Buntara Rindu

Buntara Rindu
Bagian 1



Kata orang tidak ada bekas anak di dunia ini, tapi bukan untukku, kala aku masih membutuhkan mereka. Bapak dan ibuku tak pernah menginginkanku. Masih sering kudengar wejangan dari Si Mbahku. "Jangan pernah membenci ibu bapakmu, jangan pernah!"


o0o


Bagi Saka, cinta adalah proses kimia yang terjadi pada sepasang anak manusia yang bertemu secara terus menerus. Bahkan lelaki itu tidak mengenal dan percaya adanya cinta pada pandangan pertama sebelum dia benar-benar mengalaminya.


"Heran gue, di kampus banyak cewek cantik tapi nggak ada gitu yang bisa buat hati gue bergetar."


Saka tengah asik memindai para adik tingkatnya yang tengah mengikuti ospek, hari ini adalah hari pertama kuliah setelah libur panjang. Biasanya ia bisa mengincar adik tingkat yang bening dan tentu saja fresh di fakultasnya.


"Elah... Lu paling suka sama cewek badas, kan?" tanya Oki sedikit mencibir ke arah sahabatnya itu.


"Nggak juga, kalau cewek begitu cuma enak diajak bobok sesaat. Tapi kalau buat istri jelas yang cantik luar dalam dong," seloroh Saka.


"Alah... Kelakuan minus, pengen dapet bini spek ibu peri. Mimpi lu ketinggian!" Dika menimpali celotehan dua sahabatnya.


"Balik cuy! Ntar malam pesta. Ulang tahun Rosi. Lu diundang, 'kan, Sak?" Oki bertanya pada Saka yang masih asyik mengawasi adik tingkatnya yang sedang mengikuti masa Orientasi, mereka serentak mengenakan atribut di luar nalar yang tidak bisa dibayangkan. Bisa dibilang mendekati mempermalukan diri sendiri.


"Ya... Kalau Saka jelas diundang dong, Ki. Lu liat, dia kan Kating paling digandrungi di fakultas kita. Jangankan di fakultas kita. Fakultas lain pun sama."


Saka memilih acuh dengan omelan dua sahabatnya yang ia anggap tidak berguna bagi hidupnya. Lagipula dia sudah berjanji pada dirinya sendiri, sebelum skripsi dan lulus, dia harus sudah memiliki tambatan hati yang tentu saja sudah siap diajak untuk serius. Padahal belum juga dia bekerja. Namun, dia yakin. Kedua orang tuanya di Semarang akan bisa menopang hidupnya dan istrinya kelak. Sebagai anak pemilik perusahaan tekstil tentu hidup mewah dan foya-foya adalah pekerjaan Saka setiap hari. Dia sengaja memilih kuliah di Jakarta hanya ingin merefresh otak, dan terbebas dari belenggu orang tua yang selalu ingin mengatur hidupnya.


Bisa dibilang ketiganya memang sangatlah dekat sejak pertama kali masuk ke Universitas ini. Mahar Dika Pangestu yang berasal dari Surabaya, dialah yang paling tidak bisa diam, paling playboy dari mereka bertiga, dan Oki Alexander yang berasal dari Sulawesi Selatan. Meski namanya sama seperti artis lawas, tapi wajahnya sangat berbanding terbalik dengan pelakon tampan itu.


"Gaslah... Ntar malam kita cabut ke ulang tahun Rosi." Saka memilih berjalan menjauh dari tempatnya duduk sejak tadi. Dia menuju tempat parkir, di mana mobil Pajero berpelat H miliknya bersemayam di sana.


Saka dan ketiga temannya memang sengaja ke kampus untuk mencari mangsa adik tingkat yang bisa mereka kencani. Bukan karena mereka sudah kehilangan pamor dan tidak bisa mencari wanita lagi. Namun, menurut mereka kecantikan adik tingkat yang baru saja lulus dari SMA adalah paling alami yang belum terpoles dengan pengaruh hedonisme gemerlap kota Jakarta yang selalu menyimpan sejuta pesona, dan gemerlap kemewahan.


Saka mulai menstater mobilnya, dan mulai berjalan pelan menuju ke gerbang kampusnya. Tanpa Saka tahu tiba-tiba ia menabrak sesuatu hingga menciptakan benturan yang lumayan kencang. Saka mengerem mobilnya secara mendadak.


"Apaan tuh, Sak?" Oki memekik, kemudian secara impulsif mereka keluar dari mobil pajero putih milik Saka.


Tentu saja kejadian itu disaksikan puluhan pasang mata yang berada di sekitar mereka.


Saka terkejut mendapati seorang gadis berkerudung putih dengan kostum khas mahasiswa baru yang tengah mengikuti masa orientasi. Beruntung mobil Saka tidak dalam kecepatan tinggi, karena baru saja keluar dari tempat parkir.


