
“Yes! Tahun ini ... aku masuk kelas MIPA 4,” kata gadis itu.
“Ya ... aku juga masuk MIPA 4,” sambung gadis yang lain
“Ahh ... kalian sungguh sangat beruntung. Aku sudah hampir 3 tahun belum pernah sekalipun ... satu kelas dengan dia,” ujar salah seorang gadis.
Itu artinya Nick ada di kelas MIPA 4, Nick memang jadi center sekolah itu. Nick sendiri tak ambil pusing, tak jadi soal ia masuk kelas MIPA berapa.
Kelas akan mulai 10 menit lagi, aula sekolah pun mulai lenggang. Sebagian dari mereka sudah membubarkan diri dan masuk kelas masing-masing.
Kelas MIPA 4 sudah ramai seperti kawanan lebah yang mendenggung karena kegaduhan para penghuni kelas. Hampir seluruh kursi di kelas itu telah terisi.
Tak lama kemudian terdengar alunan musik melalui speaker mengema keseluruhan antero sekolah sebagai tanda pelajaran akan segera di mulai. Lorong kelas pun telah sepi hanya Nick seorang yang masih melenggang santai di lorong sekolah.
Nick telah tiba di kelas MIPA 4, kelas tingkat akhir Nick menyelesaikan masa SMA nya. Ia mencari kursi yang benar-benar kosong. Ada dua pasang kursi yang kosong namun Nick lebih memilih di sudut sebelah kanan dari pada di tengah-tengah kelas.
Nick menghempaskan tas miliknya di atas meja yang ia pilih dan duduk di sana seorang diri. Tak lama kemudian Theo yang tahun ini menjadi wali kelas MIPA 4 masuk di ikuti seorang gadis tampaknya siswi baru.
Gadis tersebut memiliki postur tubuh yang mungil untuk ukuran tinggi wanita normal, ia tergolong imut. Rambut model classic pixie cut, memberi terkesan enegic dan segar. Memiliki wajah oriental, hidung mancung dengan kulit putih bersih.
“Hm ... cantik,” celetuk salah seorang siswa.
“Iya cantik ... lebih cantik dari Isabel.” komentar seorang gadis.
“Enak aja ... memang dia jodohmu!” sahut siswa yang lain.
Dan masih banyak lagi komentar-komentar yang di sampai ke telinga Nick, ia hanya melirik dari sudut matanya.
Hm ... biasa aja! batin Nick.
“Selamat pagi ... Pak!” Hampir seluruh anak menyapa Theo kecuali Nick.
Bukankah suara satu kelas sudah dominan, ia tak perlu susah payah mengeluarkan suara.
“Pagi! Hari ini kalian mendapat teman baru ... silakan perkenalkan dirimu!” Theo mempersilakan.
“Halo ... perkenalkan namaku Lievana Renata Jovanka, biasa di panggil Lie.” Lie mundur satu langkah sebagai tanda ia sudah selesai memperkenalkan diri.
“Kamu duduk! Kau bisa mencari kursi yang masih kosong,” perintah Theo.
Bola mata Lie langsung menjelajahi seluruh sudut kelas hingga akhirnya Lie menemukan apa yang ia cari. Kaki Lie mulai melangkah ke sudut sebelah kanan dan berhenti tepat di kursi di samping Nick. Tanpa ragu lagi, Lie langsung mendaratkan pantatnya di kursi tepat di samping Nick. Sebenarnya kursi di samping Nick, bukan satu-satunya kursi yang masih kosong. Namun rupanya Lie tak melihat kursi kosong di sisi yang lain.
Ada beberapa orang di kelas itu memberi kode pada Lie untuk tidak memilih duduk di samping Nick namun Lie tak melihat. Sudah bukan rahasia umum selama Nick menuntut ilmu di sekolah itu, Nick selalu duduk seorang diri. Baru kali ini kursi kosong di samping Nick ada yang menempati, dia adalah Lievana.
“Mari kita mulai hari ini dengan....” Theo langsung memberi materi di awal hari masuk sekolah. Maklum kelas akhir semua materi di kejar seperti metro mini yang kejar setoran.