Buntara Rindu

Buntara Rindu
Bagian 5



Ponsel Reyhan berdering, pria itu merogoh saku celananya, mengambil gawai yang sejak tadi ia kantongi. Reyhan melihat nama abahnya yang sejak kemarin memintanya untuk segera pulang ke Semarang.


"Njih, Bah. Iya nanti Reyhan pulang. Tapi ya, ndak dalam waktu dekat ini, Bah. Reyhan masih banyak perkerjaan," jelas Reyhan pada abahnya dari balik telepon.


"Tapi ojo suwe-suwe. Ini jodohmu juga nggak mungkin lama nunggu kamu, dia udah lulus kuliah, baru pulang dari Malang semalam."


"Iya, Bah. Reyhan mengerti. Sampun rumiyin, njih, Bah. Reyhan mau masuk kelas." Reyhan menutup panggilan Kiai Ma'ruf.


Kedua orang tuanya tetap bersikukuh ingin menjodohkan Reyhan dengan anak sahabat abahnya yang berasal dari Demak. Gadis itu lulusan terbaik di Kampusnya. Dia solehah, dan tentunya siap menikah. Namun, Reyhan sama sekali tidak menginginkan gadis itu. Dalam hatinya telah terpatri nama Rindu sejak dulu. Dia ingin meminang Rindu, tapi tentu semua itu akan sulit terwujud, Rindu bukan berasal dari darah biru, meski perangainya menunjukan dia adalah gadis berkelas dari Jawa. Apalagi keluarganya yang berantakan, membuat Abah dan Uminya tidak perlu pertimbangan lagi, pasti akan menolak gadis itu mentah-mentah, meski Rindu salah satu Santri kesayangan Nyai Ima, umi-nya Reyhan karena Nyai Ima hanya memiliki tiga orang putra tanpa ada anak perempuan yang menghiasi hari-hari Nyai Ima. Saat melihat Rindu wanita paruh baya itu mulai suka dengan gadis itu. Apalagi background gadis itu yang tidak pernah disayangi orang tuanya.


o0o


Rindu berjalan menuju lapangan seorang diri, Jilbab putih dan rok hitam dan kemeja dengan warna senada dengan hijabnya.


Hari ini jakarta lumayan panas, padahal pagi tadi matahari tidak menunjukan eksistensinya, hingga cahayanya dikalahkan awan mendung dan buliran hujan gerimis.


Reyhan yang juga ikut mengawasi jalannya ospek, tampak terus memerhatikan gadis itu. Saat Rindu lewat tepat di depannya, barulah lelaki itu memanggilnya.


"Nduk... Sini sek!"


"Njih, Gus. Ada apa?"


"Nih... Jus jeruk. Kayae kamu kehausan." Reyhan menyodorkan minuman kemasan botol yang sempat ia beli di mini market tadi.


"Makasih, Gus." Setelah mengucapkan terima kasih, Rindu langsung berjalan menuju barisan dengan masih menggenggam jus jeruk yang tadi diberikan Reyhan.


Jantungnya berdetak dua kali lebih cepat. Hanya satu lelaki yang bisa membuat seorang Rindu jadi seperti ini, mengenal pria itu sejak dari SMP membuat Rindu merasa aman jika bersama pria itu, meski keduanya jarang berdekatan, hanya saat mengaji atau hafalan saja, karena ketika Reyhan tidak sedang kuliah, dialah yang membantu Kiai Ma'ruf dan Nyai Ima, hanya untuk sekadar mengawasi hafalan para santri.


Dari jauh tanpa mereka sadari Saka memerhatikan keduanya. Entah mengapa ada rasa teriris yang seolah tercipta begitu saja kala melihat senyuman Rindu yang tercipta untuk pria lain.


Saka memilih pergi, untuk menghindari kesakitan yang lebih dalam.


Pria itu mencari keberadaan dua sahabatnya yang sudah berada di kantin Fakultas mereka.


"Dari mana aja lo?" tanya Oki, menyesap batang rokok yang ia jepit di sela-sela jarinya. Saka duduk dengan wajah yang kusut, terlihat sekali bagaimana pria itu memandang dua sahabatnya.


"Rasanya naksir seseorang itu kaya gini, ya?" Kompak dua pemuda yang duduk di hadapan Saka langsung saling menoleh.


Sengaja Dika menempelkan punggung tangannya ke kening Saka, membuat pria itu langsung menepis dengan kasar tangan sahabatnya.


"Ah... Nggak panas?" Dika melirik ke arah Oki yang juga sedang kebingungan melihat tingkah saka.


"Lu nggak lewat di kamar mandi angker Fakultas kedokteran, kan?" seloroh Oki.


"Mang kenapa?" timpal Dika.


"Ya, kali aja ni anak kesambet kuntilanak penunggu kamar mandi itu," sahut Oki, dengan cekikikan mengejek Saka


"Rese lu pada! Gue ini serius!" dengus Saka, merogoh bungkus rokok di saku celananya, kemudian memantik api dan membakar batang rokok itu, untuk disesap.


"Lu serius?" Oki langsung menatap wajah oriental Saka yang terlihat sedang galau tidak karuan.


