
Sore itu Nick berangkat latihan basket lebih awal, ia akan ke rumah Lie untuk menukar tas. Nick mulai mengayuh sepeda miliknya menuju alamat yang Lie tulis. Tak lama Nick tiba di rumah yang ia tuju.
Rumah itu lumayan besar dengan halaman yang luas. Nick mencari bel rumah namun yang ia cari tak terlihat.
Rumah sebesar ini tanpa bel, bikin keki aja! Apa harus teriak-teriak! Nick menggerutu dalam hati.
Nick melirik jam tangannya.
Sudah pukul 4 sore, batin Nick.
Nick mengambil batu untuk mengetuk pintu gerbang yang terbuat dari besi. Baru saja ia akan mengayun tangannya yang memegang batu.
“Om, masuknya lewat pintu sebelah selatan!” teriak seorang bocah.
Sial bener aku di panggil om! Nick menggerutu lagi dalam hati.
Walau menggerutu, Nick mengikuti apa yang anak itu katakan. Tampak di kejauhan pintu pagar kecil di sebelah selatan gerbang tempat Nick tadi berdiri. Nick menemukan bel rumah Lie yang di lengkapi speaker, saat akan menyentuh Nick pikir-pikir lagi.
Kalau tak butuh sepatu basket, malas aku kemari! batin Nick.
Nick dengan pasti menekan tombol berwarna merah, tak lama terdengar suara dari speaker bel rumah Lie.
“Halo! Siapa di sana?” tanya seseorang dari intercom.
“Saya Nick! Teman sekolah Lie!” Akhirnya Nick bersuara.
Pintu pagar Lie terbuka otomatis, Nick melangkahkan kaki masuk halaman rumah itu. Nick berjalan hingga pintu utama rumah Lie.
“Masuk, Den!” seseorang mempersilakan Nick masuk.
Nick hanya tersenyum kecil.
Mata Nick mengitari sudut ruang tamu rumah Lie.
Tak berapa lama, terdengar langkah kaki dari lantai atas. Muncullah Lie dengan mengenakan hotpants hitam dipadupadankan dengan t-shirt warna biru, mata Nick tak berkedip saat melihat Lie menuruni tangga rumahnya.
“Hai! Ini tas kamu! Mana tasku?” tanya Lie saat tiba di hadapan Nick.
Nick yang terpukau dengan penampilan Lie, di buat terkejut saat Lie bertanya padanya.
“O–oh ... ini!” Nick tergagap.
Merekapun bertukar tas, Nick segera memeriksa isi tas miliknya. Hati lie kesal saat melihat Nick mengeledah tas miliknya di depan matanya.
“Jika kau tersinggung, kau pun boleh mengeledahkan isi tasmu di depanku!” jawab Nick cuek.
Jawaban Nick membuat Lie makin kesal, ia pun membuka tas miliknya, tiap sudut tas ia buka. Setelah memeriksa isi tasnya, Lie menatap tajam pada Nick.
“Apa! Ada yang hilang dalam tasmu?” tanya Nick.
“Ya!” jawab Lie tanpa berkedip.
“Apa?” Mata Nick membelalak.
Kau tak mungkin mengambil benda itu dari tasku, kan! Tapi kok, benda itu raib dari dalam tasku! batin Lie
“Mengapa kau diam! Kalau memang ada yang hilang, apa yang hilang?” desak Nick.
Aku malu mengatakan! batin Lie
“Kalau kau tak kehilangan barang jangan kau bilang ada barang yang hilang!” hardik Nick.
“Kau menuduhku mengada-ada!” balas Lie dengan suara meninggi.
“Ya! Katakan! Tatapan matamu itu menyinggungku!” seru Nick.
“Kau mau aku mengatakan!”
“Ya! Apa yang tunggu!”
“Itu!” Lie malu mengatakan.
“Itu apa!” Desak Nick.
“Pembalut dalam tasku hilang!” kata Lie dengan wajah memerah.
Glek.
Nick menelan salivanya, saat akan membalas perkataan Lie. Seketika wajah Nick merah padam.
“Ka–ka–kau cari dulu! Barangkali terselip,” kata Nick gugup.
“Nih, kau cari sendiri kalau tak percaya!” ucap Lie kesal.