Buntara Rindu

Buntara Rindu
Bagian 6



Rindu merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, dirinya benar-benar lelah. Dia mendesah pelan, melepas jilbabnya hingga rambut hitam indahnya benar-benar terurai. Bayangan tentang Reyhan selalu menguasai hati rindu. Seolah nama Reyhan sudah masuk ke dalam sendi-sendi tubuh Rindu. Cintanya untuk pria itu tampaknya memang tidak sebelah tangan, hanya saja takdir mereka berbeda. Rindu bukanlah gadis yang terlahir dari trah darah biru yang mungkin saja Kiai Ma'ruf dan Nyai Ima mau menerimanya menjadi menantu. Meski mereka sangat menyayangi Rindu. Rasa kasih mereka sebatas anak, bukan untuk dijadikan menantu.


Ponsel Rindu berdering, gadis itu beranjak dari posisinya dan meraih totebag-nya untuk mengambil handphone miliknya.


"Ah ... Nyai Ima." Cepat-cepat Rindu mengangkat telepon dari wanita yang bisa dibilang lebih baik dari ibu kandungnya sendiri.


"Halo, Nduk. Assalamualaikum."


"Waalaikumussalam, Nyai." Rindu menjawab telepon Nyai Ima dengan perasaan riang.


"Sibuk, Ndak?" tanya wanita paruh baya itu dari balik sambungan telepon.


"Ndak, Nyai. Onten nopo, njih?"


"Aku ki pusing, Nduk." Begitulah kebiasaan Nyai Ima saat menelepon Rindu, karena ia merasa nyaman berkeluh kesah dengan gadis yang sudah dianggapnya anaknya sendiri. Apalagi dia sengaja menyekolahkan Rindu di Jakarta hanya karena Reyhan kini telah menjadi salah satu dosen di Universitas di mana gadis itu kuliah.


"Pusing kenapa, Nyai?"


"Iki lo, calon e Reyhan udah lulus, orangtuanya minta pengen segera dikhitbah-kan."


Rindu terdiam. Mendengar penuturan Nyai Ima membuat air matanya menguar. Jantungnya merasa panas. Dia tidak mengira jika cemburu akan sesakit ini. Seolah ada sesuatu yang menggerogoti di dalam sana.


"Oh... mbak Adiba sudah lulus, ya, Nyai?


"La iya, tapi Reyhan nggak mau pulang. Apa kamu tahu, di sana Reyhan punya pacar mungkin?"


Sambil mencoba sekuat tenaga, menutupi kesedihannya. Rindu masih menjawab dengan sopan. "Ah... ndak ada, Nyai. Rindu lihat Gus Reyhan sibuk ngajar saja."


"Oalah... Syukur Alhamdulillah nak ngono. Tak pikir Reyhan udah punya pacar po pie, sampai nggak mau cepet-cepet pulang. Eh... Nduk. Kamu bisa nggak bujuk mas-mu suruh ndang pulang ke Semarang."


"Ya, nanti tak coba, ya, Nyai."


"Iya, kan mas-mu suka manut sama kamu. Tolongin Nyai, ya, Nduk."


"Njih, Nyai."


"Kalau begitu sudah dulu, ya. Nyai mau bikin kopi buat Abah. Assalamualaikum."


"Waalaikumussalam."


Suara telepon terputus seolah menjadi nada paling menyakitkan untuk Rindu. Bagaimana bisa dia membujuk lelaki yang ia sukai, untuk menikahi wanita lain. Berpikir pun Rindu tidak mau. Tapi mau bagaimana lagi. Ini semua demi balas budinya dengan Nyai dan Kiai Ma'ruf yang luar biasa baik melebihi kedua orang tuanya.


Rindu mendesah pelan, dan kembali merebahkan tubuhnya. Ia ingin memejamkan mata, sebelum mandi setelah itu mencari makan malam.


o0o


Suara azan yang baru saja berkumandang membangunkan Rindu yang baru saja tidur ayam, gadis itu langsung menyambar handuk dari tempat jemuran dan masuk ke kamar mandi. Menyiram tubuhnya dengan air. Air dingin ini benar-benar memberi efek menyegarkan diri, apalagi untuk hati yang sedang galau.


Efek magis mandi air dingin memang-lah luar biasa, kini Rindu kembali segar. Siap mengenakan baju gamisnya, untuk mencari makan di luar. Bisa dibilang harga sekali makan di Jakarta cukup mahal, padahal ini dekat kampus. Mungkin karena UMK di sini juga tinggi, pendapatan tinggi, dan memaksa harga apa pun seolah mengikuti semuanya. Rindu sering membeli nasi goreng abang-abang di pinggir jalan. Lumayan bisa menghemat uang, dari pada harus beli makan di restoran atau cafe yang banyak terdapat di area kost-annya.


Selepas menyelesaikan Solat Magrib, Rindu berjalan keluar kamar seorang diri membuka pagar, ia mengenakan gamis bermotif floral print berwarna merah muda dan jilbab segi empat dengan warna senada dengan gamisnya.


