Buntara Rindu

Buntara Rindu
Bagian 9



Rindu berjalan pulang ke kos-an dengan perasaan tidak karuan. Hatinya terus memikirkan Reyhan. Mungkin saat ini pria itu sudah duduk di dalam pesawat menuju kota Atlas—kota kelahiran Rindu.


Gadis itu membuka kamar kosnya dengan perasaan yang tak menentu. Ingin sekali rasanya dia ingin menyusul Reyhan ke Semarang sekadar untuk memastikan Kiai Ma'ruf baik-baik saja. Tapi itu tidaklah mungkin. Rindu bukanlah siapa-siapa bagi Reyhan. Dia adalah santri yang dianggap keluarga.


Rindu memejamkan mata, ingin beristirahat sebentar melupakan kegundahan hatinya yang sepi dan lara. Dia menyetel alarm di telepon pintarnya jam enam petang, dan berharap sebelum itu dia bisa mendengar azan magrib.


o0o


"Maksud lu apa, Ros? Lu nyamperin Rindu?"


Terpaksa Saka menghampiri Rosi di sebuah cafe langganannya di dekat kampus. Karena Saka tahu jika sebagian besar mahasiswa sering nongkrong di sana untuk melepas penat seharian kuliah.


"Sak... Sabar!" Dika menghentikan Saka yang sudah tersulut emosi karena ulah Rosi yang sudah berani menginvasi ranah pribadinya. "Liat lu dilihatin anak-anak. Apalagi cafe ini kan kompetitor cafe milik lu!"


"Gue nggak peduli, Dik! Gue cuma mau minta kejelasan sama ini cewek!" ucap Saka dengan mata nyalang ke arah Rosi.


"Gue nggak ada maksud apa-apa, Sak. Gue cuma mau ngejelasin kalau elu itu milik gue!" sembur wanita cantik itu. Tentunya pertikaian mereka dilihat oleh puluhan pasang mata yang ada di dalam cafe itu.


"Gue milik elu? Sejak kapan? Emang gue barang!" dengus Saka. "Gue nggak suka lu ganggu Rindu, dia itu gadis baik-baik!"


"Sejak elu nidurin gue!" Semua orang terhenyak saat mendengar pengakuan Rosi. Sementara Saka hanya menarik pinggir bibir kanannya ke samping.


"Tidur? Oh... Lu masih Mempermasalahin waktu itu? Lu jebak gue! Ros... Lu banyak banget tidur sama cowok-cowok kampus sini. Tapi kenapa elu cuma mempermasalahin gue! Seolah hanya gue yang pernah tidur sama elu!" Emosi Saka sudah di ubun-ubun. "Dan gue tahu, elu juga pernah tidur sama Dika!"


Dika dan Rosi terhenyak. Dari mana Saka tahu jika Dika pun sudah pernah menikmati tubuh Rosi yang luar biasa aduhai itu.


"Sak... lu...." Dika hanya bisa diam, sementara Rosi menunduk malu.


"Sekarang jangan pernah lu gangguin Rindu. Dia nggak tahu apa-apa. Asal lu tahu, gue mau nikahin dia!"


Semua orang semakin tercengang dengan pengakuan Saka. Playboy kampus yang berkata ingin menikahi gadis yang baru saja ia kenal, pemuda tampan dan kaya yang bisa mendapatkan lebih dari Rindu. Tentu saja mereka beranggapan jika Rosi lebih serasi dengan Saka yang notabennya adalah badboy.


"Sak... Lu gila?" Dika menepuk pundak sahabatnya.


"Ya, gue gila kalau sampai Rindu dilamar duluan sama orang!" dengus Saka, berbalik dan pergi. Saka meninggalkan Rosi yang berdiri sembari menangis karena malu.


o0o


Dering benda layar sentuh itu mengagetkan Rindu. Gadis mengerjapkan netra, melirik ke layar telepon pintar yang dia letakkan di samping tubuhnya. Nama Reyhan pemuda yang menguasai hatinya terlihat jelas di layar. Membuat Rindu cepat-cepat mengangkat panggilannya.


"Assalamualaikum, Nduk," ucap Reyhan dari balik sambungan teleponnya.


"Waalaikumussalam, Gus." Rindu menarik napas dalam-dalam seolah siap mendengar ucapan Reyhan.


"Aku udah sampai semarang."


"Alhamdulillah, lalu gimana keadaan Kiai?"


"Abah baik-baik, Rin." Suara Reyhan terdengar parau seolah dia baru saja menangis.


