
Nick langsung meneguk air dalam botol, hampir setengah isi botol kini telah berpindah dalam tubuh Nick. Tenggorokan Nick yang kering bagai gurun pasir seketika jadi padang rumput yang menyegarkan.
“Mari kita lanjutkan kembali!” Theo meminta perhatian anak didiknya.
“Aah ... segar!” tanpa sadar Nick bersuara.
“Eeh ... ka–kau bisa bicara!” teriak Lie sambil berdiri tanpa sadar.
“Pak, sekarang ia bisa bicara!” teriak Lie lagi.
Gerr.
Seisi kelas kembali gaduh, ada yang tertawa ada pula yang terbengong-bengong karena mendengar teriakan Lie yang terdengar konyol. Raut wajah Nick memerah menahan marah, sedang Lie terlihat kebingungan.
“Makanya jangan sok cool, jadi di anggap anak bisu,” celetuk siswa lain dengan sinis.
“Kalian berdua! Silakan keluar sampai jam pelajaran ini usai.” Theo yang terkenal galak terlanjur naik pitam karena sudah menganggu saat jam pelajarannya.
Tanpa banyak bicara Nick langsung angkat kaki keluar kelas.
Aduh malu amat ... baru juga masuk sekolah sudah begini urusannya. Apa salahku? batin Lie.
Lie mengekor Nick yang berjalan menyusuri lorong, terus naik ke sebuah tangga menuju lantai atas dan Lie terus mengikuti Nick. Ternyata bagian atas gedung sekolah adalah rooftop yang di set menjadi taman dengan beberapa gazebo berdiri di sana. Rooftop yang terbuka terasa teduh dan asri di hiasi bunga warna-warni bermekaran seperti hamparan karpet yang menyejukan mata bagi mereka yang menikmatinya. Lie berlari melewati Nick dari belakang sambil berteriak.
“Wow ...! Ternyata di atas sini asyik juga.” Teriak Lie kegirangan seakan-akan ia lupa sedang di hukum.
“Mengapa kau di sini!” bentak Nick yang merasa tidak suka dengan kehadiran Lie.
Seketika keceriaan Lie meredup mendengarkan suara bariton Nick.
”Apa ini taman milikmu?” tanya Lie dengan suara bergetar.
Nick hanya diam, melihat reaksi Nick terdiam sudah dapat di pastikan Nick tidak punya kuasa atas taman ini. Hingga memunculkan keberanian Lie.
“Kau!” Baru kali ini Nick merasa kehabisan kata-kata.
Dengan kesal Nick meninggalkan Lie, ia menuju salah satu gazebo dan duduk di sana. Ia mengeluarkan ponselnya lalu ia menggenakan earphone untuk mendengarkan musik. Setelah mendapat posisi yang nyaman, Nick langsung menyilangkan tangan di depan dadanya dan memejamkan mata.
“Aneh!” Komentar Lie melihat tingkah Nick.
Akhirnya Lie menjelajah taman di rooftop seorang diri. Sampai akhirnya Lie sampai pada pagar pembatas.
“Hm ... view yang menarik.” Sejenak Lie melupakan kekesalannya pada Nick.
Lie berdiri di tepi rooftop yang di batasi pagar setinggi dadanya. Lie bersandar pada pagar dan menyilangkan tangan di atas pagar.
Ternyata dari sini bisa melihat seluruh halaman sekolah, batin Lie.
Lie menengok ke arah gazebo di mana Nick duduk, “Kosong!”–Mata Lie mengitari rooftop–“Kemana si aneh?”
Lalu Lie menatap jam tangannya. “Waduh sudah pukul 8.30.” Lie langsung berlari secepat kilat menuruni tangga dan menyusuri lorong kelas.
“Hm ... tadi MIPA berapa, ya? Ini gara-gara si aneh.”
Lie memukul jidatnya, ia lupa dengan kelasnya. Maklum ini lingkungan baru bagi Lie. Di depan Lie ada seorang guru yang sedang berjalan searah dengannya.
Lebih baik aku bertanya padanya. Daripada aku masuk kelas satu persatu ... lebih malu lagi, batin Lie.
“Maaf, Pak! saya mau tanya?” Lie bertanya sambil membungkuk tubuhnya.
“Ya, silakan!” jawab guru.
“Kelas pak Theo MIPA berapa, Pak?” tanya Lie
“Ayo ikut saya, kebetulan mapel berikutnya saya yang mengajar. Mengapa kau tidak tahu kelas sendiri?” tanya guru tersebut.