
Nick mengambil tas di tangan Lie, ia memeriksa tas Lie hingga berkali-kali.
Kok enggak ada! Batin Nick
Bulir-bulir keringat mulai membasahi dahi Nick. Apa yang Nick lakukan di depan matanya, makin membuat Lie kesal. Lie merebut tas miliknya dari tangan Nick.
“Sudahlah! Aku tak permasalahkan barang itu lagi!” Lie ketus.
“Sungguh, Lie! Kemarin ada dalam tas itu.” Wajah Nick memucat.
“Jadi kemarin kau buka tasku!” kata Lie.
“Ya–iya! Aku mencari dompetmu. Hm ... maksudku, cari alamat di kartu identitasmu,” sahut Nick gugup.
“Sebaiknya kau pergi!” kata Lie lagi.
Lie mendorong tubuh Nick keluar dari rumahnya, ia segera mengunci pintu setelah Nick keluar.
“Lie! Dengarkan penjelasanku, aku laki-laki normal. Tak mungkin aku menyimpan apalagi menggunakan barang itu.”
Lie makin kesal mendengar celoteh Nick di balik pintu. Lie membuka pintu kembali, ia menarik tangan Nick ke atas menuju kamarnya yang kedap suara. Setelah tiba di kamar, Lie menghempaskan tangan Nick.
“Kau biasa tak banyak bicara! Tapi kali ini banyak kata-kata yang kau ucapkan!” Lie makin kesal.
“it–itu karena kau!” kata Nick.
“Kenapa karena aku! Bukankah aku sudah merelakan benda itu hilang!” sahut Lie.
“Tapi matamu, seolah-olah menuduhku. Aku tak memiliki kepribadian menyimpang!” kata Nick.
“Siapa yang menuduhmu? Itu hanya prasangkamu saja! Kalaupun kau menyimpang juga bukan urusanku!” Lie kesal.
“Kau!” Nick geram.
“Kenapa! Kau tersinggung!” kata Lie.
Nick terpancing emosi kata-kata Lie. Dengan sekali sergap, Lie kini berada dalam kuasa Nick. Nick mengunci Lie di atas ranjang.
“Apa yang kau lakukan!” Mata Lie terbelalak.
Mata Nick menatap tajam ke arah Lie, Lie menurunkan tatapan matanya saat bertemu mata Nick yang garang. Mata Nick menatap bibir merah Lie yang mengoda, bibir Nick mendekati bibir Lie.
Suara gemetar Lie menghentikan langkah Nick mencium Lie. Tangan Nick mulai mengendur, Lie segera beranjak dari ranjang.
“Maaf, bukan maksudku,” kata Nick.
“Sebaiknya kau pulang!” potong Lie dengan wajah merah merona.
---
Hari itu Nick langsung kembali ke rumah. Di dalam kamar, Nick menghempaskan diri di atas ranjang.
Kenapa aku ingin mencium bibir Lie? batin Nick sambil menepuk jidatnya.
Nick duduk di ranjang sambil dribel bola di tempat. Ia tertegun saat mengingat kejadian di kamar Lie. Sesaat bola basket meleset dari genggaman, bola mengelinding masuk kolong ranjang Nick. Ia meraba kolong untuk mengambil bola miliknya. Namun bukan bola yang ia dapat.
“Apa ini!” guman Nick sambil menarik sesuatu dari bawah ranjang.
Nick lemas melihat apa yang ia ambil dari sana.
“Ini–ini!”
Antara senang dan kesal, Nick melihat barang dalam genggamnya. Karena barang ini, ia merasa tertuduh. Image-nya jatuh hingga titik terendah di mata Lie.
FLASHBACK
Setibanya di kamar, ia mengeluarkan isi tas Lie di atas meja.
Dompet Lie mana? batin Nick.
Nick mencari dompet Lie, dengan harapan menemukan kartu identitas Lie. Ia buka satu persatu tiap sudut tas.
Nihil! batin Nick.
Nick akhirnya menyerah, ia terkulai tanpa semangat. Tiba-tiba pintu kamar di ketuk seseorang.
Nick terkejut hingga membentur meja, tanpa ia sadari sesuatu jatuh dari meja. Secepat kilat, Nick membereskan barang-barang Lie di atas meja.
“Den!” Seseorang muncul dari balik pintu.
“Ya!” Nick menghentikan aktivitasnya.