah" serunya lagi.


Lebih baik aku pulang sekarang, Alana pasti menunggu. Sebenarnya aku ingin tetap di toko untuk baca buku. Tapi, sudahlah, lain kali kan juga bisa. Ucapnya lirih.


Sampai dirumah, "Kenapa kamu gak bilang-bilang kalo mau kesini sih Al, biasanya juga kamu kan ngabarin aku dulu kalo main kerumah" Sungut Aqila. Alana pun tertawa lirih, "Sorry, tadi aku dari rumah paman. karena jalannya melewati rumahmu, makanya aku mampir. Nanti malam kamu ada acara gak? pergi main yuk" Tanya Alana.


"Enggaak, mau jalan-jalan kemana Al?" Aqila sebenarnya malas untuk keluar, tapi karena Alana yang mengajak, dengan berat hati dia menyetujui ajakan Alana. "Gimana kalo jalan-jalan ke mall, sekalian makan diluar nanti" karena Alana sudah lama tidak pergi keluar dengan sahabat karibnya itu. "Hmm, baiklah" sungut Aqila.


Pukul delapan malam Aqila mendengarkan suara klason mobil di luar. Ia mengintip dari balik gorden jendela kamarnya dan melihat sebuah ferrari california hitam cool telah menunggu di luar. Tanpa buang waktu segera disambarnya sebuah cluth hitam yang tergeletak di atas meja, diselipkan kakinya ke dalam sepasang high-heels berwarna biru lalu berlari menuruni tangga.


Di luar rumahnya, Alana dan seorang lelaki gagah dan tampak sangat berkharisma, walau dalam pakaian yang sekilas biasa saja. Jeans dan kemeja lengan pendek, telah menunggunya.


"Apa kau merasa keberatan" Tukas Arfan. "Tidak, aku merasa tidak keberatan" Walau dalam hatinya berkata sebaliknya.


"Kalo gitu tunggu apalagi, ayok kita berangkat" Seru Alana sambil memasuki mobilnya dan duduk dibangku penumpang. "Iyaaa" Jawab Arfan dan Alana secara bersamaan.


Di perjalanan, "Aqila, kita makan dulu ya. Aku laper soalnya" Alana sambil memegangi perutnya. "Terserah kau saja Al" Aqila menuruti kemauan Alana.


"Kakak, apa kau tidak merasa lapar" tanya Alana kepada Arfan. "Tidak" sambil sibuk menyetir mobil Arfan menjawab dengan seadanya.


"Kita mampir dulu di resto china ya kak" Ucap Alana, karena dia benar-benar merasa lapar. "Apa kau tidak makan dari tadi Al?" Aqila begitu terkesima mendengar keluhan Alana sambil memegangi perutnya. "Belum" Kau tau sendiri kan kalo aku gak bisa masak, jadi sering telat makan.


"Kalo gitu belajar lah memasak, agar kau tidak seperti ini" Karena Aqila khawatir melihat sahabatnya merasa kelaparan itu. "Baiklah" Dengan sekenanya Alana berkata.


Sedangkan Arfan diam saja mendengarkan percakapan di antara mereka, sambil tetap fokus untuk menyetir.