Buntara Rindu

Buntara Rindu
Bagian 14



Rindu terdiam sesaat kala mendengar ucapan Saka. Ia tidak menyangka jika pria di hadapannya ini begitu serius ingin meminang dirinya.


“Mas yakin?”


“Ya, aku tidak pernah berbohong atau bahkan menarik ucapanku. Terlebih itu tentang kamu," jawab Saka tanpa ragu.


Mantap pria itu turun dari mobil, matanya menyaksikan Rindu yang kepayahan membawa tas yang mungkin saja berisi baju-bajunya. Tanpa kata ia merapas dan membawakannya.


”Wong ayu nggak boleh bawa yang berat-berat, “kelakarnya, tanpa memberi kesempatan Rindu menolak kebaikannya.


Rindu pasrah, dan berjalan menuju pagar hitam rumah kakek neneknya yang tampak sepi seperti biasanya.


”Assalam'alaikum.“ Suara salam dari Rindu langsung membuat salah satu dari penghuni rumah itu membuka pintu. Terlihat wanita tua keluar menjawab salam dari sang gadis, dan tampak sedikit terkejut melihat kedatangan sang cucu. Ia pun juga bingung dengan keikut sertaan Saka dengan Rindu, ia memandangi mereka secara bergantian sepersekian detik, kemudian memeluk sang cucu.


”Kamu pulang kok ndak bilang?“ ucapnya, sembari melepaskan pelukan cucunya itu.


”Mendadak, Mbah. Karena diminta datang ke acara nikahan gus Reyhan,“ jawab Rindu menutupi kesedihannya.


”Terus ini siapa?“ Si mbah tampak kembali menatap Saka dari atas hingga bawah, memindai lelaki itu dengan matanya yang telah renta.


Belum sempat Rindu menarik napas dan siap untuk membuka suara. Saka sudah memperkenalkan diri lebih dulu. Pria itu meraih tangan wanita tua itu lalu mengecupnya layaknya anak pada orang tuanya.


”Saya Saka, kakak tingkat Rindu di kampus, Mbah. Kedatangan saya ke mari untuk melamar Rindu,“ ucapnya. Tentu saja si Mbah putri langsung membelalakkan mata tak percaya. Lalu menatap Rindu dengan wajah penuh tanya.


Rindu hanya bisa menunduk tidak menjawab pertanyaan si mbahnya seolah mengamini apa yang dikatakan Saka baru saja.


”Ini bener, Nduk?“ Seolah ingin meyakinkan dirinya, ia kembali bertanya.


”Njih, Mbah. Sak estu,“ jawab Saka tegas, menggantikan Rindu, karena gadis itu seperti tidak ingin menjawab pertanyaan neneknya.


”Oh... Silakan masuk, Nak. Maaf rumah Rindu kecil.“ wanita paruh baya itu mempersilakan Saka masuk, dan memintanya duduk di ruang tamu rumahnya. ”Mbah kung... Mbah... Cucumu pulang!“ seru wanita itu memanggil sang suami yang masih ada di belakang.


Tak lama pria tua keluar dengan langkah sangat amat pelan seolah berhati-hati, sang istri pun dengan sigap membantu sang suami duduk di rumah tamu rumah mereka.


Rindu meraih tangan mbah kungnya lalu mengecup lembut punggung tangan lelaki itu, diikuti Saka yang melalukan hal yang sama.


”Ini siapa, Nduk?“ Seolah penasaran mbah kung pun memberi pertanyaan yang sama seperti istrinya tadi.


”Calon suaminya Rindu.“ Sang istri menyahut cepat, menjawab pertanyaan suaminya.


”Calon suami?“ Pria itu tampak sedikit terkejut, lalu memindai Saka yang tengah duduk di ruang tamu dari atas sampai bawah.


”Njih, kedatangan saya kemari untuk melamar Rindu secara pribadi sebelum orang tua saya secara resmi datang untuk meminang Rindu.“


Mata renta mereka saling bersirobok seolah tidak percaya. Karena selama ini mereka tidak tahu Rindu dekat dengan siapa, lelaki mana. Yang mereka tahu Rindu baru dua minggu kuliah di Jakarta, dan kini ada lelaki yang akan meminangnya.


