
“Maaf, Pak! Saya siswi baru hingga belum mengenal lingkungan sekolah ini.”
Lie tak mengemukakan alasan di luar kelas karena hukuman, karena itu memalukan apalagi ia baru awal masuk sekolah sudah kena hukum.
Lie berjalan di belakang seorang guru muda, usianya mungkin sekitar 30 tahun keatas. Keduanya tiba di sebuah kelas.
“Ahh ... benar ini kelasnya. Terimakasih, Pak!” Lie girang sambil membungkukkan tubuhnya.
Guru tersebut membalas dengan senyum tipis tapi menawan.
Lie membalikkan tubuh menuju tempat duduknya, ia melihat Nick sudah duduk manis di sana.
Awas kau! batin Lie.
Mata Lie menatap tajam ke arah Nick sambil berjalan menuju Nick berada. Namun Nick tetaplah Nick, ia takkan tumbang semudah itu hanya karena tatapan mata saja. Dengan perasaan kesal Lie menghempaskan pantatnya di atas kursi samping Nick.
Nick pura-pura tak melihat kekesalan di raut wajah Lie yang terlihat jelas.
Baru gitu aja sudah cemberut, batin Nick.
Selama pelajaran Lie kehilangan mood, tak satupun masuk dalam otaknya.
Semua gara-gara si Aneh! batin Lie.
Saat jam istirahat, banyak siswa mendekati Lie. Mereka ingin mengenal lebih dekat siapa Lie. Namun itu semua tak membuat ia bersemangat menyelesaikan hari pertama masuk sekolah. Bagi Lie, hari pertama masuk menjadi hari kelabu.
Saat pulang sekolah Lie menumpahkan kekesalan pada Teddy bear-nya.
“Kau tahu! Apa yang kualami hari ini. Heh! Ingin rasanya kucabik-cabik dirinya!” teriak Lie kesal.
Lie selalu mencurahkan segala isi hatinya pada boneka Teddy bear-nya. Setelah menumpahkan rasa kesalnya, ia mulai merasa ringan beban di hati. Lie merebahkan diri hingga tertidur dengan seragam lengkapnya masih melekat di tubuhnya.
“Lie, ini mama!” Alycia mengetuk pintu kamar buah hatinya.
Tak ada jawaban, apa ia tertidur? batin Alycia.
Alycia membuka pintu berlahan, matanya terbelalak melihat pose tidur Lie yang amburadul.
Alycia memungguti selimut, bantal dan guling, yang terlempar di lantai.
“Lie, bangun! Sudah sore!” kata Alycia sambil menepuk lembut pantat Lie.
“Hm ... Mama! Sudah jam berapa ini?” tanya Lie.
“Sudah pukul 4 sore, ayo bangun! Mandi sana!” kata Alycia.
Dengan mengeliat, Lie terpaksa turun ranjang walau masih ingin memeluk guling di sana. Dengan menunduk Lie mengikuti perintah Alycia.
Setelah selesai mandi, Lie menghampiri Alycia di taman belakang.
“Bagaimana di sekolah barumu?” tanya Alycia.
“Bagus, Ma!” Lie menjawab tanpa pikir panjang.
Masuk di sekolah itu memang kemauan lie sendiri. Jika mengaku sekolah pilihannya jelek, bukan tipe Lie.
---
Hari kedua masuk sekolah, Lie lebih memilih tak sebangku lagi dengan Nick. Rasa kesal masih melingkupi hati Lie.
Cuma sehari aja, kau bertahan duduk di sini! batin Nick.
Senyum Nick mengembang tipis, saat melihat Lie duduk menjauh di sana.
Saat istirahat, seperti biasa Nick selalu ke markas pribadinya gazebo di rooftop. Nick merebahkan diri di sana. Belum lama merebahkan diri, Nick mendengar kegaduhan di sudut lain tak jauh dari dirinya.
Nick merasa terganggu mendengar pembicaraan mereka. Nick bergegas turun menuju kelas walau jam masuk pelajaran masih 10 menit lagi.
Saat masuk kelas dada Nick terantuk kepala seorang gadis yang sedang bergurau dengan seorang gadis yang lain.
“Heh! kalau jalan yang benar!” Sumpah serapah keluar dari mulut Lie tanpa melihat siapa yang ia maki.
“Kau yang jalan seenaknya! Salahkan orang lain!” kata Nick sengit.