
Nick tak bergeming sedikitpun saat Lie duduk sampingnya, meskipun puluhan pasang mata menatapnya, Nick tak perduli. Tak sedikit yang memandang cemburu pada Lie, yang bisa duduk di samping Nick.
Kau boleh saja duduk di sini, asal kau tak mengangguku. Itu sudah lebih dari cukup! batin Nick.
Baru saja kata-kata itu terlintas di benak Nick, tiba-tiba tubuh Lie condong ke arah Nick.
“Stttt ... ini pelajaran apa?” Lie berguman pada Nick selirih mungkin agar tak menganggu Theo mengajar.
Nick tak menjawab pertanyaan Lie, ia hanya menulis sesuatu di atas kertas lalu meletakkan dihadapan Lie. Kemudian Lie membacanya, sambil mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti lalu Lie mengoreskan tinta pena pada yang sama kertas, tepat di bawah tulisan tangan Nick. Kemudian Lie meletakkan kembali dihadapan
Glek!
Nick menelan saliva seperti menelan sebalok es dan terasa amat menyakitkan tenggorokannya
Huk ... huk ... huk.
Nick langsung tersedak salivanya setelah membaca apa yang di tulis Lie.
Mata seluruh kelas tertuju pada Nick yang batuk tiada henti termasuk Theo yang langsung berhenti bicara.
“Ada apa, Lie?” Theo khawatir.
Wajah Nick seketika memerah akibat batuk yang menderanya.
“Dia tersedak, Pak!” jawab Lie.
Melihat Nick tersedak hingga batuk, secara refleks Lie mengulurkan tangan akan menepuk punggung Nick. Nick melihat apa yang akan Lie lakukan, ia segera menepis tangan Lie. Namun Lie bersikeras melakukannya karena Nick masih menderita akibat batuk hingga wajahnya kian merah. Akhirnya Nick membiarkan Lie melakukan walau dengan resiko jadi bahan perbincangan lagi. Ia sudah terbiasa diperbincangkan namun kali ini pasti berbeda karena menyangkut mahkluk yang namanya perempuan.
Pemandangan itu menjadi pemandangan yang unik karena belum tentu terjadi dalam satu tahun sekali seperti fenomena alam. Baru kali ini mereka melihat seorang gadis menyentuh punggung Nick.
Setelah batuk Nick mereda, Lie mengangkat tangannya minta perhatian Theo sambil bertanya, “Maaf, Pak! Mohon izin ... boleh aku memberi dia minum?” Lie meminta persetujuan dari Theo.
“Ya ... silakan!”–Theo berkacak pinggang sambil menggeleng-gelengkan kepalanya–“Nickho ... Nickho ... karena itu, jangan suka duduk sendiri. Sekali ada yang duduk di sampingmu, kau tersedak.”
Mereka yang mendengar kata-kata Theo hanya senyum-senyum.
Sialan ini anak! Bikin malu aku! batin Nick.
Begitu Lie mendapat persetujuan dari Theo, ia langsung membuka segel botol minuman kemasan miliknya dan memberikan pada Nick.
“Nih, kau minum!” Lie menyodorkan sebotol minuman yang telah ia buka.
Nick terdiam, ego Nick lebih besar dari rasa sakit tenggorokannya. Ia lebih baik menahan sakit daripada meneguk air dari gadis yang sudah membuatnya imagenya jatuh sekaligus malu.
“Oya ...!” Sepertinya Lie menyadari teman sebangkunya.
Selain tuna wicara, kau pasti tuna rungu yang hanya bisa membaca gerak bibir, batin Lie
Lie menyerahkan botol ke tangan Nick. Lie mencolek bahu Nick, hingga membuat Nick mau tak mau menoleh ke arah Lie. Lie mengerakkan tangan pantomim seolah-olah melakukan gerakan minum dan bibir mengucapkan kata minum.
Ini anak lama-lama bikin aku kesal, yah! Tadi anggap aku tuna wicara sekarang tuna rungu. Kalau tenggorokanku tidak sakit ... kau pasti sudah kuhabisi! batin Nick dengan hati makin dongkol.
Nick hadapi dilema, antara ego dan sakit tenggorokan.
Sudah kepalang tanggung ... tenggorokanku yang kering kian mencekik tak bisa di ajak kompromi, batin Nick.