"Gus... Njenengan ndak papa to?"


"Ta... tapi, Gus. Kita...."


"Rin... Sesok aku mau lamar Adiba. Aku nggak bisa! Aku seneng kamu, aku cinta kamu, aku nggak bisa nikahi wong wedhok liyo selain kamu." Reyhan begitu emosional. Sementara Rindu sendiri menahan air matanya yang akan keluar dari sela-sela netranya. "Aku mau nikah sama Adiba, Rin."


Seketika tubuh Rindu melemas, ingin rasanya dia berteriak sekuat tenaga, dia tidak bisa membayangkan ini akan terjadi pada dirinya. Reyhan pria yang sudah lama dia sukai dalam diam, kini akan menjadi milik orang lain.


"Rin... Kok kamu diem aja? Aku cinta sama kamu, Rin. Aku nggak bisa nikah sama Adiba."


Rindu menarik napas dalam-dalam, walau getir dia mencoba menenangkan pria itu.


"Gus... Tenang! Mungkin Gus Reyhan saat ini tidak mau, tapi cinta itu datangnya karena terbiasa, Gus. Rindu yakin, Gus Reyhan suatu saat akan mencintai Mbak Adiba. Beliau cantik, pintar, solehah. Sangat cocok sama Gus Reyhan." Rindu tidak kuasa menahan air matanya, terdengar sekali bida dirasakan Reyhan, jika Rindu juga sama hancurnya dengan dirinya.


"Rin... Kamu apa nggak seneng karo aku?"


Gadis itu terdiam dengan terisak, dia menangis sembari menahan suaranya, tak bisa dibayangkan bagaimana sakitnya hati yang Rindu alami.


"Rin...." Reyhan kembali memanggil Rindu.


Tidak tahan dan Rindu memilih mematikan sambungan telepon antara dirinya dan Reyhan. Gadis itu me-non aktifkan ponselnya agar anak Kiai itu tidak bisa Menghubunginya lagi.


o0o


Sejak semalam Saka menunggu Rindu, berharap gadis itu keluar dari kos seperti kemarin untuk mencari makan. Namun, dia sama sekali tidak keluar, padahal Saka sudah ingin menjelaskan perihal Rosi padanya. Hingga pagi menjelang, Saka menunggu Rindu di depan gerbang kontrakannya, karena biasanya gadis itu menjajakan jajan pasar secara berkeliling. Nihil Rindu sama sekali tidak menunjukan batang hidungnya.


Tentu saja Saka sangat khawatir, karena tidak biasanya gadis itu seperti ini. Saka memutuskan untuk menunggu Rindu di depan kosnya siapa tahu dia akan berangkat kuliah pagi ini.


Sementara Rindu sudah bangun sejak tadi pagi, solat subuh dan kembali tidur, wajahnya bengap, matanya bengkak karena semalaman menangisi Reyhan.


Ia melirik jam di dinding sebelah kanan, waktu telah menunjukan pukul delapan pagi. Meski hari ini dia sangat hancur, tapi dirinya tidak boleh menghentikan aktifitas belajarnya. Terpaksa dengan langkah gontai Rindu masuk kamar mandi dan membersihkan diri. Kemudian ia memakai gamis warna biru tua, dipadu pasmina abu-abu muda yang sengaja ia tata hingga menutupi dadanya. Rindu membiarkan begitu saja wajahnya yang sembab, tanpa make up seperti gadis-gadis lain yang ingin selalu tampil modis ketika berangkat kuliah.


Gadis itu berjalan keluar, tanpa ia sangka Rindu melihat Saka di depan mobilnya berdiri seperti menunggu seseorang.


"Mas Saka?" sapa Rindu.


Mendengar suara wanita yang paling ingin ia temui, Saka langsung mendongakkan kepala.


"Mas nunggu temen?" tanya Rindu lagi.


Saka menggelengkan kepala. "Aku nunggu kamu, Rin." Melihat wajah Rindu yang sembab membuat Saka khawatir. "Rin... Kamu sakit? Aku antar ke dokter, ya?"


"Ndak, Mas. Aku baik-baik saja."


"Tapi wajah kamu pucat banget, matamu bengkak. Kamu habis nangis, ya? Kenapa? Coba cerita sama aku!"


"Aku baik-baik saja, Mas."


"Kalau begitu, Rin. Please... Izinkan aku anterin kamu ke kampus. Aku janji nggak akan kurang ajar, aku janji nggak akan macem-macem sama kamu. Kamu percaya aku to, Rin?"