
Perseteruan mereka tak ayal mengundang perhatian siswa lain hingga mereka berkerumun, apalagi di jam istirahat sekolah.
“Nick! Ada urusan apa, Nick dengan aku?” Lie berbalik menghadap Isabel dengan tatapan bingung.
“Jangan dekati Nick!” ancam Isabel.
“Aku nggak pernah dekati Nick. Asal kau tahu, hubunganku dengan Nick hanya teman sekelas nggak lebih. Kalau kau keberatan, kau bisa kurung dia—pake lemari kaca!” ucap Lie ketus.
“Dasar elo, ya!” Isabel melayangkan tangan untuk menampar Lie.
Lie segera pejamkan matanya. Teriakan para siswi tak terhitung berapa desibel, namun tiba-tiba hening.
Tak terjadi apa-apa? Lie mengerjapkan matanya perlahan.
Seseorang menahan tangan Isabel di udara.
“Nick!” Mimik Isabel memerah.
Nick berdiri di antara dua gadis yang sedang berseteru, jadi daya tarik tersendiri. Jarang Nick urusan ‘remeh’ begini, apalagi menyangkut cewek.
“Kau urus pacar gilamu itu! Kalau kalian bertengkar, jangan bawa-bawa aku dalam badai kalian,” ucap Lie sambil berlalu.
Kata-kata Lie membakar telinga Nick sekaligus beri kemenangan pada Isabel yang tersenyum lebar.
Tanpa Lie duga, Nick menarik tangan gadis itu hingga jatuh dalam pelukan Nick. Lie terpaku, hanya mata Lie mengerjap menatap wajah Nick dekat di depan mata, hidung keduanya hampir bersentuhan. Sepersekian detik mereka bertukar udara panas yang berhembus dari hidung masing-masing. Hingga terjadi sesuatu, tanpa mereka duga sebelumnya. Nick mencium bibir Lie di depan Isabel, tidak, di depan teman sekolah mereka. Mata Lie membelalak, kedua tangannya mendorong dada Nick, namun tangan Nick mendorong kuat pinggang dan tengkuk Lie hingga ia tak berkutik lagi.
Tanpa basa basi, mereka ambil ponsel untuk mengabadikan momen langka, ada pula yang histeris seakan tak rela Nick berciuman di depan mata mereka. Sebentar lagi pasti beredar foto-foto mereka di sosmed. Kaum hawa mengejar Nick sudah biasa, tapi ini Nick yang berulah.
Nick pun melepas tautan bibirnya dengan Lie sambil berkata lirih pada Lie. “Bantu aku, Lie!”
Lie hanya diam, tak tahu maksud perkataan Nick. Saat Nick menggenggam tangannya usai berciuman, Lie berontak, namun lagi-lagi Nick terlalu kuat untuk Lie lawan. Nick makin kencang menggenggam tangan Lie.
“Nick! Kau!” Isabel menuding wajah Nick dengan kesal.
Kemenangan di tangan tiba-tiba runtuh, dipermalukan di depan teman-temannya. Isabel memilih pergi meninggalkan keduanya sambil menangis. Ada yang simpatik pada Isabel, tak sedikit yang senang melihat primadona yang sok paling cantik di sekolah mereka menangis.
Setelah Isabel pergi, Nick mengendurkan genggaman tangannya.
“Maaf, Lie!” Lidahnya kelu, Nick tak miliki keberanian menatap mata Lie
“Maaf? Kau sungguh terlalu Nick!”
Lie pergi meninggalkan Nick sendiri. Mata Nick nanar menatap punggung Lie yang kian menjauh. Ia hanya terpangah tak tahu harus berbuat apa selain menunduk.
Lie menuju ruang UKS untuk beristirahat, kepalanya tiba-tiba pengar.
“Lie!” Enji tiba-tiba muncul.
“Kepalaku pusing,” Lie memijit keningnya yang tertutup poni.
“Karena peristiwa tadi?” tanya Enji sambil duduk di tepi ranjang.
“He'em!” Lie enggan membahas hal memalukan tadi.
“Itu karena Nick sudah capek dengan ulah Isabel!”
“Kalau tak cinta kenapa di pertahankan. Aku tak kenal Isabel, aku dengan Nick tak—.”
“Mereka bukan sepasang kekasih,” potong Enji mengejutkan Lie.
“Apa?” Lie tersentak.
“Iya—benar. Mereka tidak sedang menjalin kasih.”
“Lalu kenapa Isabel marah, kalau bukan pacar?” tanya Lie penasaran.
“Mereka dijodohkan atas nama bisnis kedua orang tua mereka.”
“Jadi ini arti ucapan dia ‘bantu aku’ tadi,” guman Lie lirih.
“Apa kau bilang?”
“Ahh tidak!” Lie mengelak.