
Nick tak bisa mengangkat sepedanya karena a-line skirt Lie tersangkut di sana. Nick meletakkan tas miliknya, ia berusaha melepas a-line skirt Lie yang tersangkut. Nick menarik paksa rok Lie dari sana.
Bret.
A-line skirt warna merah tua Lie, robek tercabik. Lie pun segera bangkit dengan kondisi rok Lie robek tak beraturan.
Seperti tak terjadi apa-apa, Nick mengangkat sepedanya dan memungut backpack miliknya. Saat Nick melihat wajah Lie memucat, ia mengambil botol minum dari holder sepedanya. Nick membuka kemasan botol miliknya untuk Lie.
“Kau minumlah!” Nick menyerahkan botol minum.
Lie menerima botol minum dari Nick, ia segera meminumnya.
“Apa kau baik-baik saja?” tanya Nick.
“Ya!” jawab Lie singkat dengan suara masih gemetar.
Sudut mata Nick melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
Aku terlambat! batin Nick.
Nick memperhatikan Lie dengan seksama, terlihat baik-baik saja.
Nick berkata, “Ok! Aku pergi!”
Tanpa menunggu jawaban Lie, Nick segera mengayuh sepedanya kembali menuju jalan utama. Lie tak banyak bicara, ia masih terkejut. Lie memiliki trauma masa kecil, saat belajar naik sepeda ia terluka parah pada lututnya. Masa itu masih menghantui hingga Lie dewasa. Lie memungut backpacknya, ia memutuskan kembali ke rumah.
---
Klik.
Ponsel Enji masuk notifikasi chat.
Dari Lie! batin Enji.
Lie:“Sorry, En! Aku tak bisa datang, aku kecelakaan.”
“Apa! Kecelakaan!” teriak Enji.
Enji segera menelepon Lie. “Kenapa off!”
Enji jadi gelisah sendiri, kerja kelompok sore itu berakhir kacau.
---
“Kau datang terlambat, Nick!” sapa Victor sparing basket Nick.
Nick hanya mengangguk.
Nick segera menuju ruang ganti, ia membuka tas untuk mengambil Jersey basketnya.
Apa ini! batin Nick
Mata Nick membelalak menatap benda di tangannya. Wajahnya merah merona saat melihat benda itu berada di tangannya.
Nick memeriksa isi tas yang ia bawa.
Ini milik Lie! batin Nick.
Nick keluar dari ruang ganti kembali, ia keluar gedung latihan.
“Nick! Kok, belum ganti jersey? tanya Viktor.
“Sorry, a–a–aku tiba-tiba ada urusan!” jawab Nick gugup.
“Kau sakit?” tanya Viktor lagi.
“Ti–tidak, aku baik-baik saja! Vik, aku pulang!” Nick segera menjauhi Victor agar tak bertanya macam-macam.
“Aneh! Wajahnya merah dan gugup. Ada apa, ya! Apa mungkin? Ahh tak mungkin pangeran es jatuh cinta!” kata Victor pada diri sendiri.
---
Aku harus kembalikan tas ini kemana? Tanya Enji, tak mungkin! batin Nick.
Nick kini merasakan akibat sifat cueknya. Mau bertanya pada Enji, ia pun gengsi. Akhirnya ia bawa tas Lie pulang. Setibanya di kamar, ia mengeluarkan isi tas Lie di atas meja.
Dompet Lie mana? batin Nick.
Nick mencari dompet Lie, dengan harapan menemukan kartu identitas Lie. Ia buka satu persatu tiap sudut tas.
Nihil! batin Nick.
Nick akhirnya menyerah, ia terkulai tanpa semangat. Tiba-tiba pintu kamar di ketuk seseorang.
Secepat kilat, Nick membereskan barang-barang Lie di atas meja.
“Den!” Seseorang muncul dari balik pintu.
“Ya!” Nick menghentikan aktivitasnya.
“Makan, Den!” ajak Isah pembantu rumah Nick.
“Iya, Bi!” sahut Nick.
Nick menghela napas, saat Isah berlalu. Nick tepat waktu membereskan barang berbau girly dari atas meja.
---
Lie terduduk di depan meja belajar, wajahnya masih memucat. Ia merangkak naik ranjang dan merebahkan diri di sana hingga pagi menjelang.
“Lie, bangun! Kau sakit?” Alycia memegang dahi putrinya.
“Enggak, Ma! Lie baik-baik saja!” Lie menuju kamar mandi untuk bersiap ke sekolah.