COOL

COOL
Akrab



Pagi itu Nick naik ke rooftop, mata Nick menatap tajam ke arah gerbang sekolah. Saat mata Nick menangkap apa yang ia cari, ia segera menuruni tangga sekolah.


Saat berpapasan dengan Lie, Nick segera menarik tangan Lie di suatu sekolah yang sepi.


“Nick!” pekik Lie.


Nick segera membekap mulut Lie, ia mendekatkan wajahnya ke telinga Lie. Wajah Lie memerah, jantung Lie berdegup kencang saat Nick sedekat ini.


“Akan kulepas tanganku tapi kau janji untuk tidak berteriak!” bisik Nick.


Lie mengangguk cepat.


Nick melepas tangannya dari mulut Lie dengan berlahan. Lie segera mengatur napasnya kembali. Setelah melihat Lie tenang, Nick mulai bicara.


“Lie, tas kita tertukar!” kata Nick menatap Lie.


“Apa maksudmu?” Lie bingung.


“Kemarin sore saat kecelakaan, tas kita tertukar!” sahut Nick.


“Aku tak tahu. Hm ... maksudku, semalam aku langsung tidur hingga aku tak membuka tas yang aku bawa,” kata Lie.


“Aku butuh tas itu. Di mana rumahmu?” tanya Nick.


Lie mengambil secarik kertas dan menulis alamat di sana, setelah menulis ia menyerahkan pada Nick. Nick segera menyimpan kertas yang Lie beri dalam saku bajunya.


“Boleh aku pergi sekarang?” tanya Lie.


Nick mengangguk.


Lie segera bergegas pergi menuju kelas, tak lama Nick muncul dari tempat yang sama. Seolah tak terjadi apa-apa, Nick mengekor Lie menuju kelas.


---


Apa aku tak salah lihat! batin Tania.


Tania melihat kembali video di ponsel miliknya.


Benar aku tak salah lihat! batin Tania.


“Apa yang kau lihat!” kata Isabel.


Isabel telah berdiri di samping Tania.


“Bukan apa-apa!” Tania menyembunyikan ponsel miliknya.


Dengan sigap tangan Isabel menangkap tangan Tania.


“Aku lihat, Tan!” bentak Isabel.


Isabel merebut ponsel dari tangan Tania, ia membuka galeri ponsel Tania. Isabel memutar video di ponsel Tania.


“Abel, aku hanya iseng. Itu bukan apa-apa, kau jangan salah sangka!” rengek Tania.


Isabel tak peduli apa yang Tania katakan, ia serogoh saku bajunya untuk mengambil ponselnya. Isabel mengirim video dari ponsel Tania ke ponsel miliknya via bluetooth.


“Terimakasih!” kata Isabel.


Isabel mengembalikan ponsel ke tangan Tania kembali, ia berlalu dari hadapan Tania.


“A–a–apa!” kata Tania terlihat bingung.


Kaki Tania masih gemetar walau Isabel telah menjauh dari dirinya.


Syukur Abel tak marah! batin Tania.


Tania mengelus dada sambil pergi menuju kelas.


---


“Kau terluka?” tanya Enji saat melihat Lie.


Lie menggelengkan kepalanya.


“Lalu mengapa kau tak ke rumahku, jika tak terluka?” Enji nyerocos pada Lie.


“Aku pernah trauma jatuh saat belajar naik sepeda hingga kemarin perasaanku tak karuan,” kata Lie.


“O ... kau di tabrak sepeda?” tanya Enji.


“Ya!” jawab Lie tanpa bicara siapa yang nabrak dirinya.


“Syukurlah, kini kau baik-baik saja!” ucap Enji.


Nick memperhatikan Lie dari kejauhan, ada rasa mengelitik saat melihat Lie kemarin.


Apa yang membuatmu terlihat sangat shock kemarin! batin Nick.


Jam pelajaran terakhir pun telah usai, Lie segera bergegas menuju halte tampak Rendi telah duduk di sana.


“Hai, Ren!” sapa Lie.


“Hai, Lie! Duduk Lie!” Rendi bergeser untuk memberi space untuk Lie.


Tempat itu tampak sesak hingga Lie duduk merapat di samping Rendi. Keduanya berlanjut berbincang sambil menunggu bus. Lagi-lagi mata Nick melihat pemandangan itu.


Kalian tampak akrab satu sama lain, apa kalian sedang menjalin hubungan? Eits! Apa urusannya denganku! batin Nick.