COOL

COOL
Ini soal Nick



Dengan kesal, Nick melempar benda yang membuat image-nya jatuh di mata Lie. Malam itu Nick tak bisa tidur, ucapan Lie seolah menatap sertai tuduhan. Nick mengacak rambutnya, lampiaskan rasa kesal. Malam itu Nick benar-benar tak bisa tidur.


---


Jarum jam di pergelangan tangan Lie hampir menunjuk angka 7, tapi Lie masih di halaman sekolah segera bergegas mempercepat langkah kakinya. Dengan tergopoh, Lie langsung menuju bangku kelasnya.


“En! Enji!” teriak Lie dengan mata membelalak memanggil sobat barunya sambil menoleh ke sana kemari mencari sosoknya.


“Berisik, kau! Duduk!” Nick menarik tangan Lie agar duduk di sampingnya.


Nick seakan tak peduli saat seluruh mata teman sekelas memandang aneh, memaksa Lie duduk di sebelahnya.


“Pagi anak-anak!” ucap Theo mulai mengajar di jam pertama.


“Kalau kau tak ingin terusir lagi seperti dulu, sekarang duduk,” guman Nick sambil bergeretak.


Dengan raut terpaksa, Lie duduk berdampingan kembali dengan Nick. Ekor mata Lie melirik Nick yang duduk di sampingnya. Ekspresi Nick tampak tenang seperti biasanya.


Ngapa'in dia duduk di sampingku? batin Lie sambil mengernyitkan keningnya.


Hingga akhirnya pelajaran, Nick tetap duduk tenang tanpa menganggunya.


“Aku tinggalkan sesuatu milikmu di kolong meja. Jangan lupa kau ambil!” kata Nick sambil beranjak pergi sembari mengangkut semua buku beserta backpack-nya.


Usai Nick pergi, Lie meraba kolong mejanya. Lie menemukan goodie bag kecil, Lie melongok isi goodie bag.


Pembalut? Ini kan pembalut milikku.


Alis mata Lie mengernyit, saat menemukan memo kecil.


Sorry, ini barangmu. Ternyata jatuh di kolong ranjangku. By Nick.


“Lie!” panggil Enji yang sudah berdiri di samping meja Lie.


“Kenapa tadi kau pindah tempat duduk!”


“Nick yang maksa! Katanya ada urusan penting. Urusan apa, sich!” Enji jadi kepo melihat situasi pagi itu.


“Nggak ada urusan apa-apa.” Lie menutupi tujuan Nick duduk di sampingnya.


“Tadi bilang ada urusan?”


“Bener, nggak ada apa. Dari tadi juga dia cuma diam! Swear!” Jari lie membentuk victory.


“He'em!” Lie berdeham seraya mengandeng tangan Enji.


---


“Kau ke kantin aja dulu. Aku kelupaan mau balik'in buku ke perpus, nanti aku nyusul ke kantin. Pesan'in soto kaya biasa, ya!”


“Ok!”


Keduanya berpisah di lorong sekolah, Lie kembali ke kelas untuk mengambil buku perpustakaan yang ia pinjam.


“Hai! Sini elo!” teriak seorang siswi sambil bersandar tembok menatap pada Lie.


Lie tenggok kanan kiri.


“Hei! Gue panggil elo! Malah elo tenggok sana sini!”


“Aku!” tanya Lie sambil menunjuk wajahnya.


“Yeah, ileh! Siapa lagi. Aho amat, nih cewek! Kalau kagak ada urusan, malas ngomong sama cewek macam oneng begini.”


“Apa! Oneng! Hei, aku nggak kenal sama situ, punya urusan juga nggak. Sorry, aku nggak ada waktu, ngurus hal sepele.”


“Sepele, katamu!” ucap siswi beranjak dari sandarannya mendekati Lie.


Saat siswi itu mendekat, Lie baca nametag di dada seragam sekolahnya.


Isabel! O–ini yang namanya Isabel.


Lie baru seminggu masuk di sekolah baru, memang kepopuleran Isabel yang cantik sempat berhembus di telinga. Namun Lie bukan tipe kepo tentang sekitarnya. Paling malas yang namanya bergunjing.


“Ada urusan apa, ya! Kau mencariku, sepertinya kita tak punya urusan. Mungkin kau salah orang! Permisi!” Lie balikkan badan untuk tinggalkan Isabel.


“Ini soal Nick!” teriak Isabel.


➿➿➿


Penasaran?


Beri review donk!


Belajar hargai karya orang, baik di bilang baik, jelek ya di kritik. Jangan cuma di read doang, karena menulis itu nggak gampang, yang se7 di tunggu komen, like or vote-nya. 🙏🙏🙏