
“Kau!” Lie menatap Nick.
“Kenapa! Kau yang nabrak, apa kau tak pasang mata saat jalan!” Nick pun berlalu dari hadapan Lie.
“Hai!” Lie mengejar Nick.
“Sudah, Lie! Abaikan Nick!” Enji menahan Lie.
“Aku kesal, En!” teriak Lie.
“Aku tahu! Tapi kali ini kau yang salah! Memang dia kalau ngomong, kaya cabe!” Enji menenangkan Lie.
Lie hanya menghela napas panjang untuk meluapkan rasa kesalnya.
“Nanti sore jadi kerjakan tugas, kan!” Enji memastikan.
“Ya! Pukul 3 sore, aku akan ke rumahmu!” sahut Lie.
“Ok! Aku tunggu!” kata Enji.
Saat bel sekolah jam terakhir berbunyi, tanpa di komando semua siswa menyebar memenuhi halaman sekolah.
“En, aku pulang dulu!” kata Lie.
Enji melambaikan tangan, Lie menuju halte bus. Lie menunggu bus yang akan mengantarnya ke tempat tujuan.
“Hai!” sapa seorang siswa.
“Hai!” Lie sapa balik.
“Kau anak baru di kelas MIPA 4, ya!”
“Ya! Kau siapa?” tanya Lie.
“Kenalkan aku Rendi, kelas MIPA 1!” Rendi mengulurkan tangan.
“O ... aku, Lievana! Panggil aku, Lie!” Lie menyambut uluran tangan Rendi.
“Tunggu bus arah mana?” tanya Rendi.
“Ke arah barat!” jawab Lie.
“O ... kita sejalan!” kata Rendi.
“Oya! ....” Lie tersenyum.
---
Setibanya di kamar, Nick melempar tas di atas meja belajar. Nick hempaskan diri di atas sofa. Matanya terpejam sesaat, tak lama ia buka kembali kedua matanya. Di tatapnya langit-langit kamar, ia mengenyitkan alis matanya.
Hm ... apa yang kulihat di halte! Rendi bersama Lie? batin Nick.
Nick segera menegakkan tubuhnya, dahinya berkerut.
“Apa yang kudengar di rooftop, itu dia?” guman Nick.
“Itu urusan Lie? Ngga ada hubungan denganku!” kata Nick pada diri sendiri sambil mengacak rambutnya.
Nick beranjak dari sofa, ia akan bersiap ke suatu tempat. Ia persiapkan beberapa lembar kertas, tak lupa ia membawa sepatu karet dan Jersey basket ke dalam backpack warna hitam. Setiap sore ia selalu ke lapangan basket walau latihan tak intens dulu karena untuk kelas 12 tak wajib.
Dengan mengayuh sepeda, ia menuju rumah Enji. Nick hanya menunggu di luar rumah Enji, setelah Enji menemuinya. Nick menyerahkan beberapa lembar kertas pada Enji.
“Kau, enggak masuk!” Enji berkata pada Nick.
“Aku sudah kerjakan bagianku, untuk apa aku di sini!” sahut Nick.
Nick menuju halaman rumah Enji, ia segera menaiki sepeda trail miliknya. Enji mengejar Nick.
“Tapi Nick ....” Enji menghentikan kalimatnya.
Nick mengenakan earphone miliknya, tanda ia tak mau mendengar apapun dari Enji. Nick segera mengayuh sepedanya keluar halaman rumah Enji. Enji hanya bisa memandang punggung Nick yang semakin menjauh.
Kau selalu saja bertingkah seenaknya sendiri! batin Enji.
---
Lie baru saja turun bus di jalan utama, ia harus berjalan 50 meter lagi untuk sampai ke rumah Enji. Saat Lie berjalan, tiba-tiba muncul dari arah berlawanan seorang pengemudi sepeda.
Brug.
Keduanya terjatuh tepat di pertigaan jalan karena terkejut. Lie terkejut hingga jatuh terduduk di kerasnya aspal, pengemudi sepeda pun ambruk bersama sepedanya
Lagi-lagi, dia! batin Nick.
Nick segera beranjak dari aspal, namun Lie masih terdiam di sana. A-line skirt Lie terjerat sprocket sepeda Nick. Ada rasa bersalah di hati Nick melihat Lie tanpa daya terpuruk di aspal, Nick menghampiri Lie.
“Kau tak papa?” tanya Nick menatap tajam Lie.
Lie hanya menggeleng.