
“A—Aku minta maaf, soal kemarin.” ucap Nick terbata-bata, menurunkan ego-nya di depan Lie.
Bahu Nick yang tegak simetris kini turun, tak ada dada yang membusung seperti biasanya, hingga Lie iba padanya.
“Aku sudah lupa!” Lie jawab enteng.
“Hah!” Mulut Nick menganga.
“Iya, lupa! Memang kita ngapa'in?” Lie kesal tanya balik Nick.
“Bukankah kita ci ....”
Brug.
Lie menerjang Nick serta membungkam mulutnya dengan tangannya hingga rebah di ranjang dan Lie menindih tubuh Nick. Keduanya saling tukar pandang.
“Sampai kapan kau menindih ku?” tanya Nick.
“Ahh maaf!” Lie segera merangkak turun dari badan Nick.
Kenapa aku harus tanya kemarin ngapa'in. Dasar bodoh! Lie menepuk jidatnya.
”Kenapa kau tepok jidat!” Nick mendekatkan wajahnya.
“Ya ... ampun!” Lie terkejut wajah Nick tiba-tiba muncul di depannya hingga hampir terjengkang.
Nick sigap meraih pinggang Lie, menarik ke arahnya. Keduanya kembali merapatkan tubuh seperti de Javu saat Nick menciumnya di depan Isabel. Hidung Nick dapat mencium kembali parfum yang sama, menguar dari tubuh Lie. Aroma segar itu tak pernah Nick lupa, segarnya apel Fuji dan vanilla Orchid. Nick terbuai hingga matanya menatap bibir Lie berwarna soft pink rasa strawberry masih Nick ingat. Tanpa sadar Nick mencium bibir Lie kembali, namun kini Lie membalas ciuman Nick. Bibir mereka saling bertaut sambil memejamkan mata menikmati ciuman itu.
Tiba-tiba pintu kamar Lie terbuka, mereka refleks mendorong tubuh masing-masing menjauh.
“Maaf, Non! Bibi udah ketok pintu.”
“Ya sudah, nggak apa-apa,” sahut Lie membelakangi Ana.
“Sarapan sudah siap, permisi.” Ana segera tutup pintu kamar Lie kembali dan pergi.
Wajahnya terbakar hingga merah padam tak berbeda jauh, Nick pun lakukan hal yang sama.
“Sorry Lie, aku ....”
“Udah, jangan bicara itu lagi. Ayo sarapan!”
“Lebih baik aku pulang,” Nick menjumput jaket yang tersampir di sandaran sofa.
Lama-lama di sini, aku bisa hamili anak orang.
Nick hentikan langkahnya, menoleh pada Lie. “Apa?”
“Mamfaatkan aku!” ujar Lie.
“Hah!” Nick menaikkan kepekaan telinganya. “Apa kau bilang?”
“Aku tahu sesuatu antara kau dan Isabel.”
“Lantas?” Nick membalikkan badan, pupil matanya melebar.
“Kau tak ingin nikah dengan Isabel, kan! Pacaran denganku!” Mimik Lie serius.
“Kau gila!”
“Ya, mungkin aku gila tapi kau lebih gila. Apa maksudmu, kemarin minta bantuan padaku?”
“I—i—itu karena ... aku menolongmu!” Nick mengagap asal jawab.
“Hah!” Mulut Lie menganga.
“Ya ... karena dia menuduh mu, dekati aku!” Nick kembali asal ceplos.
“Kau pintar, tapi soal gini'an, kau begini!” Lie menjungkirbalikkan ibu jarinya dari atas ke bawah.
Nick terpancing emosi. “Apa maksudmu!”
“Hai! Di mana-mana yang namanya bantu, ya bantu, bukan malah ngejeblos'in.” Lie geram.
“Sorry!” Nick sadari kesalahannya sambil menggaruk kepalanya seperti orang ****. “Aku jawabnya besok! Aku langsung pulang.”
“Nggak sarapan dulu!” teriak Lie.
Nick hanya lambaikan tangan, keluar kamar Lie. Mata Lie menatap punggung tegap Nick menjauh hingga menghilang di balik pintu. Lie menyentuh bibirnya, sudut bibir Lie melengkung membentuk senyuman. Bibir Nick masih bisa ia rasakan.
Manis ... iih apa'an, kok ngawur, sih! guman Lie.
*****
Nick rebahkan tubuhnya di atas ranjang, menatap langit-langit lalu ia pejamkan matanya, adegan ciuman itu, muncul dalam benaknya, seperti potongan film. Nick pun tersenyum, baru kali ini pangeran es tersenyum manis. Gara-gara Lie, Nick lama-lama berubah, selain tersenyum, tanpa Nick sadari kini banyak bicara.
*****
Gimana episode ini, kalian mau Nick jalan sama Lie atau Isabel?