
Setibanya di resto china, Alana langsung memesan makanan untuk dirinya dan kak Arfan. "Aqila, kau mau pesan apa?" tanyanya sambil melihat menu. "Aku pesan minum green tea saja Al" sambil memainkan ponselnya. Dan tak berapa lama pesanannya pun datang.
"Kau ini dari tadi sibuk dengan ponselmu sendiri?" sambil menikmati hidangan makanan, karena Alana benar-benar merasa lapar. "Ini Al, Mama ngabari aku kalo papa dan mama lusa akan pulang dari Paris" ucap Qila sambil memainkan ponselnya.
Sedangkan Arfan memperhatikan Qila yang sibuk dengan ponselnya sambil menikmati makanannya.
"Setelah ini, kita langsung pulang saja ya Al? aku ingin istirahat" katanya sambil memasukkan ponselnya ke dalam tas. "Baiklah" Alana pun menyetujui ajakan Aqila, karena ia juga ingin istirahat setelah ini.
\\\*
Aku duduk melamun dan kembali mengenangnya, tidak ada yang berubah terhadapku. Mungkin tepatnya terhadap perasaanku. Aku masih mengaguminya, dan aku belum bisa melupakannya, lirih Aqila dalam hati.
Kepalaku menengadah ke langit. Memperhatikan hitamnya yang bermandikan kemilau bintang-bintang kecil yang berkelip-kelip. Membuat langit malam yang hitam membosankan menjadi keindahan yang mengundang decak kagum.
Seperti lembah gelap yang dihuni oleh jutaan kunang-kunang.
Aqila mengusap pipinya yang basah oleh air mata dengan tangannya yang gemetar. "Sejak awal harusnya aku sadar, perasaan sakit ini hanya bagian dari masa lalu. Dan tidak seharusnya aku membawanya ke masa kini, kurasa aku terlalu terobsesi pada cinta masa lalu yang tidak terwujud itu.