"Ya, aku lihat dia sama cowok lain. Nggak tau napa, hatiku sakit."


"Jiah... Kaya ABG lu!" cibir Oki diikuti gelak tawa dari Dika yang terlihat tertawa lepas.


"Mang lu pada nggak asik diajak curhat!" desis Saka kesal.


"Lu kira kita Mama Dede yang siap denger cerita elu dari hati ke hati?" protes Oki.


"Emang siapa yang lu taksir?" Dika mulai penasaran. Dia tahu betul jika Saka tidak pernah main hati ketika mendekati gadis-gadis. Bahkan meski sampai pacaran sekalipun, Saka hanya menganggap mereka semua sekadar penghibur dikala ia sedang bosan. "Jangan bilang cewek kerudung putih itu?" tanya Dika lagi, penuh selidik.


"Dahlah... gue mau balik aja!" Saka berdiri dari kursi dan siap meninggalkan Oki dan Dika dari tempatnya.


"Eh... Oppa! Jangan tinggalin kita!" Dika ikut beranjak mengikuti Saka yang mulai berjalan menjauh.


"Ye... Gue cuma ngikutin adik tingkat yang suka manggil elu Oppa. Lagian mereka itu nggak jelas banget, muka spek artis korea di panggil oppa-oppa, padahal elu belum beruban!" seloroh Dika.


"Emang bego!" Oki mendorong kepala Dika. "Oppa itu sebutan Mas untuk pria korea."


Saka membiarkan kedua sahabatnya yang sedang adu mulut, begitulah Oki dan Dika, mereka jarang sekali akur, dan akan bertengkar hanya untuk masalah kecil dan bahkan sepele.


o0o


"Lu pacaran sama dosen ganteng itu, ya?" tanya Raya sembari merobek roti sobek yang dia ambil dari dalam tas dan kemudian memakannya perlahan.


"Nggak... Cuma deket aja," jawab Rindu tersenyum malu. "Eh... Aku ada sisa dagangan jajan pasar, kalian mau?"


"Mana?" Sofia tampak antusias ketika Rindu mengeluarkan jajanan yang berisi lemper, arem-arem, dan lumpia dari dalam tasnya.


"Tapi kalian cocok tau, Rin. Lu cantik sopan, Dosen itu ganteng, dan kayanya dia juga suka lu. Tadi gue liat dia kaya merhatiin lu terus, sampai mau meleleh gue." Raya kembali berucap.


Rindu tersenyum tipis. "Kalau pun aku suka Gus Reyhan ataupun sebaliknya, kita juga nggak akan berjodoh." Ada kesedihan di setiap kata yang Rindu torehkan.


"Hah... Kenape?" timpal Sofia.


"Kata Umi-nya Gus Reyhan, beliau sudah dijodohkan sama wanita lain." Rindu menundukkan kepala menyembunyikan kesedihannya.


"Buset... Jaman modern ini! Masih ada aja jodoh-jodohan." Raya tampak sewot.


"Dijodohkan itu hal lumrah di kalangan santri apalagi Gus Reyhan itu penerus Pondok Pesantren Abahnya. Pasti orang tuanya ingin beliau berjodoh dengan wanita yang sepadan."


"Yah... Sad ending sebelum dimulai kisah elu, Rin."


"Ah... Nggak papa, jodoh di tangan Tuhan, bukan?"


"Nah... tu. Lu harus optimis, Rin," jawab Sofia ketiganya tertawa dengan gaya mereka masing-masing.


Kata orang memang begitu, cinta dalam diam itu memang sangat menyakitkan. Apalagi harus mengiklankan, itu adalah sebuah perasaan yang menyiksa.


o0o


Rindu berjalan pulang, kali ini Reyhan tidak mengantarkannya pulang ke kos, lagi pula kos-an Rindu tidak jauh dari area kampus. Matahari sudah hampir tergelincir, seolah didorong oleh bulan, yang siap menampilkan cahaya terbaiknya.


"Mbak Rindu." Suara tak asing mengagetkan gadis itu. Rindu langsung menoleh, melihat Saka tengah berlari di sore hari.


"Mas Saka? Olah raga, Mas?" tanya Rindu dengan senyum yang selalu membuat jantung Saka berdegup dua kali lebih cepat.


"Iya, Mbak. Biar sehat," jawabnya cengengesan.


"Mbak...."


"Ya?"


"Boleh tanya, nggak. Tapi agak pribadi, sih. Jika berkenan."


"Ada apa, Mas?" tanya Rindu penasaran.


"Dosen yang namanya Reyhan itu, pacar kamu?"


Rindu menghentikan langkahnya saat Saka bertanya tentang Reyhan. Karena dia yakin hanya menceritakan tentang pria itu pada dua temannya yang ia yakini tidak kenal dengan Saka.


"Memang kenapa, Mas?"


"Kayanya kalian deket. " Saka menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena merasa canggung.


"Oh... Nggak kok, Mas. Beliau itu anak Kiai yang dulu aku pernah mondok di Pondok Pesantren."


"Oh...." jawab Saka. Hampir saja jantungnya meledak karena bahagia setelah mendengar pengakuan rindu. Kini dia telah mendapat kejelasan tentang hubungan antara Rindu dan dosennya itu.