COOL

COOL
Berat



Hari hampir tengah malam, pintu kamar Lie di ketuk.


“Non! Non Lie!” Ana mengetuk pintu.


Dengan mata setengah tertutup, Lie menuju pintu sambil mengucek matanya sesekali menguap muncul dari balik pintu. “Apa, Bi? Sudah malam, aku masih ... huuuaaa.”


“Anu, Non. Di depan rumah ada yang ngedor-ngedor pintu.” jawab Ana.


“Siapa?” Mata Lie kini terbuka lebar.


“Nda tau, Non. Cuma kata mang Udin, itu teman Non.”


“Teman yang mana!” Lie turuni tangga menuju depan rumah sambil menggelung rambut panjangnya.


“Nick!” pekik Lie melihat sosok Nick yang bersandar di dinding dengan kepala menunduk.


“Nick ... Nick!” Lie menggoyang bahu Nick.


“Hai! Lie!” sahut Nick dengan wajah memerah.


“Huh! Kau habis minum!” Aroma alkohol menguar dari mulut Nick saat bicara. Lie mengibas-ngibaskan tangan di depan wajahnya.


“Hai, Nick sebaiknya kau pulang!” Lie balik badan namun Nick menarik Lie, Nick bersandar di bahu Lie tak sadarkan diri.


“Nick, bangun! Nick!” Sia-sia Lie membangunkan Nick yang sudah mabuk berat.


“Bi, tolong panggil mang Udin!” pinta Lie sambil meringis menopang berat tubuh Nick.


Tak lama Ana datang bersama Udin.


“Ada apa Non?” tanya Udin di depan Lie.


“Mang tolong, bawa teman saya ke kamar tamu!” Lie menyerahkan tubuh Nick pada Udin.


“Kan, lagi di renovasi, Non!” jawab Ana.


“Ya, bawa ke kamarku, Mang!” Lie mengekor mang Udin.


Udin memanggul tubuh Nick ke kamar Lie dan merebahkan di atas ranjang Lie.


“Makasih, Mang!” ucap Lie memandang Udin.


Udin mengangguk sambil pergi meninggalkan kamar nona mudanya, Lie menutup pintu kamarnya.


Lie menuju kamar mandi, ia basahi handuk dengan air hangat. Lie duduk di tepi ranjang sambil mengusap lembut wajah Nick, samar-samar terlihat wajah tampan Nick tertimpa sinar night lamp.


Kau tampak berbeda saat tidur.


Tanpa sadar, tangan Lie mengusap wajah hingga bibir tipis Nick hingga cowok itu, mengeliatkan tubuhnya. Lie pun meraba bibir sendiri, merasakan bibir Nick melekat di atas bibirnya. Lie tersenyum menatap tampang imut yang biasa terlihat garang dari tatapan matanya yang tajam. Lie menelungkupkan kepalanya menyamping, kini wajahnya berhadapan dengan Nick.


*****


Mata Nick mengerjap menatap langit-langit, tampak asing di mata Nick. Dadanya terasa berat sebelah tertindih. Mata Nick berkedip cepat.


Lie? Ada apa semalam hingga aku tidur di sini bersama Lie? batin Nick.


Lie masih terlelap di dada Nick, mata Nick memandang wajah Lie.


Tenyata kau manis juga, imut! batin Nick.


Nick merogoh sakunya untuk mengambil ponsel, ia memfoto wajah Lie. Beberapa foto Nick ambil, senyum manis tersemat di wajah Nick melihat hasil jepretannya, ia tampak


Not bad! Walau memfoto dengan satu tangan.


Tiba-tiba Lie mengeliat, hingga mata keduanya saling beradu. Sepersekian detik keduanya saling pandang, matanya berkedip cepat, menyadari keduanya teramat sangat dekat.


“Maaf!” kata keduanya hampir bersamaan saling menjauhkan diri.


“Ahh!” Nick merintih. Dada kirinya kebas tertindih kepala Lie semalaman.


Lie kembali mendekat. “Kau terluka?”


Nick menggeleng, Nick kembali kebiasaan lamanya. Tak banyak bicara.


“Kenapa merintih jika tak terluka! Dasar bodoh,” guman Lie.


“Apa! Bodoh, kau bilang!” Nick meninggikan suaranya. “dadaku sakit karena menopang badanmu yang berat!”


“Berat katamu? Berat! Huh!” Bibir Lie mencibir.


Bagi kaum hawa, paling pantang di bilang badannya berat. Lie tersinggung di bilang badannya berat namun Nick tampaknya tak menyadari.


“Iya, kepalamu bersandar di dadaku semalaman, hingga mati rasa!” Nick menunjuk dadanya.


“Siapa suruh kau kemari! Ngapa'in malam-malam datang ke rumah orang, bikin susah aja!” Mata Lie mengintimidasi Nick.


“A—aku ....” Nick menggantung kalimatnya.