”Bentar Mbah buatin teh dulu.“ Mbah ti hendak beranjak. Namun, Rindu mencegahnya.


Saat Rindu sudah benar-benar menghilang dari hadapan mereka, barulah si mbah kung buka suara.


”Rindu itu gadis yang malang, Nak. Kehadirannya seolah tidak pernah diinginkan kedua orang tuanya. Sampai saat ini cucu kami itu terbiasa sendiri. Bukannya kami mau nolak, hanya saja kami takut Rindu disia-siakan begitu," pungkas mbah kung menjelaskan tentang sang gadis secara singkat.


“Saya janji akan menjaga Rindu, Mbah. Saya benar-benar mencintai Rindu, kesederhanaannya membuat hati saya luluh, tidak pernah saya menemukan gadis seperti Rindu di dalam hidup saya, dan saya tidak akan melepaskan Rindu, dan akan memperjuangkan Rindu bagaimanapun caranya.”


Mereka berdua kembali saling menatap, seolah sedang melempar pertanyaan.


“Kami tidak bisa memutuskan ini, semua kami serahkan pada Rindu. Dia sudah dewasa dan soal menerima atau menolak, kami serahkan pada cucu kami.” Si mbah kung mencari jawaban teraman.


Rindu keluar membawa senampan empat cangkir yang sudah terisi teh manis untuk di sajikan pada Saka.


“Silakan diminum, Nak Saka.” Mbah ti langsung mempersilakan Saka, dan tentu saja pemuda itu menyambut dengan penuh suka cita, karena untuk pertama kalinya Saka bisa merasakan teh buatan sang pujaan hati.


Saat menyeruput teh pekat dengan aroma melati itu, Saka langsung menarik napas dalam-dalam, rasa manis yang dipadu pahitnya teh melekat sempurna di indera pengecap lelaki itu.


“Luar biasa,” gumam Saka lirih.


“Ya, Mas?” Rindu yang tidak bisa mendengar ucapan Saka tadi langsung bertanya. Dia takut jika teh buatannya tidak enak atau tidak sesuai di lidah Saka.


“Teh terenak yang pernah aku rasakan, Rin.” Pria itu meletakkan cangkir kembali ke meja. “Jadi kalau kita nikah, aku bisa rasain teh buatan kamu tiap hati.”


Rindu tersenyum malu, teh buatannya memang dianggap enak. Bahkan Kiai dan Nyai orang tua Reyhan pun menyukai teh buatan Rindu.


“Rindu itu nggak cuma bisa bikin teh enak, masakannya pun enak, Nak,” sahut Mbah Ti.


“Saya nggak salah pilih berati, ya, Mbah?” kelakar Saka, sembari tersenyum. Membuat muka Rindu memerah, sejenak dia bisa melupakan tentang Reyhan.


Suasana begitu cair, karena kehangatan pribadi saka yang cukup mampu melelehkan Rindu yang dingin dan sepi.


“Ini gimana, nduk?” Setelah puas bercengkerama bersama Saka, mbah kung merubah topik pembicaraan mereka, hingga suasana kembali serius.


Rindu bingung, tapi tak lama ia mengangguk seolah pasrah menerima Saka menjadi pendamping hidupnya—hanya agar Gus Reyhan menjauhinya kelak, agar pria itu bisa belajar mencintai istrinya dan melupakan Rindu. Gadis itu berkorban sendiri, dan akan hancur dengan sendirinya.


Mendapat respon positif, saka langsung menarik napas lega, dan kalimat hamdallah keluar dari bibirnya.


“InsyaAllah nanti malam orang tua saya ke mari.”


Mbah Kung dan Mbah Ti kembali saling menantap. “Loh... Kami belum siap-siap, Nak.”


“Tidak usah repot-repot, Mbah. Papa sama Mama saya datang cuma mau melamar saja.”


“Tapi kan mas, kita harus siap-siap.” Rindu akhirnya buka suara juga.


“Yang perlu kamu siapin itu hati kamu, yang harus siap menerima aku apa adanya.”