"Kamu nggak papa?" Saka hendak menyentuh gadis itu. Namun, tanpa diduga wanita itu menolak uluran tangan Saka. Seolah memproteksi diri.


"Saya ndak papa, Kak." Perlahan dia berdiri, dan mengusap kotoran yang menempel dari rok panjangnya.


"Kamu yakin?" tanyanya lagi, Saka merasa khawatir dan bertanggung jawab atas kesalahan yang dirinya perbuat.


"Iya, Kak." Gadis itu menunduk lalu pergi begitu saja setelah mengucapkan hal itu. Saka bisa melihat betul wajah ayunya di balik jilbab putih yang dia kenakan. Meski sejak tadi terlihat sekali ia sangat menjaga pandangannya dari Saka.


Saka terus memerhatikan gadis itu, hingga benar-benar menghilang ke balik tembok. Bahkan Saka tahu dia sedikit pincang akibat ulah Saka.


"Udah nggak usah dipikirin, dia udah bilang kalau dia baik-baik saja. Yo... Cabut!" Dika menimpali seolah dia tidak peduli dengan gadis itu.


Saat teman-temannya mengajaknya masuk ke mobil, Saka masih terus memerhatikan tempat di mana gadis itu menghilang di balik tembok untuk segera mengikuti masa orientasi.


Saka mulai kembali menstater mobilnya, dan kini dia sangat berhati-hati karena dia tidak mau hal yang sama terjadi lagi seperti tadi.


o0o


"Kamu yakin, Mau ke Jakarta buat kuliah, Nduk?" Seorang wanita renta yang sering di sapa Mbah Nah itu meyakinkan cucunya, yang baru saja lulus dari Madrasah Aliyah di sebuah Pondok Pesantren di Semarang, Rindu tengah asik menata baju-baju dan memasukkan ke dalam koper.


"Njih... Mbah. Lawong Rindu sudah ajuin beasiswa dan diterima, kalau nggak diambil ya, sayang, Mbah."


Mbah Nah menangkup telapak tangan cucunya. "Kamu bukan mau menghindar dari bapak ibumu to, Nduk?" Mata rentanya menatap nanar ke arah Rindu.


"Sak estu... ndak, Mbah. Rindu hanya pengen nimba ilmu saja, kebetulan dari semua Universitas yang Rindu ajuin beasiswa, cuma Universitas ini yang bisa menerima Rindu."


"Kalau begitu syukur Alhamdulillah. Jangan sampai kamu punya dendam sama ibu bapak kamu. Lagian kamu juga masih punya Mbah Kung sama Mbah Ti yang setia mendukung kamu."


Rindu tersenyum. Namun, jelas dia tidak bisa menyembunyikan kesedihannya. Bagaimana cara dia dibuang orang tuanya yang telah berpisah. Bahkan diantara mereka tidak ada yang ingin merawat Rindu sejak dia berumur sepuluh tahun. Sejak saat itu juga, mereka sepakat memasukkan Rindu ke Pondok Pesantren karena tidak ingin membesarkan anak kandung mereka, dan tentunya pasangan mereka juga tidak mau menerima anak bawaan dari keduanya.


Meski getir, perjalanan hidup Rindu yang terabaikan oleh orang-orang yang seharusnya mengayominya. Rindu tetap semangat membuktikan jika dia baik-baik saja.


"Rindu ndak sakit hati, Mbah. Rindu ikhlas kalau memang semua ini bisa membuat bapak dan ibu seneng."


Mbah Nah memeluk cucunya dengan lembut. Hanya merekalah yang Rindu punya. Kakek dan Nenek dari ibunya yang selalu ada untuk Rindu. Menjemput Rindu di kala musim liburan, dan membiayai hidupnya semasa ia berada di pondok.


"Mbah... Doain Rindu sukses, biar bisa bahagiain Mbah kung dan Mbah Ti."


"Aamiin... Mbah Kung sama Mbah Ti doain kamu yang terbaik, Nduk. Gapailah cita-citamu setinggi langit."


"Nanti di sana Rindu ngekos, Mbah. Ndak jauh dari tempat tinggal Gus Reyhan."


"Reyhan? Sopo kui?"


Rindu tersenyum ketika membicarakan anak dari Kiai di mana Rindu mondok dulu.


"Anak kiai tempat Rindu mondok dulu. Kebetulan dia juga jadi dosen di tempat Rindu kuliah, Mbah. Dan yang bantu Rindu masuk sana juga beliau."


"Alhamdulillah... Jaga dirimu baik-baik, yo."


"Iya, Mbah. Doa Mbah Kung sama Mbah Ti yang selalu menguatkan, Rindu."


"Yang penting satu, nduk. Jangan dendam sama Bapak ibumu. Meskipun mereka begitu, tanpa mereka kamu juga nggak bakalan lahir, to?" Wejangan itu yang selalu Rindu dengar, jangan pernah membenci bapak dan ibunya. Meski mereka telah menelantarkan Rindu sejak kecil.