Saat gadis itu akan melangkahkan kaki ke luar, tanpa sadar ia melihat Saka yang sudah berdiri tidak jauh dari kos Rindu. Gadis itu mengerutkan kening. Untuk apa Saka ke sini. Rindu hampir lupa, bagaimana cara kakak tingkatnya tahu tempat tinggal Rindu, karena sore tadi dia mengikutinya hingga ke depan sini.


"Mas... Nungguin siapa?" Tanpa basa-basi Rindu bertanya pada pria itu.


"Eh... Mbak Rindu, aku lupa kalau kamu juga kos di sini." Saka menunjuk ke arah sebelah rumah Rindu yang memang juga terdapat kos putri. "Aku nunggu temen, Mbak. Buat cari makan. Eh... Katanya dia sudah pergi sama pacarnya."


"Oh... Gitu, ya sudah kalau begitu, aku cari makan dulu, ya, Mas." Rindu hendak berjalan melewati Saka, dan pria itu benar-benar ingin menghentikan Rindu. Agar gadis itu tidak berjalan sendiri, karena Jakarta memang rawan kejahatan, rasa kelelakiannya menuntun dirinya ingin menjaga wanita ini.


"Mbak Mau cari makan? Boleh nggak aku bareng?"


Rindu kembali mengerutkan kening, mereka memang baru saling kenal, dan entah kenapa tiba-tiba Saka menjadi sok akrab pada dirinya. Padahal pria ini biasanya selalu bersama dengan kedua teman yang Rindu sendiri tidak tahu siapa nama mereka.


"Tapi aku mau makan nasi goreng di pinggir jalan, Mas. Memangnya Mas berkenan?" tanya Rindu sedikit canggung.


"Ya, Mbak ndak papa. Yang penting ada barengannya, dari pada sendiri," jawabnya.


Padahal biasanya Saka selalu melakukan apa pun sendiri tanpa bantuan orang lain. Tapi setelah melihat wajah Rindu dan mengenal gadis ini. Saka seolah terhipnotis dan ingin selalu bersamanya. Padahal dia belum mengenal Rindu sepenuhnya, siapa dia dan bagaimana sifatnya.


Keduanya berjalan di keremangan malam lampu perumahan daerah Grogol Jakarta. Hingga sampai di salah satu gerobak nasi goreng pinggir jalan yang hanya ditutupi terpal sebagai peneduh dan kursi plastik untuk duduk atau sekadar makan di tempat.


"Pak Nasi goreng telur nggak pedes." Rindu mulai memesan. Lalu melirik ke arah Saka. "Mas apa?"


"Nasi goreng ayam pedes."


"Pak Nasi goreng telur satu nggak pedes, dan nasi goreng ayam satu pedes. Di bungkus ya, Pak."


"Loh... Kok dibungkus? Makan sini aja mbak, sambil ngobrol-ngobrol," seloroh Saka.


Rindu tidak yakin bisa makan di pinggir jalan, dengan lelaki yang bukan mahram-nya.


"Ndak papa Mbak. Aku nggak macem-macem kok," tukas Saka meyakinkan Rindu.


"Pak... Makan sini, ya."


"Siap, Neng. Ditunggu, ya."


Rindu kemudian duduk di sebelah Saka, dengan jarak sedikit jauh, tapi cukup bisa mendengar ketika pria itu berbicara.


"Mbak selalu sendiri, ya?" Saka mulai membuka percakapan diantara mereka, dan Rindu hanya menjawab dengan anggukkan lemah. Dia tidak nyaman di sini, tapi sudah terlanjur mau bagaimana lagi. Lagi pula dia juga sering makan bersama Reyhan di kala dosennya itu tidak sibuk.


"Aku baru punya dua temen di Jakarta, Mas. Satu fakultas juga."


"Oh.. Yang dua cewek cantik selalu baris bareng kamu itu, ya?" tanyanya.


"Mas kok tahu?"


Saka gelagapan, dia keceplosan jika dirinya selalu memerhatikan Rindu di kampus, ketika Rindu mengikuti kegiatan ospek.


"Eh... Itu, aku beberapa kali liat kamu di kampus lagi bareng dua cewek."


"Oh...." Penyangkalan Saka membuat Rindu percaya, toh, tidak mungkin jika Saka sengaja mengikuti Rindu yang hanya wanita kampung yang sedang merantau ke Jakarta untuk mencari ilmu.


Untuk ukuran pria seperti Saka yang bisa dibilang tampan, pasti banyak sekali gadis-gadis yang ingin dipacari oleh pria itu.


"Mas... Aku ini adik tingkat kamu. Panggil aja nama. Nggak usah panggil pake Mbak." Rindu tersenyum.


"Oh... Iya, deh. Biar cepet akrab, kan?" Ilmu kanuragan buaya darat mulai dilancarkan oleh Saka. Ia selalu membidik wanita dengan tepat dan mendapatkan apa yang diinginkan. Namun, kali ini dengan Rindu berbeda, meski dia terlihat ramah, tapi terasa jelas jika gadis itu membangun tembok luar biasa kokoh untuk membentengi kedekatan mereka.


"Kalau aku tetep panggil Mas, ya." Rindu terkekeh. "Kan sampean lebih tua dari aku."


"Panggil yang lain juga bisa, eh...." Saka mulai cengegesan. Hal itu membuat Rindu tersipu malu.